Setelah nasab Ba’alwi diputus oleh Majma Fuqaha Jawa bahwa mereka mustahil sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, Riziq Syihab pimpinan ormas terlarang, FPI, kini rajin mengiklankan bahwa Walisongo adalah termasuk klan Ba’alwi. Di berbagai kesempatan Riziq selalu menyisipkan pesan bahwa Walisongo adalah bagian dari klan Ba’alwi. Mungkin, menurut Riziq, usaha yang dilakukannya mudah-mudahan bisa mengurangi keterpurukan nasabnya yang telah jatuh ke titik nadir, rungkad serungkad-rungkadnya.
Fenomena ini Ini berbanding terbalik dengan masa-masa sebelum tahun 2022, di mana para habib menolak keras keturunan Walisongo yang mengaku sebagai bagian dari keluarga Ba’alwi padahal hal tersebut terdapat dalam beberapa kitab Ba’alwi sendiri. Berbagai macam hinaan dialami oleh keturunan Walisongo yang terlanjur menerima penisbahan Walisongo ke Ba’alwi.
Kronologisnya begini: entah untuk kepentingan prestise sosial atau lainnya, beberapa penulis Ba’alwi pada tahun 1933 Masehi mulai mengklaim bahwa para sultan dari kesultanan-kesultanan besar di Nusantara dan para penyebar agama Islam seperti Kesultanan Banten dan keluarga Walisongo adalah bermarga Ba’alwi. Klaim ini tentu dengan menggeser dan membelokan para sultan dan Walisongo dari nasabnya yang sejati. Tokoh dari Klan Ba’alwi yang pertama menyatakan garis keturunan para sultan dan Walisongo bagian dari Ba’alawi adalah Alwi bin Tahir dalam bukunya yang ditulis pada tahun 1933 M, berjudul “Tarikh al-Abdil Malik” yang ditulis di Bogor, Indonesia. Kemudian Ahmad ibn Abdullah al-Saqqaf Ba’Alawi (wafat 1369 H) dalam bukunya, “Shaltanah Banten al-Islamiyah bi Jazirati Jawah min jihhat al-Garbiyyah”, dan Salim ibn Jandan (wafat 1969 M) dalam bukunya, “Rawdat al-Wildan.” Dalam cetakan kitab Syamsudzahirah tahun 1984 pun dalam catatan pinggir dicantumkan susunan silsilah para sultan Banten yang tersambung ke Ba’alwi.
Ketika sekitar tahun 2015 M ada sebagaian kecil keturunan Sultan dan Walisongo berhusnuzon bahwa catatan Ba’alwi itu mungkin saja benar, pihak klan habib Ba’alwi malah berbalik menolak. Dulu mereka memasukan dengan sepihak, kemudian justru mereka pulalah yang berbalik menolak. Penolakan itu dilakukan baik secara resmi maupun lisan. Misalnya, dalam sebuah portal berita Bernama Fakta kini, yang kemungkinan besar milik ormas terlarang, FPI, pada 16 Oktober 2022, portal itu menurunkan satu judul “Habib Alidien Assegaf: Azmatkhan Ahlul Bait, Tapi Tak Ada Bukti Nasab Walisongo Tersambung ke Abdul Malik”. Jadi menurut Alidin, memang benar bahwa Abdul Malik Azmatkhan itu adalah anak dari Muhammad Sahib Mirbat tetapi Walisongo dan para Sultan di Nusantara itu tidak ada bukti sebagai keturunan Abdul Malik Azmatkhan. Alidien Assegaf sendiri disebut dikalangan Ba’alwi sebagai pakar nasab. Berita itu bisa dibaca di link berikut ini:
https://www.faktakini.info/2022/10/habib-alidien-assegaf-azmatkhan-ahlul.html#gsc.tab=0
dalam portal itu Alidin menyatakan “…Akan tetapi keterangan di atas tidaklah menjelaskan tentang kesahihan nasab Wali Songo secara pasti, akan tetapi hanya menjelaskan adanya keturunan Abdul Malik yang dikenal sebagai Bangsa Al Azumatkhan di India. Di kitab al-Habib Ali bin Ja’far as-Seggaf, di tuliskan keterangan di bawah nama Abdul Malik, beliau memiliki keturunan di Suraj dan Barwaj. Harus di bedakan ketika kita membahas adanya keturunan Abdul Malik yang di kenal Al Azumatkhan dengan ketika kita membahas tentang nasab Wali Songo. Seandainya kita tetapkan ( Itsbat ) bahwa Abdul Malik memiliki keturunan di India yang di kenal dengan Bangsa Al Azumatkhan berdasarkan keterangan di atas, belum ada bukti-bukti yang kongkrit, terang dan jelas tentang ketersambungan nasab walisongo ke Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih. Memang banyak data-data yang beredar tentang nasab walisongo ke Abdul Malik Bin Alwi Ammul Faqih, namun kalau kita teliti lebih jauh sumber-sumber data tersebut, kita akan menemukan banyak sekali pertentangan/kontradiksi satu sumber data dengan sumber data lainnya sehingga sulit bagi para ahli nasab untuk mengistsbat atau memastikan kesahihan tersambungnya nasab Wali Songo ke Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih.”
