Sabtu, 12 September 2026

SANAD YASIN FADHILAH DAN TAHLIL DARI SUNAN AMPEL

Image

Oleh: imaduddin Utsman Al-Bantani

Alhamdulillah pada hari Rabu, 15 April 2026, selain penulis diperlihatkan puluhan dari ratusan manuskrip peninggalan Sunan Ampel, Sunan Derajat dan keturunannnya, penulis juga diberikan ijajah sanad keilmuan dari jalur Sunan Ampel oleh cucu Sunan Ampel garis laki, Kiai Raden Mas Salim (Kiai Salim), di Bantarsari cilacap Jawa Tengah. sanad itu meliputi pengijajahan seluruh kitab yang terdapat dalam ratusan manuskrip yang dimiliki Kiai Salim dari leluhurnya yang berangka tahun dari mulai abad ke 15-19 Masehi. Manuskrip-manuskrip itu terdiri dari Al Qur’an milik atau ditulis oleh Maulana Muhammad Arif bin Sunan Drajat tahun 994 H. (1586 M.), Kitab fiqih yg milik atau ditulis oleh Maulana Muhammad Ilyas bin Maulana Muhammad Bin Maulana Muhammad Arif, Kitab fiqih dan tauhid milik atau karya Maulana Muhammad Zam Zam, Kitab Al Qur’an milik atau ditulis oleh Maulana Nur Muhammad, Kitab fiqih milik atau karya Muhammad Nur Rohman, Kitab fiqih milik atau karya Muhammad Huda, Kitab Fiqih dan tauhid milik atau karya Muhammad Aliah Al Madani, Kitab fiqih milik atau karya Muhammad Musa, Kitab Tauhid, thoriqoh dan hakekat karya atau milik Sunan Drajat yang mendapatkannya dari Sunan Gunung jati Cirebon.

Di antara manuskrip-manuskrip itu terdapat dua manuskrip kecil yang berisi susunan Tahlil dan Yasin Fadilah. Manuskrip yasin Fadilah ditulis oleh Maulana Muhammad Ilyas (hidup sekitar tahun 1590 M.) , sedangkan manuskrip susunan Tahlil yang dijajahkan kepada penulis itu ada dua manuskrip, menurut Kiai Salim yang pertama ditulis oleh Sunan Ampel sendiri dan yang kedua ditulis oleh Maulana Muhammad Zamzam (sekitar tahun 1630 M.) cucu ke-5 Sunan Ampel. Kedua manuskrip kecil itu membuktikan secara historis, bahwa susunan tahlil dan Yasin Fadilah yang biasa diamalkan umat Islam Indonesia sekarang sudah ada sejak masa Walisongo dan diajarkan secara turun temurun oleh Walisongo kepada murid-murid dan keturunannya sampai hari ini.

Yasin fadilah yang beredar sekarang sering disebut susunan Sayyid Haqi Annazili pengarang kitab Khazinatul Asrar yang wafat di Makkah tahun 1884 M., tetapi berdasarkan manuskrip Bantarsari ini, Yasin Fadilah di Nusantara sudah ada sejak masa Maulana Muhammad Ilyas cicit Sunan Ampel yang hidup sekitar tahun 1590 M. Kemungkinan besar ia mendapatkannya dari ayahnya (Maulana Muhammad), lalu ayahnya mendapatkannya dari ayahnya (Sunan Derajat), lalu Sunan Derajat mendapatknanya dari ayahnya Sunan Ampel. Kemungkinan sanad Sunan Ampel dan Sayyid Haqi Annazili bertemu di 400 tahun sebelumnya sehingga kemudian meriwayatkan Yasin fadilah yang sama. Ini membuktikan bahwa keilmuan ulama Nusantara memiliki keautentikan dan ke-upatodate-an yang simultan dengan keilmuan Islam yang berkembang di belahan dunia lain di setiap masa sejak masa Walisongo.

