Kamis, 5 Maret 2026

Bagai Pungguk Merindukan Bulan; Bagai Jentayu Merindukan Hujan

Image

(Harapan Rabithah Alwiyah ke Gus Rumail Pupus Berserak di Sahara Mimpi yang Tak Bertepi)

Gus Rumail menulis: “Naskah ‘Menakar Kesahihan (Argumentasi) Pembatalan Ba’alwa’ rencana akan saya unggah di sini. Tapi untuk sekarang baru proses cetak dulu, dan belum saya jilid juga (kemudian saya kirimkan ke Kiai Imaduddin al-Bantani). Kalau beliau sudah menerimanya (hard-copy), akan saya unggah untukmu di pranala di atas (soft-copy). Oiya, punya alamat lengkap PCNU Wonogiri, Soloraya, dan Garut (mau saya kirimi sekalian)?”

Itulah seberkas harapan yang ditebar Gus Rumail untuk para muhibbin Ba’alwi. Kalimat itu, adalah kertas yang dibakar ketika lentera tak mampu lagi menyemburatkan api, karena minyak tanah telah menjadi kering. Berharap padam tak terlalu menimbulkan gelap; Lalu sebentar ia menjadi abu, dan dunia kembali dalam gulita.

Gus Rumail mengunggah sebuah cover dari calon buku yang akan ia tulis, lalu membuat narasi seperti di atas. Penulis teringat beberapa cover kitab yang diunggah untuk membantah kitab penulis: cover kitab Kyai Qurtubi; cover kitab Ustaz Wafi; cover kitab Ustaz Zaini. Tetapi kitab-kitab itu bagaikan siluman, wujudnya tiada pernah dapat ditemui hingga saat ini. Ia fana dalam keangkuhan kata-kata; sirna dalam sanubari yang terbebani haya’; lalu ia dilupakan bersamaan dengan derap langkah kebenaran yang semakin tegap perkasa.

Pikiran yang diterjemahkan dalam tulisan, berbeda nilai dari pikiran yang hanya di-lepeh-kan lidah yang tak bertulang. Itulah mengapa ayat al-Qur’an yang pertama diturunkan adalah “Iqra” (bacalah), bukan “Isma” (dengarkanlah).

Kejernihan pikiran, dan rancang bangun logika dalam tulisan, bisa diuji; Kejujuran dan kedustaan terbaca. Apalagi jika ia berbahasa Arab, pengetahuannya dalam ilmu nahwu, sorof, bhalagah, mantiq, dan kedalaman pemahamannya akan suatu qadhiyyah (proposisi) akan terdeteksi dengan terang benderang. Semakin sederhana bahasa yang dipakai untuk menerjemahkan apa yang telah dipahami dalam suatu bidang pada suatu tulisan, maka semakin terlihat kedalaman penguasaan penulisnya pada bidang itu. Demikian juga sebaliknya.

Contoh, tulisan singkat Gus Rumail di atas. Mungkin akan difahami, oleh pendukung Ba’alwi, sebagai suatu yang bermakna, namun, jika betul-betul difahami, isinya hanya angan-angan saja.

Coba perhatikan kalimat Gus Rumail: ”Naskah ‘Menakar Kesahihan (Argumentasi) Pembatalan Ba’alwi’ rencana akan saya unggah di sini. Tapi untuk sekarang baru proses cetak dulu, …”, kalimat itu bukan benar-benar ia telah selesai menulis naskah, itu hanya baru rencana. Ia memberi harapan kepada pendukung Ba’alwi bahwa, kita belum kalah, nasab Ba’alwi masih bisa diselamatkan, nanti akan saya rilis buktinya, kapan? Nanti. Sekarang baru proses cetak dulu. Proses cetak naskah? Bukan, hanya cetak covernya saja.

Perhatikan juga kalimat: ”(kemudian saya kirimkan ke Kiai Imaduddin al-Bantani)”. Apakah ia telah mengirimkannya, tidak. Sudah 3 hari berlalu, Ia belum mengirimkannya, menurut seorang Kiai yang mengkonfirmasinya, katanya ia belum sempat ke Kantor Pos. Apa ia berdusta, wallahu a’lam.

