Sabtu, 12 September 2026

Nasab Ba’alwi di Isbat oleh Mimpi-mimpi

Image

Nasab Ba’alwi sejak pertama kali mereka datang ke Tarim, banyak kalangan ulama Tarim yang meragukannya. Hal ini dapat kita telusuri dari kitab-kitab yang ditulis dari keluarga Ba’alwi sendiri. Di mana banyak kita jumpai dari kitab-kitab mereka, narasi apologetik akan keabsahan nasab mereka, dan menempatkan pengakuan itu sebagai hal yang amat penting. Rupanya keluarga Ba’alwi memiliki perbedaan dari keluarga lainnya, di mana nampaknya mereka sangat memerlukan pengakuan itu.

Kitab Al-Guror contohnya. Kitab karya seorang Ba’alwi yang bernama Muhammad bin Ali bin Alwi Khirid (Wafat 960 Hijriah) ini mengisahkan kisah-kisah tentang bagaimana orang-orang Tarim di abad ke-6 Hijriah meragukan nasab Ba’alwi, lalu salah seorang di antara Ba’alwi yang bernama Ali datang ke Bashrah untuk meminta isbat akan kesayyidan mereka. Lalu diceritakan dalam kitab tersebut, bahwa nasab mereka kemudian di isbat oleh para imam dan para qadi. (lihat Al-Guror halaman 112). Yang sedikit menggelitik dari kisah itu adalah, bukankah Ahmad bin Isa berasal dari Bashrah? Dan bukankah disebut dalam literasi Ba’alwi, bahwa 3 anak Ahmad yaitu Muhammad, Ali dan Husain ditinggalkan di Bashrah? Seharusnya, sebelum mendatangi qodi, ia mendatangi keturunan Ahmad bin Isa yang tinggal di sana.

Jelas cerita itu meragukan, dan hari ini kita dapat memastikan bahwa Ali yang diutus keluarga Ba’alwi itu, jika benar ia datang ke Bashrah, ia tidak bertemu dengan keturunan Ahmad bin Isa. Karena jika ia bertemu keturunan Ahmad bin Isa, ia akan mendapatkan catatan-catatan banyak sekali tentang nama-nama keturunan Ahmad bin Isa yang hari itu (abad ke-6 Hijriah) mungkin sudah ratusan bahkan ribuan orang.

Tetapi, kenapa keluarga Ba’alwi sekarang hanya dapat menyebut keturunan Ahmad bin Isa yang tinggal di Bashrah, terbatas beberapa nama, tidak lebih dari 10 nama yang sudah popular terdapat dikitab-kitab nasab seperti Tahdzibul Ansab, Al-Majdi dan Al-Muntaqilah?Dari sana, kita dapat memahami, bahwa nasab Ba’alwi sangat diragukan di abad ke-10 Hijriah itu, yaitu ketika Muhammad Khirid menulis kitab Al-Guror itu, atau minimal sangat diragukan mulai abad ke-9 Hijriah, di mana berita isbat ke Bashrah itu pun diceritakan oleh Al-Jauhar Al-Syafaf karya Al-Khotib (Wafat 855 Hijriah).

Sebagaimana diketahui, bahwa konstruksi nasab Ba’alwi dibangun di abad ke-9 Hijriah oleh usaha 2 serangkai Al-Khotib dan Ali As-Sakran. Namun penulis hanya menjadikan As-Sakran sebagai tokoh awal penyebut nasab Ba’alwi, dikarenakan kitab Al-Jauhar Al-Syafaf sampai saat ini masih berupa manuskrip “aneh” yang kalangan Ba’alwi sendiri sepertinya tidak berani mencetaknya.

Penulis kira, langkah tidak mencetak Al-Jauhar Al-Syafaf itu bijak, karena efek dominonya akan beresiko terlalu deras terhadap konstruksi nasab Ba’alwi sendiri, di samping output dan resonansi positifnya tidak terlalu signifikan.

Selain kisah isbat ke Basrah yang menggelitik itu, Al-Guror juga, menyajikan kisah apologetik nasab Ba’alwi berupa kisah-kisah mistik seperti: mimpi dan khurafat (dongeng-dongeng yang tidak dapat dikonfirmasi ilmu pengetahuan). Diantaranya diceritakan di kitab tersebut, bahwa sekelompok Ba’alwi sedang berjalan menuju suatu tempat, lalu bertemu dengan seorang laki-laki dari Dau’an, lalu keluarga Ba’alwi bertanya tentang nasabnya, lalu laki-laki itu berkata: “Aku semalam bermimpi bertemu Siti Fatimah Azzahro, lalu ia berkata: ‘Besok engkau akan bertemu dengan dua anakku’.” (lihat kitab Al-Guror halaman 115).

Dari cerita itu, pengarang kitab Al-Guror ingin mengatakan bahwa, nasab Ba’alwi sah, karena telah di isbat oleh Siti Fatimah di dalam mimpi seseorang. Yang menggelitik lagi, seseorang yang bermimpi itu tidak disebutkan siapa? Juga tidak disebutkan keluarga Ba’alwi yang bertemu dengannya itu siapa?

