Oleh Rikko Aji Dharma (Alumni Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences)
Dalam tradisi keilmuan Islam awal, al-Imām Muhammad ibn Idris al-Syāfi’ī (w. 204 H) melalui karyanya al-Risālah berhasil mematahkan argumen kelompok yang berpendapat bahwa hadis āḥād tidak dapat dijadikan hujjah dalam Islam. Atas kontribusi ini, para ulama hadis menjulukinya sebagai Pembela Sunnah ( Nāṣir al-Sunnah ).
Hal yang serupa juga dapat ditemukan dalam perkembangan studi hadis modern. Prof. Dr. Muhammad Mustafa al-Azami (1932–2017), melalui disertasinya Studies in Early Hadith Literature yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub (1952–2016) dengan judul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya , secara argumentatif berhasil membantah skeptisisme orientalis, khususnya pandangan Ignaz Goldziher (1850–1921) dan Joseph Schacht (1902–1969). Al-Azami menegaskan otentisitas hadis yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Atas kontribusi tersebut, sebagian cendekiawan Muslim menyebutnya sebagai Pembela Eksistensi Hadis..
Kedua kontribusi intelektual tersebut menunjukkan bahwa perhatian ulama terhadap disiplin ilmu hadis berlangsung secara berkesinambungan, baik dalam tradisi keilmuan Islam awal maupun dalam studi hadis modern. Dalam konteks kesinambungan ini, salah satu ulama Nusantara yang turut memberikan perhatian serius terhadap ilmu hadis adalah KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie melalui karyanya al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah.
Kitab al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie adalah syarh atas Naẓm al-Bayqūniyyah karya Umar ibn Muhammad al-Bayqūnī (w. 1080 H) yang membahas dasar-dasar ilmu musthalah hadis. Dalam khazanah intelektual Islam, Naẓm al-Bayqūniyyah telah disyarahi oleh sejumlah ulama, antara lain:
- Talqīḥ al-Fikr bi Syarḥ Manẓūmah al-Athar, karya Ahmad ibn Muhammad al-Hamawī (w. 1098 H)
- Syarḥ Manẓūmah al-Bayqūnī, karya Muhammad ibn Ahmad al-Budayri al-Dimyātī (w. 1140 H)
- Syarḥ al-Manẓūmah al-Bayqūniyyah, karya Hasan ibn Ghali al-Azhari al-Jadāwī (w. 1202 H)
- Syarḥ al-Manẓūmah al-Bayqūniyyah, karya Muhammad ibn ‘Abd al-Bāqī al-Zarqānī (w. 1122 H)
- Al-Kawākib al-Nūrāniyyah ‘alā al-Bayqūniyyah, karya ‘Abdullāh ibn ‘Alī al-Damlījī (w. 1234 H)
- Laṭā’if Minaḥ al-Mughīth fī Muṣṭalaḥ al-Bayqūnī fī al-Ḥadīth, karya Muhammad ibn ‘Uthmān al-Mīrghānī al-Makkī (w. 1268 H)
- Al-Bahjah al-Waḍiyyah fī Syarḥ Matn al-Bayqūniyyah, karya Mahmūd ibn Muhammad ibn ‘Abd al-Dā’im (w. 1308 H)
- Al-Durrah al-Bahiyyah fī Syarḥ al-Manẓūmah al-Bayqūniyyah, karya Muhammad Badr al-Dīn ibn Yūsuf al-Madanī al-Dimashqī (w. 1354 H)
- Al-Taqrīrāt al-Saniyyah fī Syarḥ al-Manẓūmah al-Bayqūniyyah fī Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth, karya Hasan ibn Muhammad al-Mashāṭ al-Mālikī (w. 1399 H)
- Syarḥ al-Manẓūmah al-Bayqūniyyah, karya Muhammad ibn Ṣāliḥ al-‘Uthaymīn (w. 1421 H)
Kitab al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie hadir di tengah khazanah syarh atas Naẓm al-Bayqūniyyah tersebut, dengan pendekatan yang mudah dipahami sebagai jembatan awal bagi para pelajar dalam mendalami disiplin ilmu hadis. Dalam penyusunannya, KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie menerapkan dua pendekatan utama:
- Analisis kebahasaan terhadap teks Naẓm al-Bayqūniyyah, meliputi aspek makna leksikal serta kaidah nahwu-sharaf, yang disajikan secara ringkas dan terpisah dalam ta‘līqāt (catatan kaki).
- Penjelasan syarh berdasarkan ilmu musthalah hadis, disertai dengan contoh-contoh pada setiap pembahasannya.
Menariknya, semangat untuk menjembatani para pelajar dalam mendalami disiplin ilmu hadis tersebut diungkapkan secara eksplisit dan aplikatif oleh KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie pada muqaddimah kitabnya. Di bagian akhir muqaddimah, beliau menegaskan:
فَإِذَا قَطَعَ الطَّالِبُ هٰذِهِ كُلَّهَا فَقَدْ قَطَعَ شَوْطًا كَبِيرًا فِي التَّمَكُّنِ مِنْ هٰذَا الْفَنِّ
Artinya: “Apabila seorang pelajar telah menempuh seluruh tahapan ini, maka ia telah menempuh langkah yang besar dalam menguasai disiplin ilmu ini (ilmu hadis).”
Serangkaian langkah yang harus ditempuh oleh setiap pelajar yang hendak mendalami disiplin ilmu hadis menurut KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie dalam muqaddimah kitab al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah, ialah sebagai berikut:
- Meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt sebelum mendalami ilmu hadis.
- Memperbanyak menghafal matan Hadis
- Memperbanyak membaca matan hadis jika belum mampu menghafal sepenuhnya
- Memperbanyak menghafal sanad dan perawi hadis.
- Menelaah syarh-syarh matan hadis untuk mempelajari istilah-istilah asing (ghārīb) dan memahami berbagai makna serta tafsirnya
- Mempelajari musthalah hadis melalui kitab-kitab ilmu hadis secara berkala, dimulai dengan mendalami kitab al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah ini misalnya, dilanjutkan kepada kitab Taḥrīr ʿUlūm al-Ḥadīth karya Syaikh ʿAbdullāh al-Jadʾi, kitab Nuzhat al-Naẓar Syarḥ Nakbat al-Fikr karya Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, kitab al-Nukat ʿalā Ibn al-Ṣalāḥ karya Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, kitab Fatḥ al-Mughīth karya al-Hāfiẓ al-Sakhāwī, dan kemudian kitab al-Muqaddimah karya Ibn al-Ṣalāḥ
- Langkah berikutnya disempurnakan dengan mempelajari kitab-kitab tentang al-ʿIlal dan Takhrīj hadis.
Perhatian yang besar dan semangat yang kuat tersebut membuat kitab al-Muhimmah fī Syarḥ Naẓm al-Bayqūniyyah karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie tidak hanya menjadi kontribusi dalam khazanah intelektual Islam pada disiplin ilmu hadis, tetapi juga merawat kesinambungan perhatian ulama klasik dan kontemporer terhadap hadis Nabi Saw. Lebih dari itu, kitab ini berupaya menjembatani para pelajar dalam mendalami ilmu hadis secara valid, di tengah maraknya slogan “ Kembali kepada al-Qur’an dan Hadis ” yang kerap disalahpahami oleh sebagian kalangan yang memiliki semangat beragama melangit, tetapi masih diiringi pemahaman agama yang sempit. Nāfa‘anā Allāhu bihim wa bi-‘ulūmihim fī al-darayn, āmīn



