Senin, 23 Februari 2026

Jawaban untuk Gus Rumail di Padasuka TV

Image

Di Padasuka TV, Ketika Gus Rumail ditanya: Apakah ia sudah mendapatkan kitab sezaman yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Ubaidillah, Gus Rumail menyatakan bahwa ia telah mendapatkannya.
Benarkah itu? Wallahu a’lam.

Dalam keyakinan penulis, kitab itu tidak akan pernah ditemukan, dengan keyakinan seyakin-yakinnya. kenapa? karena algoritma sumber-sumber abad Sembilan memberikan gambaran kuatnya dugaan bahwa kontruksi nasab Ba’alwi ini dibangun di atas pondasi “Deliberately lie” (sengaja berbohong). Mulai dari kakek Fakih Muqoddam yang bernama Muhammad (Sohib Mirbat, w. 556 H), sampai Ubaidillah (w. 383 H), sama sekali tidak dicatat dalam sumber sezaman atau yang mendekatinya. Semuanya baru dicatat Habib Ali al-Sakran pada akhir abad ke-9 Hijriah. 6 nama fiktif itu adalah: Muhammad (Sohib Mirbat), Ali Khali Qosam, Alwi, Muhammad, Alwi dan Ubaidillah.

Awalnya, penulis menduga nama fiktif dari silsilah Ba’alwi hanya 4: Alwi, Muhammad, Alwi (pertama) dan Ubadillah. Tetapi, setelah dibantu Ustaz Hanif al-Athos, bahwa Ali yang disebut kitab al-Suluk itu bukanlah Ali Khali Qosam, tetapi Ali cucu Fakih Muqoddam, maka terbukalah tirai bahwa nama-nama keluarga Ba’alwi yang historis hanyalah dimulai dari Muhammad bin Ali (Fakih Muqoddam). Adapun 6 nama setelahnya hanyalah pengambilan nama secara sembarangan untuk menyambungkan dengan Ahmad bin Isa. Kita bisa membuktikannya dengan ditemukannya keterangan dari kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibnu al-Atsir (Abad ke-7, kitab sezaman Sohib Mirbat) bahwa Sohib Mirbat adalah gelar untuk penguasa Mirbat yang bernama Muhammad al-Ak’hal al-Manjawi (w. 601 H). Bukan untuk Muhammad bin Ali Ba’alwi (kakek Fakih Muqoddam).

Penulis menduga, kakek Fakih Muqoddam yang bernama Muhammad itu, bukan orang Mirbat dan tidak wafat di Mirbat. Ia entah ada di mana. Namanyapun entah siapa, bisa Muhammad bisa juga bukan. Jadi kesimpulan penulis, nama Muhammad Sohib Mirbat Ba’alwi dengan sifat yang disebutkan dalam kitab-kitab Ba’alwi sebagai imam dan sebagainya itu, adalah fiktif. Makam yang ada dengan batu nisan indah dan mahal itu baru dibuat di atas abad ke-9. Sebagaimana penulis sebutkan alasannya dalam tulisan penulis berjudul “Ba’alwi, Makam dan Kesaksian Nasab”. Jika ingin membantah kesimpulan ini, Gus Rumail perlu untuk mendatangkan sebuah kitab yang membantah kitab al-Kamil fi al-Tarikh dan kitab yang menyebut bahwa Muhammad bin Ali Ba’alwi pernah hidup di Mirbat dan dimakamkan di sana.

Tidak ada kitab sejaman atau yang mendekatinya yang mengatakan ada orang Hadramaut bernama Muhammad bin Ali Khali Qosam pernah hijrah ke Mirbat; lalu bergelar Sohib Mirbat; lalu wafat tahun 556 H. Tidak ada. Semua itu ditulis abad 9 Hijriah. Satu nama Ba’alwi tereliminir dari pentas suci sejarah.

Gus Rumail pernah menyebut bahwa Muhammad Sohib Mirbat Ba’alwi mempunyai anak bernama Abdullah yang mendapat ijazah Sunan Turmudzi dari Muhammad bin Ali al-Qola’I pada tahun 577 H. Berita itu, kemungkinan besar, Gus Rumail ambil dari kitab al-Gurar (h. 176) karya Habib Khirid Ba’alwi. Berita khirid itu hanya cocokologi. Ceritanya begini: Ada sebuah kitab Sunan Turmudzi, di juz awalnya ada ta’liq (tulisan tambahan di pinggir kitab) yang berbunyi:

ان الشريف يقرأ وابن ماضي يسمع بقراءته اجزت لهما جامع ابي عيسى الترمذي وغيره وكتبه محمد بن علي القلعي وذالك سنة خمس وسبعين وخمسمائة

“Sesungguhnya sang Syarif membaca dan Ibnu Madi mendengar bacaanya. Aku ijazahkan kepada keduanya (kitab) Jami Abi Isa al-Turmudzi (Sunan Turmudzi) dan (kitab) lainnya. Dan (kalimat) itu ditulis oleh Muhammad bin Ali al-Qola’I pada tahun 575 (H).”