Kemudian perhatikan juga kalimat: “Oiya, punya alamat lengkap PCNU Wonogiri, Soloraya, dan Garut (mau saya kirimi sekalian)? Kalau ada nomor kontak juga bagus, biar konteksnya silaturahmi dan tidak terkesan nyelonong (langsung ngirim berkas).”

Kesannya wow hebat, tulisan yang akan ia kirimkan akan dapat merubah pikiran kesadaran para kiai-kiai NU di Wonogiri, Soloraya, dan Garut, yang telah melarang warga NU untuk mengundang para habib ceramah di wilayahnya. Perlu diketahui, mereka sebenarnya telah memiliki kesimpulan sendiri tentang para habib yang berceramah di wilayahnya, dilihat dari akhlak dan kepribadiannya, bukan hanya karena ada tesis penulis. Ia telah lama terpendam dalam lubuk hati, kemudian terkonfirmasi oleh kajian pustaka penulis dan hasil tes DNA.

Kenyataannya, itupun hanya “lepeh ilat sing laka balunge”. Buku untuk PCNU Wonogiri dan lain-lain itu-pun belum dikirimkan.

Dalam statusnya di Facebook, Gus Rumail mengatakan: “…beberapa konten kreator masih stagnan dalam membahas itu-itu saja sampai tidak ada hal baru yang layak untuk didiskusikan.” Kenyataannya justru pihak RA dan para pendukungnya-lah yang masih stagnan tidak mampu menjawab 12 pertanyaan penulis. Kok dibalik-balik.

Yang aneh lagi, dan inilah yang membuat penulis menjadi tidak percaya terhadap integritas ilmiahnya, yaitu ketika Gus Rumail mengatakan:

“Ada pula naskah Al-Iklil yang diolah mereka dengan pemahaman sedikit melenceng, bahwa “Banu Alwi” yang di-reportase di dalamnya adalah “Banu Alwi” yang asli di Yaman, bukan Banu Alwi yang menurunkan habaib di seluruh dunia. Andaikan mereka mau mengkonfrontasinya dengan naskah lain, dari sejarawan yang berbeda, dan edisi naskah yang beragam, pasti akan mendapati bahwa yang benar di sana ialah “Banu Ulwi ibn Alyan”, bukan “Banu Alwi ibn Ayyan” (ada saqt naskh di sana).”

Kata “diolah”, seakan penulis tidak menyajikan kutipannya, siapapun bisa mempelajari kutipan penulis dari Al-Iklil tersebut, karena penulis cantumkan kutipannya, dan penulis cantumkan pula halamannya. Semua orang bisa menelitinya juga. Itulah kajian ilmiah, setiap kita mengklaim sebuah hujjah, maka hujjah itu harus dapat diamati bersama. Tidak seperti Gus Rumail, ketika berdalil, mirip dengan Ba’alwi lainnya, menyatakan pendapat orang, ada dalilnya, tetapi dalilnya tidak disebutkan dari mana, kitabnya apa, juz berapa, halaman berapa.

Seperti kutipan penulis di atas, Gus Rumail menyatakan bahwa kalimat Banu Alwi yang ada dalam kitab Al-Iklil itu yang benar adalah Banu Ulwi, bukan Banu Alwi. Dari mana ia mendapatkan kata “Ulwi” itu, sampai berani ia mengatakan itu yang benar, sama sekali tidak menyebutkan dalil. Tidaklah itu semua kecuali hanya membabi buta mempertahankan nasab Ba’alwi walau harus berdusta. Dan itu membuat penulis pesimis, siapa pengganti Gus Rumail nanti jika penulis sudah tidak mempercayai integritasnya. Karena penulis agak malas menanggapi narasi pembela Ba’alwi yang penulis kira tidak membantu Ba’alwi seperti narasi pembela Ba’alwi yang hanya menyandarkan hujjah dengan taqlid buta.

Kedustaan kedua Gus Rumail yang membuat penulis menjadi pesimis adalah tentang al-Maqrizi (wafat 845 Hijriah), katanya ia menyebut Ba’alwi sebagai “asyraf Hadramaut”, tetapi ia tidak menyebut di dalam kitab apa, halaman berapa, manuskrip apa, kutipannya mana?