Alidin melanjutkan bahwa Bangsa Al Azumatkhan itu ada. Tetapi, belum ada bukti yang konkrit dan layak jadi bukti yang cukup tentang kesahihan nasab wali songo ke Abdul malik bin Alwi Ammul Faqih. Dan yang berat dan sangat sulit, menurut Alidin, tidak ada data-data yang valid dan jelas dan pencatatan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi selanjutnya tentang tersambungnya nasab orang-orang zaman sekarang yang menisbatkan dirinya sebagai keturunan Wali Songo yang berbangsa Al Azumatkhan dan pada akhirnya mereka menisbatkan dirinya sebagai Ahlul Bait keturunan Rasulullah SAW. Demikian penolakan Alidin Assegaf terhadap nasab Walisongo sebagai bagian keluarga Ba’alwi. Sebagai Ba’alwi, apalagi katanya sebagai pakar nasab, Alidin berhak menyampaikan vonis bahwa Walisongo bukan Ba’alwi, tetapi untuk poin selanjutnya yaitu tuduhannya bahwa keturunan Walisongo tidak dicatat berkesinambungan adalah tuduhan tidak berdasar. Bagaimana nasab walisongo tidak tercatat, padahal Sebagian keturunan walisongo juga adalah para raja dan sultan yang nasabnya terjaga untuk kepentingan suksesi dari masa ke masa.
Melihat adanya berita itu di portal FPI, seharusnya Riziq malu untuk berceramah di hadapan jama’ah mengaku-ngaku bahwa Walisongo adalah Ba’alwi. Karena yang demikian itu berarti pernyataannya bertentangan dengan portal-nya sendiri.
Bahkan dalam sebuah video, Alidin tegas menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Walisongo itu adalah bagian keluarga Ba’alwi. Yang menyambungkan nasab Walisongo ke Ba’alwi itu hanya ahli sejarah bukan ahli nasab. Sedangkan pakar nasab Ali Zainal Abidin Al-Awsath yang wafat tahun 1041 H. hanya mencatat nama Abdul Malik tidak mencatat keturunannnya. Lalu, mungkin pertanyaan Alidin, dari mana banyak orang hari ini mencantolkan diri ke Abdul Malik, jika 400 tahun yang lalu saja ahli nasab Ba’alwi tidak ada yang tahu nama-nama keturunannnya? Video Alidin assegaf itu bisa kita lihat di link:
Penolakan kaum Ba’alwi terhadap keturunan Walisongo juga di sampaikan melalui surat resmi Naqobatul Asyraf al-Kubro, sebuah Lembaga nasab milik keluarga Ba’alwi. Ketua Lembaga tersebut, Zainal Abidin Seggaf Assegaf, menyatakan secara formal dengan surat resmi bahwa nasab Walisongo tertolak sebagai bagian dari klan Ba’alwi. Surat itu, seperti terdapat dalam link berikut ini:
https://www.instagram.com/p/CbFzPa-Jog4/
surat itu ditandatangani langsung oleh yang bersangkutan pada 10 April 2018. Surat itu membantah dengan tegas klaim yang menyatakan bahwa Walisongo adalah bagian dari Ba’alwi.
Di bawah ini isi surat itu secara lengkap:
NAQOBATUL ASYROF AL-KUBRO
Lembaga Pemeliharaan, Penelitian Sejarah dan Silsilah “ALAWIYYIN”
SURAT KETERANGAN
Kepada Yth, Segenap keluarga Alawiyyin
di tempat
Assalammu ‘alaikum Wr.Wb
Alhamdulillahi Rabbi alami, Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad Wa ‘ala Alihi wa Sohbihi Ajma’in.
