Diskusi mengenai keabsahan silsilah klan Ba’Alawi (Hadramaut) kini semakin meluas ke panggung internasional. Sebuah ulasan mendalam dari ulama global, Shaykh Jameel Adams, turut menyoroti kelemahan mendasar dari klaim silsilah tersebut. Dalam pemaparannya, yang diyayangkan channel Youtube Ahlussunnah South Africa. ia secara tegas mengkritik taktik pengalihan isu yang kerap dilakukan oleh sebagian pihak dalam mempertahankan nasab klan Ba’Alawi.
Shaykh Jameel Adams menjelaskan bahwa selama ini terjadi distorsi narasi di masyarakat. Ketika para ulama dan ahli sejarah mempertanyakan keabsahan silsilah para habib, pihak pembela nasab sering kali membangun narasi seolah-olah yang sedang diserang atau diragukan adalah nasab suci Nabi Muhammad SAW.
“Tidak ada satu pun Muslim yang mempertanyakan keautentikan nasab Rasulullah SAW, karena itu adalah nasab paling mulia yang disepakati sejarah. Yang dipersoalkan oleh para ulama adalah silsilah dari para syekh atau habib itu sendiri,” tegas Shaykh Jameel Adams.
Dalam analisis kesejarahannya, Shaykh Jameel Adams membedah titik lemah paling krusial yang membatalkan keabsahan klaim keterhubungan klan Ba’Alawi ke garis keturunan Nabi. Masalah utama tersebut terletak pada nama Ubaidillah (atau disebut Abdullah), yang diklaim sebagai anak dari tokoh sejarah Ahmad bin Isa.
Berdasarkan dokumen sejarah primer, ia memaparkan fakta-fakta berikut: Kitab Kontemporer Tidak Mencatat Nama Ubaidillah: Kitab-kitab nasab kuno yang ditulis paling dekat dengan masa hidup Ahmad bin Isa secara konsisten mencatat bahwa beliau hanya memiliki tiga orang anak laki-laki. Dari ketiga nama tersebut, sama sekali tidak ada anak yang bernama Ubaidillah.
“Hilang” Selama Berabad-abad:
Nama Ubaidillah sebagai anak Ahmad bin Isa tidak pernah dikenal dalam literatur sejarah Islam selama beratus-ratus tahun.
Penyisipan Nama di Abad Belakangan:
Nama Ubaidillah baru mendadak muncul dan dicatat sebagai anak Ahmad bin Isa di dalam kitab silsilah pada sekitar abad ke-9 atau ke-10 Hijriah.
Berdasarkan kekosongan bukti dokumen selama berabad-abad tersebut, Shaykh Jameel Adams sepakat dengan kesimpulan para peneliti bahwa nama Ubaidillah sengaja disisipkan atau “ditanam” ke dalam silsilah di masa belakangan demi melegitimasi klaim keturunan nabi.
Pernyataan ilmiah dari Shaykh Jameel Adams ini semakin memperkuat argumentasi pembatalan nasab Ba’Alawi dari sisi naskah dan sejarah, melengkapi studi forensik genosains (Y-DNA) yang juga menemukan adanya ketidakcocokan biologis pada garis keturunan tersebut.


