Jumat, 17 April 2026

GEGER: MANUSKRIP-MANUSKRIP SUNAN AMPEL DARI ABAD 15 dan 16 MASEHI DITEMUKAN DI BANTARSARI CILACAP

Image

Oleh: Imaduddin Utsman Al-bantani

Kiai Raden Mas Muhammad Salim bin Kiai Raden Mas Muhammad Mughni (Kiai Salim) yang beralamat di Pondok pesantren Bumi Sholawat Kanjeng sunan Ampel Jl Arda menawi rt06/07 Rawajaya bantarsari Cilacap –pemilik ratusan manuskrip peninggalan Walisongo terutama Sunan Ampel Ali Rahmatullah– bersedia memperlihatkan kepada penulis dan rombongan (termausk Raden Tubagus Mogy Nurfadil) beberapa contoh manuskrip peninggalan leluhurnya tersebut (Rabu, 15 April 2026) di kediamannya. Contoh manuskrip yang diperlihatkan tersebut terdiri dari tiga buntalan besar. Buntalan itu terbuat dari kain putih. Satu buntalan itu terdiri sekitar 17 manuskrip. Jadi tiga buntalan itu kira-kira terdiri dari 50 manuskrip. Selain tiga buntalan besar itu, Kiai Salim memperlihatkan dalam video peti-peti berupa manuskrip serupa.

Manuskrip-manuskrip itu berupa manuskrip kitab-kitab berbahasa Arab dan Jawa, ditulis dengan dua jenis hurup: hurup Arab dan hurup Jawa. Jenis kertas yang digunakan adalah kertas daluwang asli Nusantara. Di antara manuskrip2 itu adalah manuskrip mushaf Al-Qur’an yang berangka tahun 994 H. (1586 M.), manuskrip tentang ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu tasawuf, ilmu falak, ilmu faraid, catatan nasab, award, tahlil, yasin fadilah dan lain-lain. Manuskrip itu yang berhurup Jawa lebih tua dari yang berhuruf Arab, diperkirakan ditulis oleh Sunan Ampel sendiri atau juru-tulisnya di rentang waktu antara tahun (1471-1481 M.). manuskrip berhuruf Jawa ada dua manuskrip tipis sekitar 70 halaman kebawah, sedangkan sisanya berhuruf Arab baik yang berbahasa Arab atau Bahasa Jawa. Jumlah halaman manuskrip berbahasa Arabrelatif berukuran tebal di atas 150 halaman.

Tidak semua manuskrip mempunyai kolofon karena dalam tradisi penulisan Islam masa lalu, kolofon diletakan di akhir kitab dan banyak lembaran akhir yang hilang karena robek atau tidak usang sehingga tidak terbaca. Kendati demikian, perkiraan waktu beberapa manuskrip mudah di prediksi karena mencantumkan nama pemilik yang merupakan runutan silsilah nasab dari Kiai Salim. Kita bisa menghitung perkiraan itu berdasar urutan silsilah itu. Rupanya, manuskrip-manuskrip yang banyak itu merupakan warisan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, setiap generasi mewarisi lebih banyak dari generasi berikutnya. Sunan Ampel mewariskan hanya beberapa manuskrip kepada putranya Sunan Derajat, kemudian Sunan Derajat mewariskan peninggalan Sunan Ampel kepada anaknya Maulana Muhammad Arif plus manuskrip milik atau tulisan Sunan Derajat Sendiri demikian selanjutnya. Di antara manuskrip yang sempat penulis baca kepemilikannya adalah manuskrip milik atau tulisan Maulana Muhammad Arif (putra Sunan Derajat), manuskrip milik Maulana Nururrahman dan manuskrip milik Maulana Muhammad Musa, semuanya adalah leluhur dari Kiai Muhammad Salim.

Adapun silsilah Kiai Muhammad Salim sampai Sunan Ampel adalah: Sunan Ampel mempunyai anak Sunan Derajat mempunyai anak Maulana Muhammad Arip mempunyai anak Maulana Muhammad mempunyai anak Maulana Muhammad Ilyas mempunyai anak Maulana Muhammad Zamzam mempunyai anak Maulana Nur Muhammad mempunyai anak Maulana Muhammad Nururahman mempunyai anak Maulana Muhammad Huda mempunyai anak Maulana Muhammad Aliyah mempunyai anak Maulana Muhammad Musa mempunyai anak Maulana Muhammad Hasan mempunyai anak Maulana Muhammad Isa mempunyai anak Kiai raden Mas Muhammad Jufri mempunyai anak Kiai Raden Mas Muhammad Mughni mempunyai anak Kiai Raden Mas mUhammad Salim Cilacap. Jumlah silsilah ini dilihat dari titimangsa Ketika dibandingkan dengan jumlah keturunan Walisongo lainnya, misalnya keturunan Sunan Gunung Jati yang berada di 16, 17 dan 18 generasi, sangat presisi.