Sehubungan dengan adanya pertanyaan dari beberapa masyarakat dan khususnya dari kalangan keluarga Alawiyyin perihal keabsahan daripada nasab keluarga AZMATKHAN, yang mana keluarga tersebut menyatakan Silsilah mereka (AZMATKHAN) tersambung hingga Al-Imam Abdul Mallik bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbat.
Dengan ini Lembaga Peneliti Sejarah & Silsilah Keluarga Alawiyin NAQOBATUL ASYROF AL-KUBRO Ingin menyampaikan terimakasih atas kepeduliannya terhadap kemurnian Nasab keturunan Nabi Muhammad SAW yang selama ini banyak di SALAH GUNAKAN oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, dan hal tersebut mereka lakukan hanya untuk kepentingan beberapa kelompok maupun pribadi.
Adapun perihal keabsahan nasab keluarga AZMATKHAN tsb diatas dapat kami sampaikan bahwa dilembaga kami hingga saat ini TIDAK MEMPUNYAI CATATAN NASAB dari marga tersebut dan NASAB MEREKA TERTOLAK dikarenakan tidak ada nya data autentik dari ahli nasab terdahulu.
Demikian surat penjelasan ini kami sampaikan, atas kepedulian dan juga perhatiannya kami sampaikan terimakasih dan mohon maklum adamya.
Wassalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh
10 April 2018
Sayyid Zainal Abidin Segaf Assegaf, ditandatangani, distempel resmi.
Surat tegas dari Naqobatul Asyrof al-Kubro ini diharapkan menjadi perhatian para Asyraf dan Sadah Walisongo yang masih mempercayai Riziq Syihab yang menyatakan secara lisan bahwa nasab Walisongo tersambung kepada Ba’alwi. Karena pernyataan lisan Riziq Syihab itu dilakukan kemungkinan besar untuk tujuan social, yaitu terkait dengan nasab Ba’alwi yang sudah dinyatakan bukan keturunan Nabi Muhammad SAW oleh Majma’ Fuqoha Jawa. Para keturunan Walisongo adalah para Asyraf dan Sadah karena mereka adalah keturunan para sultan dan raja di kesultanan dan kerajaan di Nusantara selain keturunan Nabi Muhammad SAW, baik jalur laki-laki maupun perempuan.
Berita-berita nasab dan sejarah yang bersumber dari buku-buku Ba’alwi tidak bisa dijadikan sumber rujukan karena penuh dengan kepentingan selain nasab dan sejarah. Contohnya tentang nasab Sunan Gunung Jati yang disebutkan oleh Ba’alwi bahwa Sunan Gunung jati bin Abdullah Umdatuddin bin Ali bin Husain Jumadil Kubra bin Abdullah bin Abdul Malik bin Muhammad Sahib Mirbat. Bagaimana mereka tahu bahwa Abd al-Malik yang Konon Berhijrah ke India ini memiliki seorang putra bernama Abdullah, padahal Ali al-Sakran pada abad kesembilan Hijriah tidak Ada menyebutkannya bahwa Abdul malik mempunyai anak Bernama Abdullah dalam Al-Burqa?
Begitupula Abd al-Rahman al-Mashhur, yang meninggal pada tahun 1902 M, Juga tidak menyebutkan silsilah itu dalam bukunya, “Shams al-Zahira.” Ia juga tidak menyebutkan bahwa Abd al-Malik memiliki seorang putra bernama Abdullah, seperti yang disebutkan hari ini. Jadi bagaimana orang yang hidup hari ini mengetahui Abdul malik mempunyai anak Bernama Abdullah sementara di masa sebelumnya sama sekali tidak ada yang menyebutkan.
Adapun klaim Muhammad Diya Shihab di pinggir Shams al-Zahira bahwa garis keturunan ini ditemukan dalam pohon silsilah para sultan Palembang, yang ditulis pada tahun 1161 H, bisa di Pastikan adalah klaim palsu yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Karena bagaimana mungkin penduduk Palembang mengetahui nama Muhammad Sohib Mirbat Ba’Alawi, padahal penduduk Hadhramaut Pada masa Itu tidak mengenalnya pada zamannya?
Penulis Imaduddin Utsman Al-Bantani