Di tempat lain, disebutkan dalam Al-Guror, bahwa ia menerima berita dari Syekh Abdullah bin Abdurrahman Fadol Bilhaj –mungkin maksudnya Syekh Abdullah bin Abdurrahman Bafadol (Wafat 981 Hijriah)– bahwa ia pernah bertemu dengan seorang Ba’alwi, lalu ia bersikap biasa-biasa saja ketika bersalaman (mungkin tidak mencium tangannya) lalu malamnya ia bermimpi bertemu Rasulullah memarahinya. (lihat Al-Guror halaman 115).

Kisah ini, walau menyebut nama seseorang yang terkenal, namun tidak dapat dikonfirmasi oleh apapun akan kebenarannya. Ditambah, penulis beberapa kali menemukan “kedustaan” dari riwayat ulama Ba’alwi ketika mengutip pendapat ulama-ulama besar dalam masalah nasab dan sejarah. Contohnya seperti, ketika ulama Ba’alwi atau pendukungnya mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Haitami tentang bahwa Seorang syarif bodoh lebih mulia dari seorang kiai, katanya terdapat dalam kitab Fatawa-nya.

Ternyata, setelah penulis teliti kitab tersebut, tidak mendapatkan pendapat al-Haitami yang seperti disebutkan, bahkan al-Haitami berpendapat sebaliknya bahwa seorang syarif anak orang bodoh tidak sekufu’ dengan seorang perempuan putri kiai. (lihat Al-Fatawa Al-Kubro: Juz 4/101).

Demikian pula Syekh Yusuf an-Nabhani (ulama pro Ba’alwi), mengutip pendapat Al-Suyuti dalam kitab Khosois, katanya, Al-Suyuti berkata bahwa siapapun dari makhluk Allah tidak sekufu’ dalam pernikahan dengan keluarga Nabi Muhammad Saw, setelah penulis teliti dalam kitab Khosois, ternyata Al-Suyuti tidak pernah menyatakan kalimat tersebut. (baca kitab Al-Khosois karya Al-Suyuti).

Dalam kitab Al-Guror pula, dikisahkan bahwa Syekh Abdullah bin Alwi bin Fakih Muqoddam mendengar dari seorang ulama bahwa ulama itu bermimpi bertemu Rasulullah. Dalam mimpinya itu, Rasulullah berdiri ditempat yang tinggi lalu berkata kepada penduduk kampung (mungkin maksudnya Tarim) “Hai ahli kampung ini, bahwa diantara kalian ada titipan (keluarga Ba’alwi), siapa yang membencinya maka ia membenciku, siapa yang membuatnya senang maka ia membuatku senang”. (lihat Al-Guror halaman 108).

Sekilas, kisah itu mirip dengan kisah tentang ulama Madura yang diriwayatkan bermimpi bertemu Rasulullah. Di dalam mimpi itu Rasulullah memerintahkannya untuk taat kepada Habib Riziq. Setelah dikonfirmasi, ulama Madura ini membantah bahwa dirinya bermimpi seperti itu.

Kisah-kisah khurafat semacam itu sangat banyak, dapat dibaca di literasi ulama Ba’alwi seperti kitab: Al-Jauhar Al-Syafaf, Al-Burqoh Al-Musyiqoh, Al Masyra’ A’Rowi, Tasbitul Fuad dsb.

Artikel terkait...

Gus Rafi Batalkan Nasab Baalwi Berdasar Kitab Internal Ba’alwi

Gus Rafi Batalkan Nasab Baalwi Berdasar Kitab Internal Ba’alwi

Jakarta — Diskursus mengenai keabsahan nasab Ba’alawi kembali memanas setelah Gus Rafi Wiranegara memaparkan temuan kritis yang membatalkan klaim kenasaban tersebut melalui bukti literatur. Menariknya, argumentasi pembatalan ini tidak dibangun menggunakan kritik dari pihak luar, melainkan digali langsung dari kitab-kitab…

Alun 11 Sep 2026 25 3 menit baca
Mengenal Dr. Sugeng Pondang Sugiharto, S.P., M.Eng. Peneliti BRIN yang Namanya Mencuat Terkait Y-DNA Bani Hasyim

Mengenal Dr. Sugeng Pondang Sugiharto, S.P., M.Eng. Peneliti BRIN yang Namanya Mencuat Terkait Y-DNA Bani Hasyim

Nama Dr. Sugeng Pondang Sugiharto, S.P., M.Eng. belakangan ini kerap menghiasi lini masa media sosial dan forum diskusi publik di Indonesia. Sosok ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini mendadak viral setelah pemaparan ilmiahnya yang lugas mengenai analisis…

Alun 10 Sep 2026 35 3 menit baca
Dr. Nadine Al-Mewari: Realitas Genetik Klan Ba’alwi Hadhramaut Berada di Haplogroup G, Bukan J1 Quraisy

Dr. Nadine Al-Mewari: Realitas Genetik Klan Ba’alwi Hadhramaut Berada di Haplogroup G, Bukan J1 Quraisy

YAMAN — Akademisi asal Yaman, Dr. Nadine Al-Mewari, menyoroti perbedaan signifikan antara narasi silsilah tradisional dengan realitas temuan tes DNA mengenai klan Ba’alawi di Hadhramaut. Melalui pernyataan tertulis di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), Dr. Nadine memaparkan dua poin…

Alun 10 Sep 2026 35 2 menit baca