Manuskrip-manuskrip Bantarsari di atas adalah warisan tidak terkira dan sangat berharga. Ia merupakan bukti empiris akan keberadaan Walisongo terutama Sunan Ampel dan Sunan Derajat. Membuktikan bahwa keduanya adalah sosok historis dan bahwa Islam, sesuai dengan penelitian para sejarawan, benar-benar telah berkembang luas di Jawa pada abad ke 15 Masehi. Kertas daluwang yang dipakai dengan keusangan tertentu membuktikan bahwa manuskrip itu ditulis sebelum masa kolonial, jadi manuskrip-manuskrip itu suci dari intervensi kolonial. Kertas daluang diperkirakan mulai digunakan di Nusantara sebagai media tulis sejak abad ke-14 Masehi, namun keberadaannya sebagai bahan pakaian sudah tercatat jauh sebelumnya, yakni sekitar abad ke-9 Masehi. Daluang (sering disebut dluwang atau dlancang) pada abad ke-9 digunakan sebagai bahan pakaian untuk para pandita atau orang bijaksana, sebagaimana disebutkan dalam naskah kuno Kakawin Ramayana. Bukti tertua penggunaan daluang sebagai media tulis ditemukan pada naskah Undang-Undang Tanjung Tanah di Gunung Kerinci.

Penggunaan daluang meluas seiring penyebaran Islam, terutama di lingkungan pesantren untuk menulis Mushaf Al-Qur’an, naskah keagamaan, dan bahan baku wayang beber. Di Jawa, kertas ini juga dikenal sebagai “Kertas Ponoragan” karena pusat produksinya yang terkenal di wilayah Ponorogo. Karakteristik Utama daluwang terbuat dari kulit kayu pohon Saeh (Broussonetia papyrifera), daluang memiliki tekstur berserat, berwarna cokelat alami, dan diproses dengan cara ditempa atau dipukul-pukul secara tradisional.

Sementara mansukrip-manuskrip tentang Walisongo yang sebelumnya ditemukan kebanyakan ditulis di atas kertas Eropa menunjukan waktu yang relative lebih muda dan isinya bias kolonial. Kertas Eropa diperkirakan mulai digunakan di Indonesia (Nusantara) sekitar abad ke-17 hingga ke-18 Masehi. Penggunaannya semakin meluas seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan dan pengaruh bangsa Eropa di wilayah ini. Kertas ini mulai beredar di Nusantara secara signifikan pada abad ke-17, terutama dibawa oleh para pedagang dan misionaris dari negara-negara seperti Belanda, Inggris, dan Italia. Kertas Eropa umum digunakan untuk menyalin naskah keagamaan, seperti Mushaf Al-Qur’an kuno, dan dokumen administratif pada masa kolonial VOC. Ciri Khas kertas Eropa dari periode ini dapat dikenali melalui adanya watermark (cap air) dan countermark yang bisa dilihat dengan menerawang kertas di bawah cahaya. Selain itu, kertas ini sering memiliki garis-garis tipis dan tebal yang khas dari proses pembuatannya. Sekian.

Artikel terkait...

SANAD YASIN FADHILAH DAN TAHLIL DARI SUNAN AMPEL

SANAD YASIN FADHILAH DAN TAHLIL DARI SUNAN AMPEL

Oleh: imaduddin Utsman Al-Bantani Alhamdulillah pada hari Rabu, 15 April 2026, selain penulis diperlihatkan puluhan dari ratusan manuskrip peninggalan Sunan Ampel, Sunan Derajat dan keturunannnya, penulis juga diberikan ijajah sanad keilmuan dari jalur Sunan Ampel oleh cucu Sunan Ampel garis…

Alun 17 Apr 2026 36 4 menit baca
TRANSFORMASI AKAD JUAL BELI DALAM ERA DIGITAL:TINJAUAN FIKIH MUAMALAH TERHADAP E-COMMERCE

TRANSFORMASI AKAD JUAL BELI DALAM ERA DIGITAL:TINJAUAN FIKIH MUAMALAH TERHADAP E-COMMERCE

Oleh : Sam’ani Halimi (Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum Cempaka) Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi sosial-ekonomi masyarakat. Pada tahap awal, sistem pertukaran barang dilakukan secara sederhana melalui mekanisme barter, yang…

Alun 14 Apr 2026 72 5 menit baca
Dari Imam al-Syafi’i dan Mustafa al-Azami hingga KH. Imaduddin Utsman al-BantanieSinopsis Kitab al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah

Dari Imam al-Syafi’i dan Mustafa al-Azami hingga KH. Imaduddin Utsman al-BantanieSinopsis Kitab al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah

Oleh Rikko Aji Dharma (Alumni Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences) Dalam tradisi keilmuan Islam awal, al-Imām Muhammad ibn Idris al-Syāfi’ī (w. 204 H) melalui karyanya al-Risālah berhasil mematahkan argumen kelompok yang berpendapat bahwa hadis āḥād tidak dapat dijadikan hujjah…

Alun 10 Apr 2026 86 5 menit baca