Kemudian, Habib Khirid mengatakan “al-Syarif ini, wallahu a’lam, adalah Abdullah bin Muhammad (Sohib Mirbat)”. (h. 176). Perhatikan kalimat Khirid : wallahu a’lam, itu menunjukan ia hanya menebak saja tanpa bukti pendukung. Jadi, tidak ada anak Muhammad bin Ali Khali Qosam yang bernama Abdullah yang mendapat ijazah dari Imam Qola’I; tidak pula ia tinggal di Mirbat. Kalau Gus Rumail membantah, silahkan cari kitab yang menerangkan bahwa nama Abdullah ini pernah ada di Mirbat. Kitab yang menerangkan Kota Mirbat dan Imam al-Qola’i banyak. Murid-murid al-Qolai juga menulis kitab. Cari nama Abdullah dan ayahnya benarkah keduanya sosok historis. Tidak akan ditemukan, kecuali dikitab abad ke-9 karya para Ba’alwi.

Kemudian, Wahai Gus Rumail! Nama-nama lain mulai dari Ali Khali Qosam sampai Ubadillah, mereka tidak pernah ada. Datangkan kitab yang menyebut nama Ali bin Alwi; atau Alwi bin Muhammad; atau Muhammad bin Alwi; atau Alwi bin Ubaidillah, bahkan Ubaidillah sendiri, tidak ada. Semuanya gelap. Semuanya baru di ciptakan abad ke-9 Hijriah. Percayalah!.

Di padasuka juga, Gus Rumail menyatakan kira-kira begini: “Kiai Imad itu instrument penelitiannya cukup kurang. Ia menggunakan kitab al-Ubaidili (ulama abad ke-5) hanya satu, tahdzibul Ansab, padahal al-Ubaidili punya kitab lainnya”. Mungkin menurut Gus Rumail, jika penulis membaca kitab lain selain Tahdzibul Ansab akan ada keterangan bahwa Ahmad punya anak bernama Ubaidillah.

Hehehe, yo wis kitabku ra ono, siki endi kitabmu, sing ono Ubaid, gawa rene! Podo ra ono kan, Gus.

Karena memang kitab itu gak ada. Kalau ada saya baca, Gus. Jika kitab al-Ubadili itu ditemukan-pun, penulis yakin tidak akan ada nama Ubaid. Karena apa motivasinya ia tidak menulis nama Ubaid di Tahdzibul Ansab sedang di kitab lainnya ia tulis?

Tentang naqobah. Gus Rumail mengatakan: bahwa penulis dan Gus Faqih menyatakan naqobah-naqobah tidak ada yang mengitsbat Ba’alwi. Kalau mau menyebut Gus Faqih, jangan bawa-bawa penulis, Gus. Penulis walau sama dengan Gus Faqih membatalkan nasab Ba’alwi, tetapi tentang naqobah berbeda. Bagi penulis, tidak penting apakah ada naqobah dunia yang membatalkan atau mengitsbat Ba’alwi. Kenapa? Karena patokan mereka juga adalah kitab-kitab nasab. Kita bisa menelitinya sendiri tanpa menunggu ada naqobah berpendapat apa. Bahkan, jikapun hari ini ada naqobah-naqobah dunia yang mengitsbat Ba’alwi, penulis bersedia untuk berdiskusi dengan mereka, seperti surat terbuka penulis kepada Syekh Mahdi Roja’i. Penulis yakin, semua naqobah itu tidak akan mampu menjawab pertanyaan penulis tentang alasan mereka mengitsbat Ba’alwi. Kenapa? Karena memang instrumen jawabannya tidak ada.

Untuk soal DNA, Gus. Penulis bukan ahli DNA. Penulis taklid kepada para ahli DNA saja bahwa: DNA keturunan paternitas Nabi Muhammad Saw itu pertama harus berhaplo J1. Dan Ba’alwi haplonya G. Kama qaluu, bahwa mustahil seorang keturunan paternitas Nabi haplonya G. Bahkan penulis di ledek para pakar DNA,katanya: penulis dan Gus Rumail itu meributkan surat dari sebuah kalung emas, padahal kalung emasnya belum diteliti apakah asli atau palsu.

Artikel terkait...

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Oleh: Tulisan ini dari hasil diskusi berempat melalui virtual, berisi menganalisis legitimasi historis dan genealogis Rabithah Alawiyah sebagai lembaga pencatat nasab klan Ba’alwi di Indonesia. Didirikan pada tahun 1928 di bawah naungan kebijakan kolonial Belanda, eksistensi lembaga ini memunculkan pertanyaan…

Alun 22 Feb 2026 23 17 menit baca
KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

Dalam diskursus nasab Ba’alwi masih ada santri bahkan kiai yang masih mendukung nasab Ba’alwi padahal mereka tidak faham sedang mendukung apa dan siapa. Sedang merendahkan apa dan siapa. Fenomena santri-santri kibin dari Sarang Rembang yang membuat video-video pembelaan itu, menunjukan…

Alun 18 Feb 2026 289 16 menit baca
Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekokohan metodologis tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani mengenai pembatalan nasab klan Ba’alwi dari perspektif epistemologi sejarah dan teori falsifikasi Karl Popper. Polemik ini muncul sebagai disrupsi besar terhadap otoritas keagamaan…

Alun 17 Feb 2026 148 49 menit baca