Cara ber-hujjah itu begini, Gus Rumail! Penulis sampaikan: al-Muqrizi seorang sejarawan asal Mesir abad ke-9 Hijriah, ia tidak menyebut Ba’alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw., ia menyebut Ba’alwi hanya sebagai keturunan Arab dari Hadramaut. Ini menunjukan bahwa Ba’alwi memang bukan keturunan Nabi Muhammad Saw. Silahkan perhatikan tulisan al-Muqrizi di bawah ini:

قال ابو بريك واخبرني الفقيه المعتقد ابراهيم بن الشيخ عبدالرحمن بن محمد العلوي من قبيلة يقال لها ابا علوي من عرب حضرموت

“Abu Buraik berkata: dan telah mengkhabarkan kepadaku al-Faqih al-Mu’taqad Ibrohim bin Shaykh Abdurrahman bin Muhammad al-Alwi, dari kabilah yang disebut Aba Alwi berasal dari Arab Hadramaut”. (lihat manuskrip al-Thurfat al-Gorbiyyah karya al-Muqrizi halaman 9).

Demikian itu ber-hujjah, jelas disebutkan dalilnya, manuskrip apa, halaman berapa. Jelas disebut Ba’alwi itu hanya orang Arab dari hadramaut, bukan para syarif keturunan Nabi Muhammad Saw. dan nama Abdurrahman (kakek Ali al-Sakran) hanya disebut sebagai seorang “syaikh” bukan “syarif” atau “sayyid” sebagai penanda ia keturunan Nabi Muhammad Saw.

Terakhir, sejak 3 November 2023 sampai saat ini, sudah 50 hari berlalu, 12 pertanyaan penulis kepada RA tidak bisa dijawab; 4 November 2023 penulis kirimkan pula pertanyaan yang sama kepada Gus Rumail, pun tidak bisa dijawab sampai sekarang. Lalu apa yang hendak muhibbin katakan tentang nasab Ba’alwi itu? Sangat berdosa orang yang mengetahui ada penyusup dalam nasab Nabi Muhammad Saw lalu ia membelanya. Apa yang akan ia jawab ketika bertemu baginda Nabi Muhammad Saw. kelak di tepian telaga Kautsar?

Artikel terkait...

القصيدة الرجزية في مدح الشيخ عمادالدين عثمان المجدد من بنتن

القصيدة الرجزية في مدح الشيخ عمادالدين عثمان المجدد من بنتن

  كتبه الشيخ توباغوس ديدي فهليفي البنتني   Syair Rajaz dalam Memuji K.H. Imaduddin Utsman Sang Mujaddid dari Banten   Karya: Kiai Tubagus Didi Falevi Al-Bantani       **١.اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْعَظِيْمِ الْغَافِرِ  تَقْدِيْسُهُ يَعْلُو عَلَى الضَّمَائِرِ   Segala puji…

Alun 4 Mar 2026 41 4 menit baca
MELEPAS BAHAR SMITH POLRES METRO TANGERANG KOTA ADA APA?

MELEPAS BAHAR SMITH POLRES METRO TANGERANG KOTA ADA APA?

Penetapan status tersangka terhadap Bahar Smith dalam kasus dugaan pengeroyokan anggota Banser, Rida, memicu gelombang tanya di tengah masyarakat. Meski bukti permulaan telah cukup dan luka yang diderita korban tergolong berat, ketiadaan penahanan dengan alasan permohonan maaf dan upaya Restorative…

Alun 25 Feb 2026 125 6 menit baca
BUBARKAN RABITHAH MEMUTUS RANTAI MANIPULASI:

BUBARKAN RABITHAH MEMUTUS RANTAI MANIPULASI:

Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah bagi Ba’alwi KH. Ubaidillah Tamam Munji Tulisan ini mengeksplorasi fenomena keberanian ilmiah K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani dalam melakukan dekonstruksi terhadap keabsahan nasab klan Ba’alwi di Indonesia. Melalui metodologi kritik sejarah yang ketat, Kiai…

Alun 24 Feb 2026 114 28 menit baca