Senin, 23 Februari 2026

Polemik Nasab Habib Ba’alwi Selesai: Terbukti Bukan Cucu Nabi Muhammad Saw

Image

12 pertanyaan pokok terputusnya nasab Ba’alwi satupun tidak ada yang mampu menjawab; Permintaan adanya ulama ahli nasab yang mensyaratkan adanya kitab sezaman sebagai sumber kesahihan nasab telah penulis berikan: kitab “Rasa’il Fi ‘Ilm al-Ansab” menyebutkan itu di halaman 183 dan 184; Bukti-bukti kitab sezaman -baik kitab nasab maupun kitab sejarah- yang tidak menyebut nama-nama Ba’alwi dari abad ke-5 sampai abad ke-9 Hijriah telah penulis berikan. Semuanya tidak menyebut nama-nama nasab para Habib Ba’alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. lalu apa lagi?

Mereka kembali lagi mempermasalahkan nasab cukup di itsbat dengan teori “syuhroh wal istifadoh”. Penulis telah sampaikan pendapat para ulama bahwa “syuhroh wal istifadoh” tidak dapat digunakan jika bertentangan dengan sumber-sumber sezaman. Sumber sezaman dengan nama-nama nasab Ba’alwi dari abad ke-5 sampai abad ke-9 Hijriah tidak menyebut nama-nama itu sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. Bahkan nama-nama itu sebagian hanya nama fiktif belaka. Lalu apalagi?

Kitab Syajarah al-Mubarokah kembali dipermasalahkan. Katanya bukan karya Imam Fakhruraddin al-Razi (wafat tahun 606 Hijriah). kitab itu jelas kitab Imam Fakhruraddin al-Razi. Dicatat dalam manuskrip itu bahwa ia kitab yang ditulis Imam Fakhruraddin al-Razi. Manuskripnya jelas ada. Tempatnya jelas di sebut. Nama penulis naskahnya jelas disebut. Tanggal penulisan naskahnya jelas disebut. Lalu apa lagi?

Mau mencari kitab sezaman dengan Ubaidillah di abad ke-4 Hijriah, tidak akan menemukan; Mau mencari kitab sezaman dengan Alwi dan Muhammad bin Alwi di abad ke-5 Hijriah, tidak akan menjumpai; Mau mencari kitab sezaman dengan Alwi II, Ali Khali Qosam , Muhammad “Sahib Mirbat” dan Ali ayah Fakih Muqoddam di abad ke-6 Hijriah, tidak akan terdeteksi; Mau mencari kitab sezaman dengan faqih Muqoddam, Alwi Ibnul Faqih di abad ke-7 Hijriah, tidak akan terkonfirmasi; Mau mencari kitab sezaman dengan Maula Dawilah dan Abdurrahman Assegaf di abad ke-8 Hijriah, tidak akan Nampak. Kenapa tidak akan menemukan kitab yang sezaman di semua tingkatan itu yang menyebut mereka sebagai cucu Nabi Muhammad Saw? Jawabannya hanya satu. Karena mereka memang benar-benar bukan cucu Nabi Muhammad Saw. Dengan bahasa apalagi penulis harus menyampaikan?

Jika, umpamanya, keturunan Nabi Muhammad Saw yang lain tidak ditulis dalam kitab sezaman dengan mereka antara abad ke-5 sampai abad ke-9 Hijriah, boleh lah kita menyatakan bahwa nasab Ba’alwi juga ketika tidak disebut bukan berarti tidak ada. Tetapi kenyataan menyatakan dari abad ke-5 sampai abad ke-9 Hijriah itu cucu Nabi Muhammad Saw yang lain ditulis dan disebutkan. Anak ahmad bin Isa ditulis dan disebutkan setiap generasi. Tetapi diantara cucu Nabi Muhammad yang ditulis itu tidak disebut ada yang namanya Ubaidillah dan keturunannya. Lalu berdasar apa orang harus percaya Ba’alwi sebagai cucu Nabi ketika leluhurnya tidak disebut sebagai cucu Nabi? Apakah kita harus berpura-pura mengakui dan berpura-pura menemukan? Atau apakah demi membela nasab Ba’alwi, seseorang harus berdusta dengan membuat manuskrip sezaman yang palsu? Penulis kira surga dengan segala keindahannya sangat mahal untuk ditukar dengan kedustaan untuk menyenangkan hati Ba’alwi.

