Kamis, 9 Juli 2026

Surat Untuk Rabithah Alwiyah dan Gus Rumail

Image

Penulis, pagi tadi, telah mengirimkan surat yang ditujukan kepada ketua Rabithah Alwiyah (RA) di Jakarta dan Gus Rumail di Jepara. Surat itu, kepada Ketua RA, terkait dengan masih masifnya para keturunan Ba’alwi yang mengaku di hadapan publik sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw, padahal mereka tidak bisa menunjukan bukti, baik secara pustaka maupun hasil uji DNA, bahwa mereka nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad Saw. Sedangkan, surat kepada Gus Rumail terkait klaimnya tentang penemuan kitab sezaman.

Mungkin besok surat itu baru sampai di Kantor Rabithah Alwiyah. Dan butuh beberapa waktu sampai ke Jepara.

Terkait dengan tulisan Gus Rumail bahwa ia menemukan bukti sezaman itu, penulis tidak melihatnya demikian. Beberapa sanad hadits yang ditampilkan oleh Gus Rumail yang katanya dari sebuah manuskrip sezaman itu mencurigakan. Ia tanpa alamat. Tiada penulis yang disebutkan. Tiada tahun penulisan yang dinyatakan. Katanya masih dirahasiakan. Bukan rahasia, tetapi karena itu hanya P.H.P belaka. Manuskrip itu bukan tentang tahun yang disebutkan, tetapi tentang tahun berapa manuskrip itu ditulis. Isinya pun membagongkan. Misalnya tentang sanad hadis yang menyebut “telah menceritakan kepadaku ayahku dan pamanku Ubaidillah, keduanya putra Ahmad al-Abah…” kalimat ini nampak sekali dipaksakan. Muhammad bin Ali Ba’alwi, baik dia “Sohib Mirbat atau ia “Faqih Muqoddam”, tidak dikenal sebagai perawi hadits. Jelas itu manuskrip abal-abal.

Gus Rumail juga mengatakan: ia menemukan bukti sezaman Ahmad al-Muhajir. Jelas, jika yang di maksud Ahmad al-Muhajir itu adalah Sayid Ahmad bin Isa, tentu bukti sezaman itu banyak. karena Sayyid Ahmad bin Isa memang sosok historis yang terekam kitab-kitab nasab sezaman atau yang mendekatinya. Sedangkan yang dipermasalahkan adalah bukti sezaman yang menyatakan bahwa Sayyid Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubaidillah. Ini yang tidak akan pernah ditemukan sampai “puyuh buntuten”.

Selain itu, Gus Rumail juga mengaku ia menemukan bukti sezaman Muhammad “Sohib Mirbat” dan “Fakih Muqoddam”. Ini juga tidak mungkin. Algoritma penelusuran kitab-kitab abad ke-6 sampai abad ke-9 Hijriah, mengarah kepada bahwa Muhammad “Sohib Mirbat” adalah fiktif. Sedangkan, “Fakih Muqoddam” fakta kesejarahannya meragukan dan glorifikasi individunya kental. Dia bukanlah yang disebut dalam tulisan-tulisan Ba’alwi. Kitab-kitab berangka tahun yang sama dengan “Sohib Mirbat” Ba’alwi banyak ditulis, namun ia tidak menyebut ada sosok seorang Ba’alwi yang bernama Muhammad “Sohib Mirbat” yang tinggal di Mirbat.

Manuskrip kitab “Arbain” karya Ali bin Jadid yang diklaim Gus Rumail telah ditemukannya dikatakan di dalamnya dia (Ali bin Jadid) mendapatkan riwayat dari Muhammad “Sohib Mirbat” dan kakek-kakeknya. Luar biasa, tokoh fiktif dapat meriwayatkan hadits. Terlepas dari semua itu, setiap klaim bisa diuji, kita hargai enerji yang telah dikeluarkan itu, baik moril maupun materil.

Gus Rumail mengatakan: “Tinggal tentukan saja tempat dan waktunya, jika memang ada kekosongan jadwal akan saya datangi ke sana. Saya punya banyak sebutan dan panggilan, tapi “kabur dari dialog” bukanlah salah satunya.”

Penulis telah menyampaikan undangan diskusi melalui sahabat Hanif Farhan. Sebelum sahabat Hanif Farhan menentukan waktu, Gus Rumail menjawab: “Status saya kemarin sepertinya harus saya kasih disclaimer seperti berikut: Pertama saya ada pekerjaan di rumah. Kemungkinan akhir pekan (Sabtu-Minggu) saya bisa meluangkan waktu. Kedua, November-Desember ini saya memang belum bisa kemana-mana jika jaraknya tidak memungkinkan “sore sudah bisa pulang”….”. Intinya Gus Rumail, tidak siap berdiskusi dalam waktu dekat di Banten seperti statusnya di youtube “tinggal tentukan saja tempat dan waktunya…”.

Melihat beberapa youtuber yang mengoreksi klaim sumber sezaman Gus Rumail yang penuh kerancuan, penulis sebenarnya sudah pesimis apakah bermanfaat berdiskusi dengan Gus Rumail, tetapi penulis khawatir bahwa kesengajaan berbohong tidak mendapat nasihat yang diperlukan untuk keselamatan dunia dan akhirat saudara sesama muslim. Alasan demikian pulalah kenapa penulis banyak membagi waktu antara menjalankan tugas utama mengajar santri, dan menulis masalah nasab serta membaginya kepada kaum muslimin. Penulis yakin, saudara-saudaraku Ba’alwi yang hari ini marah, mereka nanti di hadapan Allah dan rasul-Nya akan berterimakasih.

Artikel terkait...

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Setelah sekian lama tenggelam dalam kesunyian, Rumail kembali melangkah ke pelataran wacana. Kali ini, ia membawa narasi baru tentang misteri Y-DNA. Darinya, berembus dua kabar yang kontras: satu kabar baik yang membawa secercah cahaya; kedua kabar buruk yang menyisakan kegetiran.…

Alun 6 Jul 2026 139 9 menit baca
Daftar Reportase Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU

Daftar Reportase Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU

Faizal Assegaf Ba’alwi Menghina NU dan Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari Pernyataan-pernyataan penghinaan Faizal Assegaf terhadap Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari mulanya berasal dari rekaman video panjang yang disiarkan oleh Faizal Assegaf melalui kanal YouTube pribadinya “Faizal Assegaf Official”. Namun video tersebut…

Alun 29 Jun 2026 228 37 menit baca
Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

Anak gembong PKI D.N. Aidit, Ilham Aidit menegaskan bahwa ayahnya adalah keturunan yaman. Penegasan itu sebagaimana direportase oleh Republika.co: “Terkait hal ini, Republika.co.id sempat berbincang dengan putra DN Aidit, Ilham Aidit. Dia mengaku, Aidit yang mereka sandang adalah nama marga.…

Alun 24 Jun 2026 146 16 menit baca