Setelah sekian lama tenggelam dalam kesunyian, Rumail kembali melangkah ke pelataran wacana. Kali ini, ia membawa narasi baru tentang misteri Y-DNA. Darinya, berembus dua kabar yang kontras: satu kabar baik yang membawa secercah cahaya; kedua kabar buruk yang menyisakan kegetiran.
Kabar baiknya: fajar pemahaman tampaknya mulai menyingsing di cakrawala berpikirnya. Ia kini menyadari sebuah aksioma genetika: bahwa dua cabang ranting yang mengklaim berhulu pada satu akar kakek yang sama di masa silam, niscaya harus berbagi haplogroup yang serupa. Melalui kesadaran ini, sebuah konklusi tak terbantahkan telah tegak: adalah sebuah kemustahilan biologis bagi sekte Ba’alwi dan trah suci di Makkah, seperti Bani Qatadah, untuk bertaut sebagai sepupu paternal dari satu muara lelaki yang hidup 1.400 tahun lampau. Dengan kata lain, ia kemungkinan besar telah mafhum dan meyakini bahwa sekte Ba’alwi bukanlah pemilik sah tetesan darah suci Sang Nabi.
Namun, kabar buruknya justru menghentak sanubari: setelah tirai kepalsuan itu tersingkap dan ia memahami bahwa nasab Ba’alwi mustahil tersambung kepada Baginda Rasul, ia tidak lantas membungkuk khidmat penuh ta’dzim kepada para pemilik nasab yang sejati. Alih-alih merengkuh yang hakiki, Rumail justru berbalik arah, mencoba menafikan dan mengubur legalitas keturunan Nabi yang asli. Seolah dalam benak Rumail telah terpatri dogma keputusasaan: “Jika Ba’alwi terbukti semu, maka tidak boleh ada satu pun nasab di dunia ini yang nyata.”
Sungguh, ini adalah sebuah pembangkangan spiritual yang nyata terhadap Ahlul Bait, sebuah tindakan kelam yang menggores luka pada hati suci Baginda Nabi. Tidakkah ia mengingat firman Allah yang bergetar melintasi zaman:
“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang pedih.” (Q.S. At-Taubah: 61).
Ketahuilah, rasi bintang keturunan Nabi Muhammad SAW akan tetap bersinar, abadi, dan terjaga hingga sangkala kiamat tiba. Pilihannya kini kembali kepada diri kita masing-masing: apakah kita akan berdiri tegak di dalam barisan suci mereka, atau justru memunggungi mereka dengan kebencian?
Sebab, hukum cinta tak pernah berdusta: Barangsiapa yang di dalam dadanya bersemayam cinta yang tulus kepada Nabi, maka Allah akan menuntun langkahnya menuju mata air yang jernih, menemukan trah suci yang asli, lalu mencintai dan membelanya dengan segenap jiwa. Sebaliknya, mereka yang tak diberi ruang dan kehormatan di pelataran kasih sang nabi, akan disesatkan langkahnya menuju fatamorgana, dipertemukan dengan keturunan imitasi, lalu menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai dan membela kepalsuan tersebut.
Maka saksikanlah, betapa jauh jarak yang membentang antara ia yang berdiri anggun dalam barisan suci keturunan Nabi yang sejati, dengan mereka yang terperangkap dalam delusi membela kepalsuan yang imitasi. Yang pertama adalah aku, dan yang kedua adalah engkau, Rumail.
Puisi selesai. Mari kita lebih serius. kita lihat usaha Rumail untuk meragukan nasab Bani Qatadah dan Al-rassi dari keturunan Sayidina Hasan, dan Al-Muhanna dan Al-Qnadil dan 86 marga keturunan Nabi yang valid dalam kitab nasab dan sejarah. Sebelumnya saya ingatkan bahwa, para keturunan Nabi yang asli itu telah tes Y-DNA dan haplogroupnya seragam J1 dan memiliki subkalde J-FGC10500. Dan ternyata, bukan hanya itu, keluarga Cohen dari keturunan Nabi Ishak (adik Nabi Ismail) pun sama memiliki haplogroup J1 dengan perbedaan subclade di bawahnya dengan keturunan Ismail. Jadi kekuatan nasab keluarga Nabi Muhammad itu bukan hanya diperkuat oleh internal sesama keturunan Nabi ismail, tetapi juga diperkuat oleh hasil Y-DNA keturunan Ishak. Artinya walau telah berlalu jarak ribuan tahun, orang-orang yang mengkalim memiliki kakek Bersama di suatu masa dari jalur laki-laki, tetap akan bisa dideteksi dari hasil tes Y-DNA, apakah klaimnya itu benar atau tidak. Nah, klaim historis keturunan Nabi Muhammad adalah mereka juga keturunan Ibrahim. Hal itu sama dengan klaim Cohen bahwa mereka keturunan Ibrahim juga. Ternyata hasil mereka sama-sama ada di halpogrup J1. Tentu ini bukan merupakan kebetulan, tetapi karena memang mereka (Bani Qatadah dan Cohen) merupakan keturunan laki-laki yang sama di masa lalu yang Bernama Ibrahim.
