Minggu, 10 Mei 2026

BANTAH RIZIQ SYIHAB, DR. K.H. ABBAS BILI YAHSYI: HABIB BA’ALWI BUKAN PENYEBAR ISLAM DI INDONESIA

Image

Pernyataan tegas disampaikan Pengasuh pesantren Nadwatul Ummah Buntet Cirebon, DR. K.H. Abbas Bili Yahsyi tentang klaim Riziq Syihab bahwa para habib adalah penyebar Islam di Indonesia. Menurut Abbas, Klan Habib Ba’alwi telah membelokan sejarah penyebar Islam di Indonesia. Menurutnya, Klan Habib Ba’alwi sengaja menulis banyak buku tentang bahwa penyebar Islam di Indonesia adalah Klan Ba’alwi terutama dengan membelokan silsilah nasab Walisongo disebut berasal dari Klan Ba’alw padahal Walisongo bukan berasal dari Klan Habib Ba’alwi.

“Klan Ba’alwi mengklaim bahwa para penyebar Ilsam di Indonesia yang pertama adalah mereka. Mereka banyak menulis buku tentang sejarah Indonesia lalu menyisipkan bahwa masuknya Islam di Indonesia adalah karena mereka dan penyebarannya karena kontribusi mereka. Mereka juga menyisipkan bahwa kebanyakan para sultan dan ulama masa lalu di Indonesia nasabnya tersambung kepada Abdul malik bin Muhammad Sahib Mirbat Ba’alwi, lalu mereka menyatakan bahwa ulama itu lalu tidak mempunyai keturunan”, tegas Abbas Bili dalam presentasi ilmiyahnya di Nadwah ke-1 Majma’ Fuqoha Jawa yang diselenggarakan 31 januari 2026 di Pesantren Al-Mubarak al-Arba’in Demak.

Abbas Bili juga mencurigai bahwa tujuan penulisan buku-buku tersebut adalah untuk mencuri sejarah peran Bangsa Indonesia sendiri untuk dibelokan kepada Klan habib Ba’alwi.

“Kita harus curiga bahwa niat mereka dalam menulis buku-buku ini adalah untuk mencuri sejarah leluhur kita dan mengaitkannya dengan sejarah mereka sendiri, sehingga kejayaan hari ini hanya akan menjadi milik mereka. Oleh karena itu, orang Indonesia harus sangat waspada dalam mengutip dari buku-buku tersebut, atau bahkan membacanya. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu malu. Mereka menulis sejarah orang lain dan memasukkan cerita seolah-olah mereka memiliki andil, bagian, atau peran-penting di dalamnya. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: “Mereka suka dipuji atas apa yang tidak mereka lakukan,” dan Dia juga berfirman: “Celakalah setiap orang berdosa yang berdusta”, lanjut Abbas Bili.

Abbas Bili mencontohkan buku-buku yang ditulis oleh Klan Ba’alwi yang di dalamnya terdapat klaim-klaim yang dimaksud di antaranya: Yang pertama adalah buku “Shaltanah Banten al-Islamiyah Bi Jazirati Jawah min jihhat al-Garbiyyah” karya Ahmad ibn Abdullah al-Saqqaf Ba’Alawi (wafat 1369 H/1950 M). Di dalamnya, ia mengklaim bahwa Sharif Hidayatullah adalah keturunan Abd al-Malik ibn Alawi ibn Muhammad, penguasa Mirbat. Menurut Abbas Bili, Ini adalah kebohongan terang-terangan tanpa dasar fakta. Pasalnya, masih menurut Abbas, pada tahun 1913, Profesor Hussain Jayadingrat menulis dalam bukunya “Tinjauan Kritis Sejarah Banten” enam silsilah berbeda dari Syarif Hidayatullah, semuanya terhubung dengan Musa al-Kazim, tetapi ia tidak menyebutkan bahwa ia adalah keturunan Abdul Malik.

Menurut Abbas, Ahmad al-Saqqaf juga menulis bahwa Imam Bonjol (wafat 1864) adalah Habib Muhammad Shihab, yaitu dari keluarga Ba’Alawi. Menurut Abbas, Ini juga merupakan kebohongan terang-terangan. Menurut Abbas Bili, sejarawan dari Sumatera Barat, Samdani, telah menyatakan bahwa klaim itu tanpa sumber. Imam Bonjol adalah Muhammad Shihab ibn Bayanuddin, bukan dari keluarga Ba’Alawi. Shihab adalah nama pribadi, bukan nama keluarga.

