Senin, 23 Februari 2026

Nasab Ba’alwi Tertolak Kajian Pustaka dan Test DNA

Image

“Al-Habsy, Assegaf, Jamalullail, dan BSA itu masuk haplogroup G-Y32613”.

Demikian Doktor Sugeng Sugiharto menulis dalam halaman Facebooknya. Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu juga mengucapkan terimakasih kepada para Ba’alwi yang telah berkontribusi untuk sains. Bahkan, ia menawarkan diri untuk Ba’alwi yang sudah test DNA untuk mengirim file BAM-nya kepadanya, untuk di bantu membuatkan file yang berisi seluruh mutasi dalam kromosom-Y.

Dari situ nampaknya, sudah ada kalangan Ba’alwi yang test DNA, dan hasil haplogroupnya adalah G. lalu apa artinya haplo G? dalam kolom komentar Sunan Kaliprogo bertanya: “…maksudnya apakah masuk zuriat Nabi tegak lurus atau zigzag? Lalu dijawab oleh Doktor Sugeng: “Ya ga mungkin lurus. Zigzag, disclaimer, belum ada buktinya.”

Lurus garis laki sampai Nabi itu tidak mungkin. Tetapi keturunan Nabi jalur Zigzag masih mungkin, namun belum ada buktinya. Itu mungkin maksud jawaban Doktor Sugeng.

Dalam halaman lain dari Facebooknya, ia menulis bahwa identitas genetic Nabi Ibrahim ber-haplogroup J lengkapnya J-FGC8712, dan Imam Ali bin Abi Talib adalah J-FGC10500. Dari sini kita memahami garis lurus keturunan Nabi harus berhaplo J. lalu bagaimana kedudukan test DNA menurut para ulama?

Menurut hasil keputusan Muktamar NU yang ke-31 yang dilaksanakan di Solo tahun 2004, hasil test DNA bisa digunakan sebagai penafian ilhaq nasab (tersambungnya nasab), tetapi belum tentu bisa menentukan ilhaq nasab. Dari hasil keputusan muktamar NU itu kita bisa menyatakan nasab Ba’alwi sebagai tidak tersambung garis lurus laki-laki kepada Nabi Muhammad Saw, berdasarkan hasil test DNA mereka yang tidak berhaplo J yang merupakan haplogroup yang dimiliki Imam Ali bin Abi Talib dan harus dimiliki keturunannya.

Jika demikian, nasab Ba’alwi tersebut sudah tertolak dari dua sisi, yaitu pertama kajian pustaka sebagaimana dalam kajian penulis, yang kedua dilihat dari kesimpulan hasil test DNA sebagaimana dijelaskan peneliti seperti di atas.

Artikel terkait...

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

KARYA KH IMADUDDIN UTSMAN VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Oleh: Tulisan ini dari hasil diskusi berempat melalui virtual, berisi menganalisis legitimasi historis dan genealogis Rabithah Alawiyah sebagai lembaga pencatat nasab klan Ba’alwi di Indonesia. Didirikan pada tahun 1928 di bawah naungan kebijakan kolonial Belanda, eksistensi lembaga ini memunculkan pertanyaan…

Alun 22 Feb 2026 23 17 menit baca
KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

Dalam diskursus nasab Ba’alwi masih ada santri bahkan kiai yang masih mendukung nasab Ba’alwi padahal mereka tidak faham sedang mendukung apa dan siapa. Sedang merendahkan apa dan siapa. Fenomena santri-santri kibin dari Sarang Rembang yang membuat video-video pembelaan itu, menunjukan…

Alun 18 Feb 2026 289 16 menit baca
Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Falsifikasi Historis terhadap Silsilah Ba’alwi:Analisis Epistemologis atas Keteguhan Tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekokohan metodologis tesis K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani mengenai pembatalan nasab klan Ba’alwi dari perspektif epistemologi sejarah dan teori falsifikasi Karl Popper. Polemik ini muncul sebagai disrupsi besar terhadap otoritas keagamaan…

Alun 17 Feb 2026 148 49 menit baca