YAMAN — Akademisi asal Yaman, Dr. Nadine Al-Mewari, menyoroti perbedaan signifikan antara narasi silsilah tradisional dengan realitas temuan tes DNA mengenai klan Ba’alawi di Hadhramaut.
Melalui pernyataan tertulis di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), Dr. Nadine memaparkan dua poin utama yang membandingkan klaim historis dengan data sains genetik modern:
- Klaim Silsilah Ba’alwi
Dr. Nadine menjelaskan bahwa klan Ba’alawi di Hadhramaut secara tradisional mengidentifikasi diri mereka sebagai keturunan Al-Husayn bin Ali bin Abi Talib. Secara silsilah, klaim garis keturunan ini seharusnya menempatkan diri mereka sebagai bagian dari suku Quraisy dan keturunan Adnani.
Dalam perspektif genetika populasi, klaim keturunan patrilineal dari suku Quraisy/Adnani seharusnya menempatkan garis keturunan pria mereka pada Haplogroup J1. Haplogroup J1 merupakan marker genetik Kromosom Y yang paling dominan ditemukan pada suku-suku Arab Adnani dan klan Quraisy.
- Realitas Genetik Berdasarkan Tes DNA
Namun, Dr. Nadine mengungkapkan bahwa temuan lapangan melalui berbagai tes genetik yang dilakukan dalam proyek-proyek silsilah kromosom Y beberapa tahun terakhir menunjukkan hasil yang berbeda.
Data menunjukkan bahwa mayoritas sampel dari klan Baalwi Hadhramaut yang telah diuji justru masuk ke dalam Haplogroup G.
Dr. Nadine menegaskan bahwa Haplogroup G bukanlah penanda genetik untuk keturunan suku Adnani maupun Quraisy. Secara ilmiah, Haplogroup G memiliki keterkaitan erat dengan asal-usul populasi di wilayah Kaukasus dan Anatolia, yang di masa lampau mengalami migrasi ke berbagai belahan wilayah lain.
Ulasan Dr. Nadine Al-Mewari ini menambah panjang deretan diskusi ilmiah berbasis data sains genetika modern terkait kesesuaian antara catatan silsilah tradisional dengan jejak DNA Kromosom Y pada populasi di Timur Tengah.
Sumber akun X Dr. Nadine Al Mewari



