Senin, 23 Februari 2026

Tabir Keluarga Jadid Mulai Terkuak

Image

Dalam literature para habib, disebutkan bahwa Ubaidillah mempunyai tiga anak: Jadid, Alwi dan Bashri. Silsilah Syarif Abul Jadid yang disebut al-Suluk (732 H), menurut para habib, adalah Jadid yang merupakan saudara seayah dari Alwi, leluhur para habib.

Menurut penulis, Syarif Abul Jadid yang disebut al-Suluk itu, bukan saudara Alwi, karena tidak ada informasi sezaman sedikitpun yang dapat dijadikan dalil bahwa Syarif Abul Jadid mempunyai saudara bernama Alwi. Gus Rumail, memang mendapatkan dalil bahwa Abul Jadid ini seorang syarif, tapi, rupanya ia sama sekali tidak mendapatkan jejak persaudaraan antara Jadid dengan Alwi. Lembah-lembah di Turki telah ia telusuri; Bukit-bukit di Yaman telah diterjang; Gunung-gunung di Hijaz telah dikepung, namun, jejak itu tidak juga dijumpai. Kini, dengan berbekal sejuta asa , dan semilyar harapan, mudah-mudahan lorong-lorong di Negeri Yordan bisa memberi jawaban.

Jodoh tidak perlu dicari, kalau sudah jodoh datang sendiri. Mungkin, itulah pepatah yang pantas diingat hari ini. Seberkas harapan telah datang kepada penulis, untuk menyibak tabir gelap sosok Abul Jadid ini. Ia datang dari sebuah manuskrip kitab yang dikarang ulama abad 10 Hijriah. Kitab itu, dikirimkan sahabat penulis yang merupakan alumni Yaman. Dalam kitab itu diterangkan, siapa leluhur Abul jadid, dan siapa pula keturunannya.

Kitab itu bernama “Kasyful Gain An Man bi Wadi Surdud Min Dzurriyati Sibtain” karya Sayyidina wa Umdatina al-Muhaqqiq Jamaluddin Muhammad bin Abi Bakar bin Abdullah bin Ahmad bin Ismail bin Abi Bakar bin Muhammad al-Askhar (w. 991 H). dalam kitab itu, disebutkan bahwa: Abul Jadid merupakan keturunan Musa al-Kadzim melalui jalur anaknya bernama Ali Rido. Ali Rido ini mempunyai anak bernama Muhammad al-Jawad. Sayangnya, kitab ini tidak memuat silsilah lengkap sampai Syarif Abul Jadid. Kendati demikian, penelusuran Gus Rumail tidak sia-sia, bahwa betul Abul Jadid ini adalah seorang Syarif (keturunan Nabi Muhammad Saw), walau ternyata bukan melalui jalur Ubaidillah.

Dalam kitab ini pula dijelaskan, Syarif Abul jadid di abad 10 H itu, mempunyai keturunan yaitu Banu sahil, Banul ‘Ishor, Banu Mujaimisy, Banu Ishlah, dan Bani Mahdi. Bani Alwi tidak disebutkan. Dijelaskan pula, sebagian dari keturunan Abil jadid adalah Syarif Ibrahim bin Hasan dan al-Syarif Abu Bakar al-Qudaimi. Dan keduanya mempunyai keturunan yang bermukim di Musyaj (Hadramaut). Mereka mempunyai harta berupa tanah dan kebun kurma dan lain-lain.

Demikianlah informasi penting yang diterima penulis dari manuskrip tersebut. Penulis belum berhasil melacak nama-nama kabilah yang disampaikan kitab tersebut. Penulis juga memerlukan data pembanding sezaman dan atau yang lebih tua lainnya, yang dapat digunakan sebagai detektor validitas informasi yang terdapat didalamnya. Tetapi paling tidak, manuskrip itu bisa menjadi kompas penelusuran selanjutnya, bagi penulis, juga, mungkin, bagi Gus Rumail, bahwa algoritma nasab para habib ini semakin ditelusuri, justru semakin jauh menuju arah berlawanan dari kiblat para syarif yang tercatat.

Penulis juga, sedang menunggu janji Gus rumail, untuk membuat tulisan utuh dan komprehensif tentang klaimnya bahwa, kitab al-syajarah al-Mubarokah adalah kitab yang problematik. Penulis berjanji kepada Gus Rumail, jika tulisannya tentang kritiknya terhadap kitab tersebut selesai, akan segera penulis jawab. dalam beberapa videonya, Gus Rumail mengatakan: inilah yang belum dijawab Kiayi Imad. Agaknya, Gus Rumail, ingin sekali mengetahui seberapa kuat penulis dapat mewakili Imam al-Fakhrurozi dalam mempertahankan substansi kitab al-Syajarah al-Mubarokah ini.

Artikel terkait...

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Oleh: Tulisan ini dari hasil diskusi berempat melalui virtual, berisi menganalisis legitimasi historis dan genealogis Rabithah Alawiyah sebagai lembaga pencatat nasab klan Ba’alwi di Indonesia. Didirikan pada tahun 1928 di bawah naungan kebijakan kolonial Belanda, eksistensi lembaga ini memunculkan pertanyaan…

Alun 22 Feb 2026 23 17 menit baca
KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

Dalam diskursus nasab Ba’alwi masih ada santri bahkan kiai yang masih mendukung nasab Ba’alwi padahal mereka tidak faham sedang mendukung apa dan siapa. Sedang merendahkan apa dan siapa. Fenomena santri-santri kibin dari Sarang Rembang yang membuat video-video pembelaan itu, menunjukan…

Alun 18 Feb 2026 289 16 menit baca
Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekokohan metodologis tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani mengenai pembatalan nasab klan Ba’alwi dari perspektif epistemologi sejarah dan teori falsifikasi Karl Popper. Polemik ini muncul sebagai disrupsi besar terhadap otoritas keagamaan…

Alun 17 Feb 2026 148 49 menit baca