Dengan ditemukannya mansukrip-manuskrip peninggalan Sunan Ampel dan Sunan Derajat ini tarnsmisi keilmuan Walsiongo kepada ulama Indonesia hari ini telah menemui jalan yang semakin terang benderang. Kitab-kitab fikih yang besar yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip itu membuktikan bahwa keilmuan ulama-ulama Nusantara tidak hanya dibuktikan secara historis sejak berangkatnya Aria Wangsakara ke Makkah pada tahun 1634 M. yang meninggalkan manuskrip Al-As’ilah al-Jawiyah, tetapi juga telah berkembang sebelumnya secara masiv di masa Sunan Ampel dan Sunan Derajat.

Dengan ditemukannya manuskrip Bantarsari ini mudah-mudahan manuskrip-manuskrip Walisongo lainnya akan juga dapat ditemukan, sehingga sejarah tentang Walisongo dan keilmuannya bukan hanya kitab isa dapatkan melalui manuskrip-manuskrip abad 18 dan 19 Masehi yang bias kolonial.

Penulis mendapatkan kepercayaan dari Kiai Raden Muhammad Salim untuk mengijazahkan tahlil Sunan Ampel dan Yasin fadilah serta Asmaul Husna dari Sunan Ampel kepada umat Islam. Adapun sanad keilmuan penulis sampai Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati sesuai ijajah dari Kiai Salim adalah:

Sanad Keilmuan dari Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati Cirebon:

  1. Sunan Ampel (Maulana Ali Rahmatullah) dan Sunan Gunung Jati Cirebon
  2. Sunan Derajat bin Sunan Ampel
  3. Maulana Muhammad Arip
  4. Maulana Muhammad
  5. Maulana Muhammad Ilyas
  6. Maulana Muhammad Zamzam
  7. Maulana Nur Muhammad
  8. Maulana Muhammad Nururahman
  9. Maulana Muhammad Huda
  10. Maulana Muhammad Aliyah
  11. Maulana Muhammad Musa
  12. Maulana Muhammad Hasan
  13. Maulana Muhammad Isa
  14. Kiai raden Mas Muhammad Jufri
  15. Kiai Raden Mas Muhammad Mughni
  16. Kiai Raden Mas mUhammad Salim Cilacap
  17. Imaduddin Utsman Al-Bantani Banten
    Selesai.

Artikel terkait...

Gus Rafi Batalkan Nasab Baalwi Berdasar Kitab Internal Ba’alwi

Gus Rafi Batalkan Nasab Baalwi Berdasar Kitab Internal Ba’alwi

Jakarta — Diskursus mengenai keabsahan nasab Ba’alawi kembali memanas setelah Gus Rafi Wiranegara memaparkan temuan kritis yang membatalkan klaim kenasaban tersebut melalui bukti literatur. Menariknya, argumentasi pembatalan ini tidak dibangun menggunakan kritik dari pihak luar, melainkan digali langsung dari kitab-kitab…

Alun 11 Sep 2026 26 3 menit baca
Mengenal Dr. Sugeng Pondang Sugiharto, S.P., M.Eng. Peneliti BRIN yang Namanya Mencuat Terkait Y-DNA Bani Hasyim

Mengenal Dr. Sugeng Pondang Sugiharto, S.P., M.Eng. Peneliti BRIN yang Namanya Mencuat Terkait Y-DNA Bani Hasyim

Nama Dr. Sugeng Pondang Sugiharto, S.P., M.Eng. belakangan ini kerap menghiasi lini masa media sosial dan forum diskusi publik di Indonesia. Sosok ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini mendadak viral setelah pemaparan ilmiahnya yang lugas mengenai analisis…

Alun 10 Sep 2026 36 3 menit baca
Dr. Nadine Al-Mewari: Realitas Genetik Klan Ba’alwi Hadhramaut Berada di Haplogroup G, Bukan J1 Quraisy

Dr. Nadine Al-Mewari: Realitas Genetik Klan Ba’alwi Hadhramaut Berada di Haplogroup G, Bukan J1 Quraisy

YAMAN — Akademisi asal Yaman, Dr. Nadine Al-Mewari, menyoroti perbedaan signifikan antara narasi silsilah tradisional dengan realitas temuan tes DNA mengenai klan Ba’alawi di Hadhramaut. Melalui pernyataan tertulis di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), Dr. Nadine memaparkan dua poin…

Alun 10 Sep 2026 36 2 menit baca