K.H. Imaduddin Utsman al-Bantani
Mengenal Pengasuh Pesantren Nahdlatul Ulum K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani
KH. Imaduddin Utsman Al Bantani lahir di Cempaka-Kresek, Kabupaten Tangerang, pada Ahad, 15 Agustus 1976 (19 Sya’ban 1396). Ia adalah pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum yang berlokasi di Kampung Cempaka, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Sejak Kecil ia berada di lingkungan Pesantren. Di Kampungnya ada pesantren tua yang didirikan oleh Kiai Ahsan Cempaka, kerabat dari ibundanya, Nyai Hajjah Syu’arah. Desa Kresek adalah ibu kota Kecamatan Kresek. Ia adalah sebuah desa yang kental ke-NU-annya. Sejak tahun 1936 di Kresek sudah berdiri pengurusan NU tingkat kecamatan yang dibentuk oleh K.H. Muhammad Amin, ayah K.H. Ma’ruf Amin. Pondok-pondok pesantren yang ada di sekitar Kresek di antaranya adalah Pondok Pesantren Al-Falah, Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah, Pondok Pesantren Al-Ihsan Cempaka, Pondok Pesantren Al-Syarif, Pondok Pesantren Al-Hikmah Syekh Cinding, Pondok Pesantren Subulussalam, Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Pondok Pesantren Al-Khairat, Pondok Pesantren Raden Kenyep, Pondok Pesantren Tanggul Islam, Pondok Pesantren Riyadul Jannah, Pondok Pesantren Al-Arobi, Pondok Pesantren Lataksal, Pondok Pesantren Al-Amin, Pondok Pesantren Darul Amin, Pondok Pesantren Darul Hikmah Syekh Ciliwulung, Pondok Pesantren Darul Ulum, Pondok Pesantren Griya Tahfidz Cakung, Pondok Pesantren Al-Utsmaniyah Cakung, Pondok Pesantren Daarul Mubtadiin Cakung, Pondok Pesantren Rahmatuttayyibah, Pondok Pesantren Riyadul Huda, Pondok Pesantren Izzatul Mubtadiin, Pondok Pesantren Darul Ikhlas dll.
Sejak kecil ia hidup bersama kakek dan neneknya, H. Syam’un dan Hajjah Aminah, ayahnya, Ki Sarmana bin Muhammad Arsa dan ibunya, Nyai Hajjah Syu’arah tidak panjang jodoh saat ia masih balita. Ibunya kemudian menikah dengan sepupunya K.H. Muhammad Syafi’I bin K.H. Busyro. Ayah sambung yang sekaligus kainya itu kemudian mengasuh pesantren Nahdaltul Ulum bersamanya sampai ia wafat.
Ditinggal ayahnya sejak kecil mempunyai hikmah tersendiri baginya, karena kemudian keluarga besar Bani Utsman Kresek (keluarga besar ibundanya) mencurahkan kasih sayang lebih baginya. Sejak kecil ia dibimbing oleh paman-pamannya yang kebanyakan merupakan ulama lulusan Tebu Ireng Jombang, yaitu, KH. Mahfudz bin Muhammad, KH. Syarif Jauhari bin Naib, KH. Zainuddin bin Mustofa dan KH. Mahfudz bin Syatibi dll. Sejak kecil pula mendapatkan sentuhan ruhani dari Syekh Astari bin Maulana Ishak seorang ulama yang diyakini masyarakat sebagai seorang wali yang tinggal di Cakung, sekitar 1 kilo meter dari Kresek. Setiap hari Jum’at pagi ia diminta neneknya untuk berkunjung ke, dan minta didoakan oleh, Syekh Astari bersama sepupu-sepupunya.
Pada umur 7 tahun dititipkan di Madrasah Diniyah Al Hikmah, berjarak 500 meter dari rumahnya, di bawah asuhan K.H. Nurzen dan KH. Rasihun Fil Ilmi. Kiai yang disebut terakhir adalah ulama lulusan Tebu Ireng juga. Di Madrasah itu ia mengaji dasar-dasar ilmu agama seperti membaca Al Qur’an, Ilmu Khot, Imla, Insya, ilmu Nahwu, Kitab al-Jurmiyah dsb.
Pada umur 15 tahun ia memulai pengembaraan ilmiah ke berbagai pondok pesantren di antaranya: Pondok Pesantren Ashhabul Maimanah di Sampang, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, dibawah asuhan KH. Muhammad Syanwani al-Bantani; Pondok Pesantren Riyadl al-Alfiyah di Pandeglang di bawah asuhan KH. Sanja ; Pondok Pesantren Darul Hikmah Syekh Ciliwulung di bawah asuhan KH. Mufti Asnawi, Cakung Carenang; Pondok Pesantren At-Thohiriyah di Kaloran, Kota Serang di bawah asuhan KH. Tubagus Hasuri Bin Tohir. Ia juga mengaji berbagai fann dan kitab tertentu dalam pengajian pasaran di antaranya Pondok Pesantren Al-Hidayah di Cisantri dibawah asuhan KH. Ahmad Bustomi; Pandeglang; Pondok Pesantren Cidahu dibawah asuhan Abuya Dimyathi, Pandeglang; Pondok Pesantren Darul Falah, Rengas Dengklok, Karawang dibawah asuhan KH. Obay Hasan Bashri; Pondok Pesantren Al-Wardayani di Sukabumi di bawah asuhan KH. Badru; Pondok Pesantren Pertapan di Binuang, Serang di bawah asuhan KH. Wasi bin Anwar ; Pondok Pesantren Gaga di Kronjo di bawah asuhan Kiai Rafiuddin; Pondok Pesantren Buni Ayu di Balaraja asuhan Kiai Rusydi; Pondok Pesantren APIK Kaliwungu Kendal Jawa-Tengah asuhan Kiai Salahuddin Humaidullah, Ruwaq al-Azhar di Iskandaria, Mesir. Ia mendapatkan sanad kitab-kitab hadits dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Baits al-Kattani; ia juga mendapatkan sanad Hadits Musalsal dari K.H. Zainal Muttaqin bin Suhaimi al-Bantani murid Syekh Yasin al-Fadani.
