Minggu, 15 Februari 2026

Surat Untuk Rabithah Alwiyah dan Gus Rumail

Image

Penulis, pagi tadi, telah mengirimkan surat yang ditujukan kepada ketua Rabithah Alwiyah (RA) di Jakarta dan Gus Rumail di Jepara. Surat itu, kepada Ketua RA, terkait dengan masih masifnya para keturunan Ba’alwi yang mengaku di hadapan publik sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw, padahal mereka tidak bisa menunjukan bukti, baik secara pustaka maupun hasil uji DNA, bahwa mereka nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad Saw. Sedangkan, surat kepada Gus Rumail terkait klaimnya tentang penemuan kitab sezaman.

Mungkin besok surat itu baru sampai di Kantor Rabithah Alwiyah. Dan butuh beberapa waktu sampai ke Jepara.

Terkait dengan tulisan Gus Rumail bahwa ia menemukan bukti sezaman itu, penulis tidak melihatnya demikian. Beberapa sanad hadits yang ditampilkan oleh Gus Rumail yang katanya dari sebuah manuskrip sezaman itu mencurigakan. Ia tanpa alamat. Tiada penulis yang disebutkan. Tiada tahun penulisan yang dinyatakan. Katanya masih dirahasiakan. Bukan rahasia, tetapi karena itu hanya P.H.P belaka. Manuskrip itu bukan tentang tahun yang disebutkan, tetapi tentang tahun berapa manuskrip itu ditulis. Isinya pun membagongkan. Misalnya tentang sanad hadis yang menyebut “telah menceritakan kepadaku ayahku dan pamanku Ubaidillah, keduanya putra Ahmad al-Abah…” kalimat ini nampak sekali dipaksakan. Muhammad bin Ali Ba’alwi, baik dia “Sohib Mirbat atau ia “Faqih Muqoddam”, tidak dikenal sebagai perawi hadits. Jelas itu manuskrip abal-abal.

Gus Rumail juga mengatakan: ia menemukan bukti sezaman Ahmad al-Muhajir. Jelas, jika yang di maksud Ahmad al-Muhajir itu adalah Sayid Ahmad bin Isa, tentu bukti sezaman itu banyak. karena Sayyid Ahmad bin Isa memang sosok historis yang terekam kitab-kitab nasab sezaman atau yang mendekatinya. Sedangkan yang dipermasalahkan adalah bukti sezaman yang menyatakan bahwa Sayyid Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubaidillah. Ini yang tidak akan pernah ditemukan sampai “puyuh buntuten”.

Selain itu, Gus Rumail juga mengaku ia menemukan bukti sezaman Muhammad “Sohib Mirbat” dan “Fakih Muqoddam”. Ini juga tidak mungkin. Algoritma penelusuran kitab-kitab abad ke-6 sampai abad ke-9 Hijriah, mengarah kepada bahwa Muhammad “Sohib Mirbat” adalah fiktif. Sedangkan, “Fakih Muqoddam” fakta kesejarahannya meragukan dan glorifikasi individunya kental. Dia bukanlah yang disebut dalam tulisan-tulisan Ba’alwi. Kitab-kitab berangka tahun yang sama dengan “Sohib Mirbat” Ba’alwi banyak ditulis, namun ia tidak menyebut ada sosok seorang Ba’alwi yang bernama Muhammad “Sohib Mirbat” yang tinggal di Mirbat.

Manuskrip kitab “Arbain” karya Ali bin Jadid yang diklaim Gus Rumail telah ditemukannya dikatakan di dalamnya dia (Ali bin Jadid) mendapatkan riwayat dari Muhammad “Sohib Mirbat” dan kakek-kakeknya. Luar biasa, tokoh fiktif dapat meriwayatkan hadits. Terlepas dari semua itu, setiap klaim bisa diuji, kita hargai enerji yang telah dikeluarkan itu, baik moril maupun materil.