Yang kedua adalah buku “Al-Madkhal ila Tarikh al-Islam fi al-Syarq al-Aqsha karya Alwi bin Tahir al-Hadda (wafat 1382 H/1963 M). Yang ketiga adalah buku uqud al-Al-mas, juga karya Alawi bin Tahir al-Haddad. Yang keempat adalah buku”Taj al-A’ras” karya Ali bin Husayn al-Attas (wafat 1396 H/1976 M). Yang kelima adalah buku “Imam al-Muhajir” karya Muhammad Diya Shihab dan Abdullah bin Nuh (wafat 1987 M). Yang keenam adalah “Al-Islam fi Indonesia, juga karya mereka berdua. Yang ketujuh adalah “Raudlat al-Wildan” karya Salim bin Jandan (wafat 1969 M). Yang kedelapan adalah “Al-khulasat al-Wafiyat”, juga karya Salim bin Jindan. Yang kesembilan adalah catatan pinggir pada buku Syams al-Dzahirat” karya Abd al-Rahman al-Mashhur, oleh Muhammad Diya Shihab. Yang kesepuluh adalah buku ”Rihlat Jawa al-jamilat” karya Salih bin Ali al-Hamid Ba’alawi (wafat 1967 M).

Ini adalah buku-buku Ba’alawi, menurut Abbas Bili, yang mengklaim bahwa masuknya Islam ke Indonesia disebabkan oleh Klan Ba’alwi. Menurut Abbas Bili, Klaim mereka bahwa Islam masuk ke Indonesia karena mereka adalah kebohongan dan merupakan pencurian sejarah. Islam masuk ke Indonesia, khususnya Nusantara, sejak abad pertama Hijriah dan menyebar luas pada abad kedelapan Hijriah, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Battuta (wafat 779 Hijriah) dalam bukunya, “tuhfat al-Nadzar,” di mana ia menyatakan bahwa Sultan al-Malik al-Zahir dan rakyatnya mengikuti mazhab Syafi’i. Islam masuk ke Indonesia, menurut Abbas Bili, jauh sebelum kedatangan Ibn Battuta. sementara, kaum Ba’Alawi datang ke Indonesia pada abad ketiga belas Hijriah. Pada saat mereka tiba, sebagian besar penduduk telah memeluk Islam lebih dari lima ratus tahun sebelumnya.

Artikel terkait...

Syaikh Nawawi Tsani dari Banten di Zaman Modern

Syaikh Nawawi Tsani dari Banten di Zaman Modern

Wilayah Kresek dan Tanara merupakan dua wilayah yang secara geografis berdekatan serta memiliki keterkaitan historis dalam perkembangan keilmuan Islam di Nusantara. Dari wilayah Tanara, lahir seorang ulama besar yang kontribusinya diakui secara luas, yakni Syeikh Nawawi al-Bantani. Karya-karya beliau yang…

Alun 1 Mei 2026 99 4 menit baca
RIZIQ SYIHAB BUKAN KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW SECARA ABSOLUT

RIZIQ SYIHAB BUKAN KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW SECARA ABSOLUT

Pada tanggal 21 April 2026, Riziq Syihab membuat sebuah video yang menjelaskan silsilah keluarganya dengan judul “Pemaparan Silsilah Keluarga Datuk IBHRS”. Video itu berdurasi 51.12 menit. Dalam video itu ia menjelaskan silsilah kekerabatan beberapa keluarganya, dan itu bukan urusan umat…

Alun 25 Apr 2026 307 7 menit baca
DAFTAR NAMA-NAMA KIAI, TOKOH DAN LEMBAGA YANG TELAH GAGAL MENJAWAB TESIS BATALNYA NASAB BA’ALWI

DAFTAR NAMA-NAMA KIAI, TOKOH DAN LEMBAGA YANG TELAH GAGAL MENJAWAB TESIS BATALNYA NASAB BA’ALWI

Diskursus batalnya nasab Ba’alwi di ruang public adalah salah satu diskursus yang menarik selama kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1945. Tidak ada diskursus ilmiyah yang menyita perhatian public seperti disukursus batalnya nasab Ba’alwi. Diskursus ini dimulai pada tanggal 13 Oktober 2022…

Alun 22 Apr 2026 732 38 menit baca