Senin, 24 Agustus 2026

Sinopsis Kitab: AL-FATḤ AL-MUNĪR FĪ SYARḤ MANẒŪMAH AL-TAFSĪR(Telaah Kitab Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie;Merawat Khazanah Keislaman, Menjaga Sanad Keilmuan)

Image

Oleh: Riko Aji Darma

Dinamika perkembangan ilmu al-Qur’an dan tafsir tidak terlepas dari peran karya-karya ringkas yang kemudian mendorong lahirnya pengembangan keilmuan yang lebih luas. Salah satu di antaranya adalah kitab Nuqāyah al-‘Ulūm karya Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (849-911 H), yang kemudian disempurnakan oleh penulisnya sendiri melalui kitab Itmām al-Dirāyah li Qurra’ al-Nuqāyah . Karya ini menghimpun secara ringkas empat belas disiplin keilmuan dalam khazanah keislaman, dengan pembahasan tentang ilmu al-Qur’an dan tafsir sebagai salah satu bagian integral di dalamnya.

Meskipun kitab Nuqāyah al-‘Ulūm tidak disusun secara khusus sebagai karya dalam bidang ilmu tafsir, pembahasan ilmu al-Qur’an dan tafsir di dalamnya kemudian dikembangkan dalam bentuk nazham oleh Syaikh ‘Izzuddīn ‘Abd al-‘Azīz al-Zamzamī (900–976 H), dalam karyanya yang dikenal dengan Manẓūmah al-Zamzamī fī al-Tafsīr dan terdiri dari 158 bait. Nazham ini selanjutnya disyarahi oleh Sayyid Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H) dalam kitab Nahj al-Taysīr ‘alā Naẓm al-Tafsīr . Karya tersebut kemudian diperkaya dengan ḥāsyiyah oleh Sayyid ‘Alawī ibn Sayyid ‘Abbās ibn ‘Abd al-‘Azīz al-Mālikī al-Makkī (1328–1391 H) dalam kitab Fayḍ al-Khabīr wa Khulāṣah al-Taqrīr ‘alā Nahj al-Taysīr , serta dilengkapi dengan ta‘līqāt oleh Musnid al-Duniā , Syaikh Muhammad Yāsin al-Fādānī (1335–1410 H).

Tiga lapisan literatur keilmuan berupa nazham, syarḥ, dan ḥāsyiyah (di antaranya ta‘līqāt ) dalam dinamika perkembangan ilmu al-Qur’an dan tafsir tersebut, dihimpun secara komprehensif oleh ulama Nusantara asal Banten, yaitu KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie (lahir 19 Sya‘bān 1396 H), pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Banten, dalam karyanya bernama al-Fatḥ al-Munīr fī Syarḥ Manẓūmah al-Tafsīr.

Menariknya, kitab al-Fatḥ al-Munīr fī Syarḥ Manẓūmah al-Tafsīr karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie tersebut tidak sekadar menghimpun tiga lapisan literatur keilmuan sebelumnya sebagai khazanah intelektual keislaman saja, melainkan juga memiliki keterhubungan mata rantai sanad keilmuan yang kuat dengan para pengarangnya.

KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie tercatat sebagai salah satu murid yang sangat dekat dan belajar langsung belbagai disiplin keilmuan Islam dengan Abuya KH. Tubagus Ahmad Hasuri al-Bantanie ibn Tubagus Ahmad Thohir al-Bantanie. Abuya KH. Tubagus Ahmad Hasuri al-Bantanie sendiri merupakan pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren At-Thohiriyah, Serang, Banten. Beliau memiliki silsilah yang tersambung hingga Kesultanan Banten, lahir pada 30 Desember 1930 dan wafat pada usia 87 tahun, tepatnya pada hari Selasa, 29 Mei 2018, bertepatan dengan 13 Ramadan 1439 H.

Setelah menikah beberapa saat, Abuya KH. Tubagus Ahmad Hasuri al-Bantanie melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Makkah al-Mukarramah pada tahun 1950. Di sana, beliau belajar secara langsung kepada para ulama terkemuka pada masa itu, di antaranya Syaikh Ḥasan bin Muhammad al-Masyāṭ (1317–1399 H), yang merupakan guru bagi pengarang kitab Nahj al-Taysīr ‘alā Naẓm al-Tafsīr yaitu Syekh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H). Selain itu, beliau juga menimba ilmu dari Sayyid ‘Alawī ibn Sayyid ‘Abbās ibn ‘Abd al-‘Azīz al-Mālikī al-Makkī (1328–1391 H), pengarang kitab Fayḍ al-Khabīr wa Khulāṣah al-Taqrīr ‘alā Nahj al-Taysīr.

KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie juga memiliki keterhubungan sanad keilmuan dengan Syaikh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H), karena beliau pernah belajar langsung dengan Syaikh Sayyid Muhammad ibn Ibrāhīm ibn ‘Abd al-Bā‘ith al-Kattānī al-Iskandarī, murid dari Syaikh ‘Abd al-Ḥayy al-Kattānī (1302–1382 H), yang juga menjadi guru bagi Syaikh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H). KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie juga memiliki keterhubungan sanad keilmuan dengan Syaikh Muhammad Yāsin al-Fādānī (1335–1410 H), karena Syaikh Muhammad Yāsin al-Fādānī (1335–1410 H) adalah salah satu murid dari Saikh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H).

Keterhubungan sanad keilmuan tersebut menjadikan hadirnya kitab al-Fatḥ al-Munīr fī Syarḥ Manẓūmah al-Tafsīr karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie bukan sekadar sebagai tambahan khazanah intelektual keislaman dalam disiplin ilmu al-Qur’an dan tafsir, tetapi sebagai warisan hidup yang memelihara sanad keilmuan, terutama di tengah lanskap zaman yang berubah radikal akibat disrupsi teknologi dan arus informasi masif, yang berpotensi menimbulkan pemahaman yang dangkal. _Nāfa‘anā Allāhu bihim wa bi-‘ulūmihim fī al-darayn, āmīn.

Artikel terkait...

Pakai Pakaian Adat Sumedang Larang Kiai Imad Menjadi Inspektur Upacara 17 Agustus Tahun 2026

Pakai Pakaian Adat Sumedang Larang Kiai Imad Menjadi Inspektur Upacara 17 Agustus Tahun 2026

Tangerang-Upacara 17 Agustus tahun 2026 di Pondok pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum Cempaka Kresek Tangerang Banten berlangsung khidmat. Upacara diikuti oleh seluruh para santri dan dewan guru Masrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah serta santri takhassus. Bertindak sebagai inspketur upacara pengasuh Pondok…

Alun 17 Agu 2026 154 2 menit baca
Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

Serang-Banten berduka. Salah satu ulama khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar meninggal dunia pada hari Ahad 16 Agustus 2026 pukul 8.30 WIB. di RSUD Derajat Serang. Berita meninggalnya ulama Banten Utara ini sontak membuat masyarakat bersedih. Beliau dikenal sebagai ulama…

Alun 16 Agu 2026 76 2 menit baca
Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, menjadi arena krusial bagi reorientasi arah gerak organisasi keagamaan kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Menghadapi lanskap sosial-politik yang kian kompleks, Nahdlatul Ulama diperhadapkan pada krisis kepercayaan internal…

Alun 12 Agu 2026 255 6 menit baca