Gus Rumail mengatakan: “Tinggal tentukan saja tempat dan waktunya, jika memang ada kekosongan jadwal akan saya datangi ke sana. Saya punya banyak sebutan dan panggilan, tapi “kabur dari dialog” bukanlah salah satunya.”

Penulis telah menyampaikan undangan diskusi melalui sahabat Hanif Farhan. Sebelum sahabat Hanif Farhan menentukan waktu, Gus Rumail menjawab: “Status saya kemarin sepertinya harus saya kasih disclaimer seperti berikut: Pertama saya ada pekerjaan di rumah. Kemungkinan akhir pekan (Sabtu-Minggu) saya bisa meluangkan waktu. Kedua, November-Desember ini saya memang belum bisa kemana-mana jika jaraknya tidak memungkinkan “sore sudah bisa pulang”….”. Intinya Gus Rumail, tidak siap berdiskusi dalam waktu dekat di Banten seperti statusnya di youtube “tinggal tentukan saja tempat dan waktunya…”.

Melihat beberapa youtuber yang mengoreksi klaim sumber sezaman Gus Rumail yang penuh kerancuan, penulis sebenarnya sudah pesimis apakah bermanfaat berdiskusi dengan Gus Rumail, tetapi penulis khawatir bahwa kesengajaan berbohong tidak mendapat nasihat yang diperlukan untuk keselamatan dunia dan akhirat saudara sesama muslim. Alasan demikian pulalah kenapa penulis banyak membagi waktu antara menjalankan tugas utama mengajar santri, dan menulis masalah nasab serta membaginya kepada kaum muslimin. Penulis yakin, saudara-saudaraku Ba’alwi yang hari ini marah, mereka nanti di hadapan Allah dan rasul-Nya akan berterimakasih.

Artikel terkait...

التزامن الجيني والنسبي الهاشمي: بين ميثولوجيا الأنساب وواقع الهابلوغروب ونزاهة البحث العلمي

التزامن الجيني والنسبي الهاشمي: بين ميثولوجيا الأنساب وواقع الهابلوغروب ونزاهة البحث العلمي

بقلم: عماد الدين عثمان البنتني الجاوي   المقدمة: أزمة الإبستمولوجيا في ادعاءات النسب   على مدى أكثر من ألف عام، استندت سلطة الأنساب في الحضارة الإسلامية إلى ركيزة واحدة: التوثيق النصي. كانت مشجرات الأنساب التي تحفظها مؤسسات مثل “نقابة الأشراف”…

Alun 13 Feb 2026 37 4 menit baca
MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains (Tantangan Untuk Naqabat Al-Asyraf Mesir Sampai Rabitah Alwiyah Jakarta)

MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains (Tantangan Untuk Naqabat Al-Asyraf Mesir Sampai Rabitah Alwiyah Jakarta)

Selama berabad-abad, peradaban Islam telah terperangkap dalam sebuah paradoks yang ironis. Ia terbalut kabut sejarah dan terjajah berhala darah. Di satu sisi, Islam datang untuk menghapuskan sistem kasta jahiliah, namun di sisi lain, muncul sebuah konstruksi sosial yang mendewakan garis…

Alun 12 Feb 2026 112 7 menit baca
Dr. Hadi al-Amili administrator di FamilyTreeDNA (FTDNA) Konfirmasi J1-L859 sebagai Marker Genetik Asyraf dan Sadah Alawiyyin

Dr. Hadi al-Amili administrator di FamilyTreeDNA (FTDNA) Konfirmasi J1-L859 sebagai Marker Genetik Asyraf dan Sadah Alawiyyin

Dr. Hadi Al-Amili (lengkapnya Dr. Sayyid Hadi Yahya al-Amili) diakui secara luas dalam komunitas genealogis sebagai salah satu peneliti utama dan administrator dalam proyek-proyek DNA yang berfokus pada garis keturunan Bani Hasyim dan Quraisy. Ia salah satu tokoh sentral dalam…

Alun 11 Feb 2026 70 3 menit baca