Kesimpulan itu, telah dinyatakan “terkunci” seperti itu menurut para peneliti Y-DNA. Diantara para pakar itu adalah Dr. Sugeng Sugiharto (Peneliti Y-DNA Bani Hasyim), Anatole A Kylosov dari Rusia, Dr. Hadi Amili dari Libanon, Dr. Muhammad Zuhair Al-Mur’ib dari Irak, Dr. Adil al-Asyram bin Ammar ِ Al-Syamari, Dr. Musthafa Sulaiman Abu al-Thayyib Al-Hiwari dari Mesir, Omar Meriwani Akademisi dari Universitas Essex Inggris dan lain lain. Ketika para peneliti itu telah consensus bahwa haplogroup J1 adalah haplogroup keturunan Ibrahim, lalu datanglah Rumail berusaha mengutak-atik kunci itu demi pemalsu sang pemalsu nasab: Sekte Ba’alwi.
Mari kita perhatikan apa yang dikatakan Rumail dalam usahanya meragukan keturunan Nabi asli dari Makkah dan Madinah. Rumail mengatakan:
“Kalau benar Cohen adalah keturunan Nabi Ibrahim lewat Nabi Ishaq (melalui Lewi lalu Harun), sedangkan Imam Ali dan Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrahim lewat Nabi Ismail, maka titik pisah genetik kedua garis ini SEHARUSNYA berada di Nabi Ibrahim atau di generasi yang lebih muda. Alasannya jelas: Nabi Ishaq dan Nabi Ismail sama-sama anak Nabi Ibrahim, jadi cabang mereka mestinya baru berpisah mulai dari Nabi Ibrahim ke bawah. Akan tetapi… Menurut ISOGG (organisasi yang menyusun peta silsilah haplogroup dunia), garis Cohen (dikenal sebagai Extended Cohen Modal Haplotype) berada di bawah haplogroup J-ZS241 yang berumur sekitar 2700 SM. Sementara Imam Ali diklaim berada di J-FGC10500 (sekitar 600 M). Nah, kedua garis ini ternyata baru bertemu di leluhur bersama pada node J-YSC0000234, yang berumur sekitar 3350 SM, alias sekitar 5.350 tahun lalu. Saya ulangi supaya jelas: leluhur bersama antara garis J-FGC10500 (kandidat Imam Ali) dan garis Cohen adalah J-YSC0000234, dan ‘dia’ diperkirakan hidup sekitar 3350 SM!”
Sampai di sini apa yang Rumail katakan masih berada dalam jalur ilmiyah. Kita perhatikan narasi selanjutnya! Rumail Mengatakan:
“Setelah titik itu keduanya berpisah, satu cabang menuju J-ZS241 (Cohen), cabang lain menuju lineage path: J-L858, J-FGC11, dan seterusnya hingga J-FGC10500. Pertanyaannya: mungkinkah leluhur bersama yang hidup pada 3350 SM ini adalah Nabi Ibrahim, atau setidaknya generasi Nabi Ismail dan Nabi Ishaq?” sampai sini Rumail hanya bertanya. Lalu perhatikan jawaban Rumail dari pertanyaannya itu!
“Tentu saja bukan! Karena menurut perhitungan tradisional, Nabi Ibrahim hidup pada Zaman Perunggu Pertengahan, kira-kira antara 2000 sampai 1800 SM.”