Lalu ada yang mengatakan: “Ibnu Hajar di abad ke-10 Hijriah dan yang lainnya mencatat nasab Ba’alwi sampai kepada Nabi Muhammad Saw?”. Penulis jawab: Betul para ulama besar di abad ke-10 Hijriah itu mencatat. Tetapi mereka mencatat di abad ke-10 Hijriah itu, karena sudah ada pengakuan dan penulisan kitab dari Ba’alwi di abad ke-9 Hijriah yang mengaku sendiri bahwa mereka adalah cucu nabi, lalu ulama-ulama ini mengutip. Orang mengutip bisa salah. Ulama tidak ada yang maksum. Mereka bisa salah menerima informasi yang mereka dengar lalu mereka catat dengan husnudzon tanpa meneliti. Itu biasa terjadi. Dan itu tidak berdosa. Penulis sendiri dulu telah mengitsbat nasab Ba’alwi dalam kitab penulis, al-Fikroh al-Nahdiyyah. Lalu sekarang, ketika penulis tahu bahwa mereka bukan cucu Nabi, penulis menarik itsbat itu. Jika Ibnu Hajar masih hidup dan mengetahui dalil-dalil keterputusan nasab Ba’alwi, tidak mustahil Ibnu hajar akan menarik kembali pendapatnya itu. Begitu juga ulama yang lainnya.

Ulama yang sudah wafat telah menjalankan tugasnya yang mulia sesuai dengan hasil ijtihadnya. Mereka mendapatkan pahala dengan ijtihadnya itu. Mereka akan masuk ke dalam surga Allah. Zaman ini adalah zaman kita yang masih hidup. Mari kita laksanakan tugas kita sebaik-baiknya sebagai ulama, dengan mengetengahkan sumber-sumber yang lebih mudah kita dapatkan daripada zaman Ibnu hajar dan yang lainnya itu. Bagi Ba’alwi, jangan malu mengakui bahwa hasil ijtihad leluhurnya yang mengatakan mereka adalah keturunan Nabi Muhammad adalah salah. Itu bukan hal yang hina. Bahkan, leluhurnya bisa jadi akan berterimakasih kepada anda semua. Karena dengan itu kesalahan selama ini tidak akan terus berlanjut sampai hari kiamat.

Hasil uji test DNA, menurut para ahli biologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengkonfirmasi bahwa Ba’alwi yang ber-haplogroup bukan J1 itu, bukanlah keturunan Nabi Muhammad Saw, karena telah diteliti secara matang dan disimpulkan bahwa keturunan Nabi Muhammad Saw, semuanya ber-haplogroup J1.

Terakhir, penulis menyayangkan adanya beberapa upaya penghalangan dan pembatalan ceramah penulis atau yang lainnya, dari ulama yang telah yakin bahwa anda bukanlah cucu Nabi Muhammad Saw, sebagaimana penulis dan teman-teman juga tidak pernah menghalangi kegiatan ceramah anda yang mengatakan bahwa anda adalah cucu Nabi. Walaupun yang demikian itu sangat mudah kami lakukan. Penulis, orang N.U. yang diajarkan adab dan rasa malu, tidak mungkin penulis memobilisasi masa untuk menghalangi kegiatan orang lain, kecuali jika sudah membahayakan untuk agama, bangsa dan Negara. Masalah nasab itu bagi kami belum ke taraf itu, walau bisa saja mengarah ke sana. Yang penulis pinta adalah kesadaran dan kebijaksanaan, oleh karena itu yang penulis protes adalah organisasi anda, bukan kegiatan anda. Apalagi ini masa pemilu, mari kita bantu pemerintah untuk dapat menjalankan kegiatan rutinan pemilu ini dengan sukses, lancar dan aman. Jika anda masih mengakui diri anda sebagai cucu Nabi, silahkan saja, itu hak anda, tetapi tolong jangan sampai memaksa orang lain untuk mempercayainya. Percaya dan tidak percaya akan sesuatu itu adalah hak semua orang yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang di ridhoi Allah SWT. Aamiin.

Artikel terkait...

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Oleh: Tulisan ini dari hasil diskusi berempat melalui virtual, berisi menganalisis legitimasi historis dan genealogis Rabithah Alawiyah sebagai lembaga pencatat nasab klan Ba’alwi di Indonesia. Didirikan pada tahun 1928 di bawah naungan kebijakan kolonial Belanda, eksistensi lembaga ini memunculkan pertanyaan…

Alun 22 Feb 2026 23 17 menit baca
KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

Dalam diskursus nasab Ba’alwi masih ada santri bahkan kiai yang masih mendukung nasab Ba’alwi padahal mereka tidak faham sedang mendukung apa dan siapa. Sedang merendahkan apa dan siapa. Fenomena santri-santri kibin dari Sarang Rembang yang membuat video-video pembelaan itu, menunjukan…

Alun 18 Feb 2026 289 16 menit baca
Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekokohan metodologis tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani mengenai pembatalan nasab klan Ba’alwi dari perspektif epistemologi sejarah dan teori falsifikasi Karl Popper. Polemik ini muncul sebagai disrupsi besar terhadap otoritas keagamaan…

Alun 17 Feb 2026 148 49 menit baca