Senin, 23 Februari 2026

Ba’alwi, Situs Makam dan Kesaksian Nasab

Image

Untuk membela nasab Ba’alwi, para habib dan pendukungnya rela terbang ke Yaman. Lalu di sana mereka membuat video di makam-makam tokoh Ba’alwi seperti Ubaidillah, Alwi dsb. Seraya mereka membuat narasi bahwa makam ini adalah bukti bahwa Ubaidillah ini tidak fiktif. Makam inilah buktinya. Bagi orang awam, hal ini efektif. Mereka biasanya berpikir sederhana dan tidak kritis.

Menelusuri sebuah situs memang adalah salah satu metode melacak kesejarahan seorang tokoh, istana kerajaan, tempat pemujaan dan lain sebagainya. Melacak sebuah situs, bisa dengan dua cara: Pertama, situs itu disebut dalam sebuah sumber tertulis, lalu peneliti mencari keberadaan situs itu dengan penelusuran sampai penggalian. Misalnya tentang situs Keraton Majapahit di Trowulan, Keraton Pajajaran di Bogor dan Banten dan Keraton Demak di Jawa Tengah. Kedua, situs itu ditemukan terlebih dahulu, lalu dicari sumber-sumber yang berkaitan dengannya untuk diketahui nilai kesejarahannya.

Makam Ubaidillah, Alwi, Sohib Mirbat dan lainnya dari keluarga Ba’alwi memang hari ini ada. Tetapi, itu saja belum cukup untuk dijadikan dalil bahwa tokoh-tokoh itu memang tokoh sejarah. Makam itu mungkin bisa dijadikan bukti bahwa sosok itu ada pada masa kesejarahannya. Tetapi juga, bisa saja ia baru diciptakan pada masa kemudian. Dari itu, keberadaan sebuah situs seperti makam harus didukung bukti lain yang menyertainya.

Mengenai makam Ahmad bin Isa di Husaisah telah penulis sampaikan dalam tulisan penulis tentangnya, bahwa makam itu tidak ditemukan oleh para penulis sejarah pada abad ke-5 sampai abad ke-9. Ia diberitakan pertama kali oleh al-Khatib ulama abad ke-9 H, bahwa guru al-Khatib yang bernama Habib Abdurrahman berziarah ke makam Ubaidillah. Tempat itu diyakini sebagai makam Ahmad bin Isa karena dilihat ada cahaya terang di sana. Dari situ difahami, bahwa keberadaan makam Ahmad bin Isa di Husaisah hari ini, adalah makam yang baru ditemukan pada abad ke-9 Hijriah, padahal ia wafat 540 tahun sebelumnya yaitu tahun 345 H.

Makam Ubaidillah yang wafat 383 H dan makam Alwi yang wafat tahun 400 H-pun, penulis yakin, baru di ijtihadi pada abad ke-9 itu. Karena seorang peneliti Yaman yang bernama Syekh Ahmad Hasan Muallim menyatakan di Yaman tidak ada makam, yang ada masyhad dan masjid pada abad ke-5 hijriah kecuali makam ”Asyahidain” di Shan’a.

MAKAM HABIB SOHIB MIRBAT

Makam Habib Muhammad bin Ali Sohib Mirbat di Kota Mirbat mempunyai batu nisan dengan ukiran yang bagus. Inskripsi batu nisan itu berangka tahun 556 Hijriyah. Apakah benar batu nisan itu dibuat tahun 556 H?

Di Yaman, abad ke-6 belum dikenal seni pahat batu. Hal tersebut dipahami dari para raja yang berkuasa di Yaman pada abad ke-6 dan sebelumnya, dari Dinasti al-Manjawih dan dinasti al-Habudi. Makamnya tidak ada yang berbatu nisan dengan pahatan kaligrafi. Bagaimana orang biasa nisannya berpahat indah dengan harga yang mahal, jika rajanya saja tidak.

Raja pertama yang makamnya berbatu nisan dengan pahatan indah adalah Raja al-Watsiq Ibrahim dari dinasti Rasuli yang wafat pada tahun 711 H. Batu nisan itupun bukan produksi Yaman, tetapi di impor dari India. Bayangkan abad ke-8 saja batu nisan raja Yaman harus di impor dari India, bagaimana 200 tahun sebelumnya makam Sohib Mirbat sudah mempunyai batu nisan yang sama indahnya. Pada akhir abad ke-8 dinasti Rasuli kemudian membawa para pengarjin pahat dari India untuk membuat nisan. Dari situlah awal mula banyak raja, ulama dan orang kaya, batu nisannya memiliki pahatan dan ukiran. Hal itu bisa dibuktikan dengan bahan jenis batu yang berbeda antara batu pahatan Raja al-Watsiq dan pahatan batu nisan selanjutnya. Dimana, struktur dan jenis batu Raja al-Watsiq berasal dari daerah India, sedangkan jenis batu dari nisan lainnya adalah batu lokal dari Yaman.

Batu nisan Habib Sohib Mirbat, dapat di yakini baru dibuat pada abad ke-9 atau sesudahnya, berbarengan dengan konstruksi nasab Ba’alwi yang sudah final di ijtihadi oleh Habib Ali al-Sakran dan al-Khatib.