Demikian kata Rumail. Di sini Rumial tidak ilmiyah. Kata-katanya bahwa perhitungan tradisional Nabi Ibarahim hidup 2000 sampai 1800 tahun SM itu hitungan siapa? Kitabnya apa? Pengarangnya siapa? Halaman berapa? Lulus uji logika dasar atau tidak? Lulus uji historis-arkeologis atau tidak? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Perdebatan itu letaknya di sini ferguso. Buktikan dulu bahwa Nabi Ibrahim hidup di tahun 2000 SM, baru jika anda dapat membuktikannya , anda bernarasi selanjutnya.
Tetapi baiklah kita lupakan saja kekurangan cerdasannya dalam berargumen. Kita ikuti saja gayanya berfikir. Mari kita jumlahkan saja, biar pembaca paham. Jika menurut Rumail Nabi Ibrahim hidup pada 2000 tahun SM berarti jika sekarang tahun 2026 maka berarti Nabi Ibrahim hidup 4026 tahun yang lalu, sedangkan kata ISOGG Haplogroup J-YSC0000234 hidup pada 3350 SM berarti jika dijumlahkan dengan tahun masehi 2026 hasilnya adalah 5376 tahun lalu. Pembaca harus faham logika Rumail yang akan mempermasalahkan selisih waktu 1350 tahun antara umur haplogroup dengan “hitungan tradisional” Rumail. perhatikan ucapan Rumail:
“Jadi kalau ada dua orang, satu dari garis Cohen dan satu dari garis J-FGC10500, ternyata bertemu leluhur bersama pada 3350 SM, padahal keduanya sama-sama mengaku zuriah Nabi Ibrahim, kenapa leluhur bersama mereka justru hidup 1.300 sampai 1.500 tahun LEBIH TUA daripada Nabi Ibrahim sendiri?”
Demikian ucapan Rumail. jadi, saya ulangi: jika dalam hitungan tradisional versi Rumail Nabi Ibrahim hidup pada 4000 tahun lalu, maka kenapa kakek bersama versi Y-DNA itu baru bertemu kakek bersama 5376 tahun lalu. Berarti yang di YDNA itu bukan Nabi Ibrahim. Lalu siapa? Itu logika Rumail. nah sekarang saya katakana begini: bagaimana jika hitungan tradisional Rumail itu saya katakan salah, dan saya mengatakan bahwa itu memang salto (salah total), justru Nabi Ibrahim hidup di 5376 lalu, bahkan lebih dari itu. Apakah dengan itu Rumail akan menerima. Ya tentu harus menerima. Jika ia berpendapat bahwa “hitungan tradisional” nya yang tanpa dalil dan uji historis-arkeologis itu harus diterima, mengapa saya yang menyatakan salah nggak boleh diterima.
Jika ada yang bertanya mana data saya yang berani menyalahkan Sayidina Rumail Abbas itu? Mana dalil saya jika mengatakan bahwa Nabi Ibrahim hidup di 5376 tahun lalu? Saya menjawab: untuk membatalkan narasi Rumail saya tidak perlu data dan tidak perlu sumber? Kenapa? Karena Rumail pun tidak menyebutkan data dan sumber ketika mengatakan bahwa Nabi Ibrahim hidup di 4000 tahun lalu. Silahkan pendukung Rumail memaksa Rumail untuk mnyebutkan dalilnya yang kredibel; yang teruji logika dasar; yang teruji historis-arkelologis; jika ia menyebutkan sumber, maka saya akan menyebutkan sumber yang membantah itu, dengan valid.
Dengan logika sederhana itu, seluruh klaim selanjutnya dari Rumail sudah tidak laik lagi di komentari. Karena dasar dari narasi Rumail itu hanya “narasi rapuh” yang mudah tumbang, ia tanpa refrensi yang jelas, tanpa bantuan data sejarah yang kokoh. Suatu dalil yang ngawur tidak perlu dibantah dengan dalil. Cukup dengan roastingan saja. Jika ada yang bertanya kenapa tulisan Rumail yang ngawur dan hanya satu lembar harus ditanggapi 3 lembar? Jawaban saya: agar layak dibacakan di chanel para youtuber. Jika terlalu pendek tidak seru. Jadi tulisan panjang saya dalam menjawab tulisan pendek Rumail, bukan karena tulisan Rumail penting, tetapi lebih untuk kemaslahatan semua, termasuk para pejuang Nusantara yang berjuang melalui media, terutama Youtube. Terimakasih.
Imaduddin Utsman Al-Bantani