Seperti keluarganya yang lain, sejak muda ia aktif di kepengurusan Nahdlatul Ulama; Tahun 2006-2011 ia menjabat Ketua Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Kresek; 2011-2016 menjabat sebagai ketua MWC NU Kresek untuk kedua kalinya; Tahun 2018 menjabat Wakil Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Banten; Tahun 2020-2024 ia menjabat sebagai Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten; Pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU 2021-2024; pada tahun 2023 ia mendapat tugas dari K.H. Miftahul Akhyar dan K.H. yahya Cholil Tsaquf untuk menjadi karateker Rais syuriah PCNU Cilegon; di tahun 2023 mendapat tugas untuk menjadi panitia Munas dan Konbes PBNU; tahun 2023 diangkat sebagai Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Perjuangan Walisongo Indonesia (PP-PWI). Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten tahun 2021-2026. Tahun 2025 diangkat sebagai Mustafad Jamaah Ahluttariqah Al Mu’tabarah al-Nahdiyyah (Jatman) PWNU Banten bersama Abuya Muhtadi.
KH. Imaduddin Utsman Al Bantani banyak menulis tulisan, baik dalam Bahasa Arab, Indonesia maupun Bahasa Jawa Banten. Diantara kitab-kitab karya beliau adalah:
- Kitab Al-Fikrah al-Nahdliyyah fi Ushuli wa Furu’I ahl al Sunnah wa al Jama’ah (Bahasa Arab: Fikih, Akidah dan ke-NU-an);
- Al-Syarah al-Maimun fi Syarh al-Jawhar al-Maknun (Bahasa Arab: Ilmu Balagoh);
- Al-Ibanah fi Syarh Matan al-Rahbiyyah (Bahasa Arab: Ilmu Waris);
- Al-Jalaliyah fi al-Qowaid al-Fiqhiyyah (Bahasa Arab: Kaidah-Kaidah Fikih);
- Talkhis al-Hushul fi Syarh Nadzam al-Waraqat fi Ilm al-Ushul (Bahasa Arab: Ushul Fikih);
- Al-Fath al-Munir fi Syarh Nadzam al-Tafsir li al-Syaikh al-Zamzami (Bahasa Arab: Ilmu Tafsir);
- Nihayat al-Maqshud fi Syarh Nadzam al-Maqshud (Bahasa Arab: Ilmu Shorof);
- Al-Anwar al-Bantaniyah fi Ikhtilaf Ulama al Bashrah wa al-Kufah (Bahasa Arab: Ilmu Nahwu);
- Al-Burhan ila Tajwid al-Qur’an (Bahasa Arab: Ilmu Tajwid);
- Al-Ta’aruf lil Mubtadi’in li suluk al-Tasawwuf (Bahasa Arab: Ilmu Tasawuf);
- Al-Nail al-Kamil fi Syarh Matn al-Awamil (Bahasa Arab: Ilmu Nahwu);
- Al-Qawl al-Mufid fi Hukmi al-Mukabbir al-Shaut fi al-Masajid (Bahasa Arab: Fikih Tentang Hukum pengeras suara);
- Tuhfat al Nadzirin (Bahasa Jawa tulisan pegon: Ilmu Mantiq);
- Al Manahij Al Shafiyyah Fi Syarhi Al Alfiyyah Lil Badi Wa Al Syadi fi Al Arabiyyah;
- Al-Muktafi fi Syarh Nihayat al-Zain;
- Fiqh al-Hadlarah;
- Al-Shulthanah al-Mardliyyah;
- Raudlat al-Jami’fi Syrahi Jam’il Jawami’;
- Riyad al-Thalibin fi Syarhi Fathil Mu’in;
- Buku Induk Fikih Islam Nusantara (Bahasa Indonesia, Fikih);
- Al-Mawahib al-Laduniyyah fi Inqitha’I Nasab Ba’alwi bin Ubaidillah,
- Al-Ma’arif al-Rabbaniyyah fi Hifdz Nuthfah al-Nabawiyyah;
- I’anat al-Akhyar fi Jawab al-Syaikh Abdillah Mukhtar.
- Kasyful Fadihat al- ‘Ilmiyah fi Nasabi wa Tarikhi Ba’alwi,
- Tahafut al-Ansab fi Jawabi kitab Idzharil Haqiqah li Ahmad bin Awad al-Ummani, Minhaj al-Nassabin dll.
- Buku Induk Fikih Islam Nusantara
- Menakar Kesahihan Nasab habib di Indonesia
- Terputusnya Nasab Habib Kepada Nabi Muhammad SAW
- Ulama Nusantara Menggugat Nasab Palsu
- Membongkar Skandal Ilmiyah Sejarah dan Genealogi Ba’alwi
- Mengapa Penting Mengetahui Habib Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW
- Habaib Keturunan Nabi, Benarkah?
- Sejarah Runtuhnya Nasab Ba’alwi
- Kresek kampung Santri
Pendidikan Formal yang ditempuh: Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kresek III; Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Kresek; Madrasah Aliyah (MA) Ashhabul Maimanah di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang (sekarang UIN Banten, Sarjana Agama); dan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta (Magister Agama). Ia juga pernah kuliah S3 di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) namun tidak dilanjutkan.