Bagi penulis, sosok Habib Sohib Mirbat sendiri masih meragukan. Apakah ia sosok historis ataukah bukan. Penelusuran membawa kepada keyakinan bahwa sosok ini adalah ahistoris. Tidak ada berita sezaman yang menyebut eksistensinya. Kitab-kitab sejarah yang menyebut para ulama Mirbat dan Dzifar tidak menyebut namanya, kecuali kitab-kitab setelah abad 9 Hijriah.
Yah, semuanya setelah abad ke-9.

Anak Sohib Mirbat yang bernama Abdullah, yang disebut mendapat ijazah dari Imam al-Qolai (ulama Mirbat yang wafat tahun 630 H.)-pun disebut pertama kali oleh kitab al-Gurar abad 10 H. Anehnya nama Abdullah bin Sohib Mirbat Ba’alwi ini kemudian di sebut “inqirad” (tidak punya keturunan). Nasibnya sama dengan dua sosok ulama yang disebut dalam kitab eksternal, yang oleh Ba’alwi diakui sebagai bagian keluarga Ba’alwi, yaitu Jadid dan Salim bin Basri. Keduanya disebut sebagai saudara dari Alwi bin Ubaidillah, namun kemudian keduanya disebut inqirod (keturunannya terputus).

Penulis curiga, bahwa nama Abdullah yang disebut dengan al-Syarif itu, memang ada riwayat mendapat ijazah dari Imam al-Qola’i, namun tidak disebutkan keturunannya ke atas. Lalu di abad ke-9 keluarga Ba’alwi mengakuinya sebagai anak Habib Sohib Mirbat, lalu karena di abad ke-9 itu tidak ditemukan algoritma keturunannya pada keluarga Ba’alwi, maka kemudian di sebutlah ia “inqirad”. Algoritma seperti itu yang terjadi pada Jadid dan Salim bin Bashri.

Penulis meyakini, Jadid yang disebut al-Suluk itu, juga Bashri, bukan saudara Alwi. Ada kitab lain menyebut, bahwa Alwi mempunyai saudara satu orang bernama Ismail. Tidak mempunyai saudara bernama Jadid dan Bashri. Dari manuskrip Kasyful gain ditemukan bahwa Jadid berasal dari keluarga al-Musawi, bukan Ba’alwi. Kata Gus Rumail, manuskrip penulis salah ketik. Dan katanya, manuskrip yang ditemukannya yang benar, bahwa itu bukan Jadid tapi Hadil. Tulisannya mirip. Penulis tersenyum, darimana Gus Rumail berkesimpulan manuskrip penulis salah, dan manuskripnya yang benar? Sementara manuskrip penulis lengkap dibubuhi tahun, sedangkan manuskripnya bodong tanpa tahun. Penulis yakin, Gus Rumail tidak akan dapat menunjukan tahun berapa manuskrip yang dimaksudnya itu, karena memang manuskrip itu penulis-pun punya, dan di sana tidak ada angka tahun. Sebuah manuskrip harus dilihat kebenarannya dari dua hal: Pertama jika ia bertahun muda bertententangan dengan manuskrip tahun yang tua, maka manuskrip tahun yang tualah yang harus dipercaya. Kecuali manuskrip muda itu mempunyai syahid bahwa manuskripnya lah yang benar.

Dari labirin nasab Ba’alwi ini, apakah Gus Rumail dapat mencari pintu keluarnya? Dapatkah Gus Rumail membawa saksi mahkota abad ke-6 yang menyatakan bahwa Ubaidilah adalah anak Ahmad bin Isa. Juga saksi tambahan abad ke-7 bahwa Jadid mempunyai saudara bernama Alwi?

Sekali lagi, walau seluruh saksi pustaka telah memberi kesaksian. Tim perumus telah menyimpulkan secara ilmiah bahwa Ubaidillah bukan anak Ahmad bin Isa. Dan Hakim DNA telah mengetuk. Dua arah telah kalah. Tetapi ini bisa saja belum inkrah, jika Gus Rumail melanjutkan banding atau mengajukan peninjauan kembali, minimal secara pustaka. Agar riwayat masa lalu itu tidak terlalu dianggap mengada-ada. Tentu dengan sebuah konsekuensi diskursus ini tidak bisa cepat berhenti. Sampai saat ini, penulis setuju dengan Gus Fakih, bahwa hanya Gus Rumail yang berkualitas dalam membela nasab Ba’alwi.

Artikel terkait...

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Oleh: Tulisan ini dari hasil diskusi berempat melalui virtual, berisi menganalisis legitimasi historis dan genealogis Rabithah Alawiyah sebagai lembaga pencatat nasab klan Ba’alwi di Indonesia. Didirikan pada tahun 1928 di bawah naungan kebijakan kolonial Belanda, eksistensi lembaga ini memunculkan pertanyaan…

Alun 22 Feb 2026 23 17 menit baca
KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

Dalam diskursus nasab Ba’alwi masih ada santri bahkan kiai yang masih mendukung nasab Ba’alwi padahal mereka tidak faham sedang mendukung apa dan siapa. Sedang merendahkan apa dan siapa. Fenomena santri-santri kibin dari Sarang Rembang yang membuat video-video pembelaan itu, menunjukan…

Alun 18 Feb 2026 289 16 menit baca
Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekokohan metodologis tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani mengenai pembatalan nasab klan Ba’alwi dari perspektif epistemologi sejarah dan teori falsifikasi Karl Popper. Polemik ini muncul sebagai disrupsi besar terhadap otoritas keagamaan…

Alun 17 Feb 2026 148 49 menit baca