Sabtu, 24 Oktober 2026

Sinopsis Kitab: AL-FATḤ AL-MUNĪR FĪ SYARḤ MANẒŪMAH AL-TAFSĪR(Telaah Kitab Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie;Merawat Khazanah Keislaman, Menjaga Sanad Keilmuan)

Image

Oleh: Riko Aji Darma

Dinamika perkembangan ilmu al-Qur’an dan tafsir tidak terlepas dari peran karya-karya ringkas yang kemudian mendorong lahirnya pengembangan keilmuan yang lebih luas. Salah satu di antaranya adalah kitab Nuqāyah al-‘Ulūm karya Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (849-911 H), yang kemudian disempurnakan oleh penulisnya sendiri melalui kitab Itmām al-Dirāyah li Qurra’ al-Nuqāyah . Karya ini menghimpun secara ringkas empat belas disiplin keilmuan dalam khazanah keislaman, dengan pembahasan tentang ilmu al-Qur’an dan tafsir sebagai salah satu bagian integral di dalamnya.

Meskipun kitab Nuqāyah al-‘Ulūm tidak disusun secara khusus sebagai karya dalam bidang ilmu tafsir, pembahasan ilmu al-Qur’an dan tafsir di dalamnya kemudian dikembangkan dalam bentuk nazham oleh Syaikh ‘Izzuddīn ‘Abd al-‘Azīz al-Zamzamī (900–976 H), dalam karyanya yang dikenal dengan Manẓūmah al-Zamzamī fī al-Tafsīr dan terdiri dari 158 bait. Nazham ini selanjutnya disyarahi oleh Sayyid Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H) dalam kitab Nahj al-Taysīr ‘alā Naẓm al-Tafsīr . Karya tersebut kemudian diperkaya dengan ḥāsyiyah oleh Sayyid ‘Alawī ibn Sayyid ‘Abbās ibn ‘Abd al-‘Azīz al-Mālikī al-Makkī (1328–1391 H) dalam kitab Fayḍ al-Khabīr wa Khulāṣah al-Taqrīr ‘alā Nahj al-Taysīr , serta dilengkapi dengan ta‘līqāt oleh Musnid al-Duniā , Syaikh Muhammad Yāsin al-Fādānī (1335–1410 H).

Tiga lapisan literatur keilmuan berupa nazham, syarḥ, dan ḥāsyiyah (di antaranya ta‘līqāt ) dalam dinamika perkembangan ilmu al-Qur’an dan tafsir tersebut, dihimpun secara komprehensif oleh ulama Nusantara asal Banten, yaitu KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie (lahir 19 Sya‘bān 1396 H), pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Banten, dalam karyanya bernama al-Fatḥ al-Munīr fī Syarḥ Manẓūmah al-Tafsīr.

Menariknya, kitab al-Fatḥ al-Munīr fī Syarḥ Manẓūmah al-Tafsīr karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie tersebut tidak sekadar menghimpun tiga lapisan literatur keilmuan sebelumnya sebagai khazanah intelektual keislaman saja, melainkan juga memiliki keterhubungan mata rantai sanad keilmuan yang kuat dengan para pengarangnya.

KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie tercatat sebagai salah satu murid yang sangat dekat dan belajar langsung belbagai disiplin keilmuan Islam dengan Abuya KH. Tubagus Ahmad Hasuri al-Bantanie ibn Tubagus Ahmad Thohir al-Bantanie. Abuya KH. Tubagus Ahmad Hasuri al-Bantanie sendiri merupakan pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren At-Thohiriyah, Serang, Banten. Beliau memiliki silsilah yang tersambung hingga Kesultanan Banten, lahir pada 30 Desember 1930 dan wafat pada usia 87 tahun, tepatnya pada hari Selasa, 29 Mei 2018, bertepatan dengan 13 Ramadan 1439 H.

Setelah menikah beberapa saat, Abuya KH. Tubagus Ahmad Hasuri al-Bantanie melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Makkah al-Mukarramah pada tahun 1950. Di sana, beliau belajar secara langsung kepada para ulama terkemuka pada masa itu, di antaranya Syaikh Ḥasan bin Muhammad al-Masyāṭ (1317–1399 H), yang merupakan guru bagi pengarang kitab Nahj al-Taysīr ‘alā Naẓm al-Tafsīr yaitu Syekh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H). Selain itu, beliau juga menimba ilmu dari Sayyid ‘Alawī ibn Sayyid ‘Abbās ibn ‘Abd al-‘Azīz al-Mālikī al-Makkī (1328–1391 H), pengarang kitab Fayḍ al-Khabīr wa Khulāṣah al-Taqrīr ‘alā Nahj al-Taysīr.

KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie juga memiliki keterhubungan sanad keilmuan dengan Syaikh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H), karena beliau pernah belajar langsung dengan Syaikh Sayyid Muhammad ibn Ibrāhīm ibn ‘Abd al-Bā‘ith al-Kattānī al-Iskandarī, murid dari Syaikh ‘Abd al-Ḥayy al-Kattānī (1302–1382 H), yang juga menjadi guru bagi Syaikh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H). KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie juga memiliki keterhubungan sanad keilmuan dengan Syaikh Muhammad Yāsin al-Fādānī (1335–1410 H), karena Syaikh Muhammad Yāsin al-Fādānī (1335–1410 H) adalah salah satu murid dari Saikh Muḥsin al-Mūsawā al-Ḥaḍramī (1323–1354 H).

Keterhubungan sanad keilmuan tersebut menjadikan hadirnya kitab al-Fatḥ al-Munīr fī Syarḥ Manẓūmah al-Tafsīr karya KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie bukan sekadar sebagai tambahan khazanah intelektual keislaman dalam disiplin ilmu al-Qur’an dan tafsir, tetapi sebagai warisan hidup yang memelihara sanad keilmuan, terutama di tengah lanskap zaman yang berubah radikal akibat disrupsi teknologi dan arus informasi masif, yang berpotensi menimbulkan pemahaman yang dangkal. _Nāfa‘anā Allāhu bihim wa bi-‘ulūmihim fī al-darayn, āmīn.

Artikel terkait...

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter Tangerang—Rangkaian peringatan hari santri di Kecamatan Kresek Kabupaten Tangerang berlangsung dua hari yaitu pada hari Rabu dan Kamis 21-22 Oktober 2026. Rangkaian acara berupa Istigotsah dan Tablig…

Alun 23 Okt 2026 16 2 menit baca
Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

TANGERANG — Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Tangerang digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-394 Kabupaten Tangererang Selasa, 13 Oktober 2026. Acara tersebut bertempat di Ruang Rapat Paripurna, Gedung DPRD Kabupaten Tangerang. Rapat tertinggi ini dipimpin langsung oleh Ketua DPRD…

Alun 19 Okt 2026 66 3 menit baca
Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) pra dan pasca muktamar ke-35 di Jombang menunjukkan dikotomi yang semakin jelas antara jalur Struktural (jam’iyyah) dan jalur Kultural (jama’ah). Marak respon ketidakpuasan sebagian warga Nahdliyin terhadap terpilihnya K.H. Miftahul Akhyar…

Alun 17 Okt 2026 176 5 menit baca