Sabtu, 14 Februari 2026

Setelah Gus Zaini dan Gus Rumail Tidak Mampu Menjawab, Siapa Lagi Korban? Tantangan Terakhir Untuk Rabitah Alwiyyah

Image

Penulis menyaksikan debat antara Sayyid Qori dan Gus Zaini tentang nasab Ba’alwi. Seru dan menarik. Seperti yang penulis kira, debat itu dimenangkan Sayyid Qori dengan telak. Gus Zaini tidak mampu menjawab pertanyaan Sayyid Qori: apakah ada kitab sebelum Al-Burqoh yang menyebut Ubaidillah sebagai anak Ahmad bin Isa? pertanyaan itu tidak akan bisa dijawab, karena memang Ubaidillah bukan anak dari Ahmad bin Isa, dan tidak ada kitab yang menyebutnya demikian sebelum abad kesembilan Hijriah.

Sebelumnya, Gus Rumail bahkan bersepakat dengan penulis, bahwa tidak ada satu kitab-pun yang menyebut Ahmad bin Isa hijrah ke Yaman, seperti juga ia bersepakat sebelum abad sembilan Hijriah, tidak ada gelar “Al-Muhajir” untuk Ahmad bin Isa.

Setelah Gus Rumail dan Gus Zaini, siapa lagi yang akan mengorbankan diri demi membela nasab palsu Ba’alwi. Siapapun yang berusaha bermain-main dengan retorika untuk menutupi keterputusan nasab Ba’alwi, akan terjerembab ke dalam dua kondisi pasti: pertama, mengakui dalam hati bahwa memang tidak ada sumber sezaman yang bisa menjadi dalil bahwa nasab Ba’alwi sahih; yang kedua, terpaksa menutupi kekalahan dengan sengaja berdusta, atau beretorika untuk menghindar dari “mahallunniza” (inti perdebatan).

Seperti Gus Rumail yang mengelak pertanyaan tahun berapa manuskrip palsu Syarif Abul Jadid ditulis, Gus Zaini pun mengelak ketika ditanya kitab sebelum abad sembilan yang menyebutkan Ubaidillah adalah benar anaknya Ahmad.

Sekilas, nampak hujah Sayyid Qori itu dapat diputar-putar oleh Gus Zaini dengan diksi signifikansi kitab sezaman dan siapa ulama yang mensyaratkannya, tetapi sebenarnya, banyaknya kalimat Gus Zaini itu hanya akar-akar dipinggir sungai deras dalam keadaan tiada rotan, lalu dengan sembarangan diraih untuk menyelamatkan diri. Persis seperti debat di Banten, ia ibarat kumpulan anak bermain yang ramai suara tetapi sepi dari makna. Inti perdebatan: mana kitab nasab abad 5-9 yang menyebut Ubaidillah sebagai anak Ahmad, tidak ada yang mampu menjawab. Sementara, kitab nasab abad ke enam dengan tegas menyebut Ahmad bin Isa tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah.

Signifikansi kitab sezaman atau yang mendekatinya adalah mutlak diperlukan, tidak perlu menanyakan siapa yang mensyaratkan, karena semua ulama sejarah dan nasab mensyaratkannya. Kitab-kitab yang dikutip Gus Zaini itu mensyaratkan kitab sezaman, tentu jika dibaca dan difahami dengan bacaan dan pemahaman yang benar.

Terlepas dari semua itu, perdebatan bukan dengan personal Ba’alwi tidak terlalu signifikan, apalagi seperti Gus rumail yang setelah debat kemudian berdiscleamer bahwa ia berdebat itu tidak mewakili RA. Oleh karena itu, penulis dalam kesempatan ini kembali mengajak organisasi RA untuk berdebat dengan penulis tentang duabelas pertanyaan yang telah penulis layangkan. Tidak seperti di Banten yang banyak pembicara, debat ini hanya dengan penulis saja. Siapkan seorang wakil RA untuk berdebat dengan bermartabat dengan penulis. Satu lawan satu.

Artikel terkait...

التزامن الجيني والنسبي الهاشمي: بين ميثولوجيا الأنساب وواقع الهابلوغروب ونزاهة البحث العلمي

التزامن الجيني والنسبي الهاشمي: بين ميثولوجيا الأنساب وواقع الهابلوغروب ونزاهة البحث العلمي

بقلم: عماد الدين عثمان البنتني الجاوي   المقدمة: أزمة الإبستمولوجيا في ادعاءات النسب   على مدى أكثر من ألف عام، استندت سلطة الأنساب في الحضارة الإسلامية إلى ركيزة واحدة: التوثيق النصي. كانت مشجرات الأنساب التي تحفظها مؤسسات مثل “نقابة الأشراف”…

Alun 13 Feb 2026 37 4 menit baca
MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains (Tantangan Untuk Naqabat Al-Asyraf Mesir Sampai Rabitah Alwiyah Jakarta)

MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains (Tantangan Untuk Naqabat Al-Asyraf Mesir Sampai Rabitah Alwiyah Jakarta)

Selama berabad-abad, peradaban Islam telah terperangkap dalam sebuah paradoks yang ironis. Ia terbalut kabut sejarah dan terjajah berhala darah. Di satu sisi, Islam datang untuk menghapuskan sistem kasta jahiliah, namun di sisi lain, muncul sebuah konstruksi sosial yang mendewakan garis…

Alun 12 Feb 2026 112 7 menit baca
Dr. Hadi al-Amili administrator di FamilyTreeDNA (FTDNA) Konfirmasi J1-L859 sebagai Marker Genetik Asyraf dan Sadah Alawiyyin

Dr. Hadi al-Amili administrator di FamilyTreeDNA (FTDNA) Konfirmasi J1-L859 sebagai Marker Genetik Asyraf dan Sadah Alawiyyin

Dr. Hadi Al-Amili (lengkapnya Dr. Sayyid Hadi Yahya al-Amili) diakui secara luas dalam komunitas genealogis sebagai salah satu peneliti utama dan administrator dalam proyek-proyek DNA yang berfokus pada garis keturunan Bani Hasyim dan Quraisy. Ia salah satu tokoh sentral dalam…

Alun 11 Feb 2026 70 3 menit baca