K.H. Imaduddin Utsman al-Bantani
Menakar
Kesahihan
Nasab Habib
di Indonesia
Maktabah Nahdlatul Ulum
Cetakan Pertama-2022
KATA PENGANTAR
Buku kecil yang ada di hadapan pembaca ini adalah hasil penelitian verifikatif penulis tentang kesahihan nasab para habib di Indonesia. Penelitian ini berdasarkan adanya fenomena pengakuan para habib dalam beberapa kesempatan di media masa dan media sosial, bahwa mereka adalah cucu dari Nabi Muhammad s.a.w.
Masalah yang penulis teliti adalah apakah benar para habib ini adalah cucu dari Nabi Muhammad s.a.w. Metode yang penulis gunakan adalah metode library research dengan mengumpulkan data-data ilmiah berupa kitab-kitab nasab dari masa ke masa kemudian data-data itu diolah sehingga sistematis, rasional dan
valid.
Tujuan penelitian ini untuk menakar kesahihan apakah benar para habib itu sebagai keturunan Nabi Muhammad s.a.w.? Urgensi penelitian ini penting karena pengakuan bahwa seseorang sebagai cucu Nabi Muhammad s.a.w memiliki konsekuensi dalam kehidupan sosial-keagamaan di Indonesia.
Semoga penelitian ini bermanfaat untuk kita semua. Amin!
Oktober 2022
Imaduddin Utsman al-Bantani
HABIB DI INDONESIA
Para habib di Indonesia datang pada sekitar tahun 1880 M dari Yaman sampai tahun 1943 sebelum kedatangan Jepang [1] di Indonesia, mereka kebanyakan tidak melakukan asimilasi dengan penduduk lokal, dari itu maka mereka dapat dikenali dengan mudah dari marga-marga yang diletakan di belakang nama mereka, seperti Assegaf, al-Atas, al-Idrus, bin Sihab, bin Smith dan lainnya.
Mereka mengaku sebagai keturunan Nabi Besar Muhammad s.a.w. Menurut mereka, mereka adalah dari keturunan keluarga Bani Alwi (Ba’alwi). Ba’alwi sendiri adalah rumpun keluarga di Yaman yang di mulai dari datuk mereka yang bernama Alwi bin Ubaidillah.
Menurut mereka Alwi bin Ubaidillah adalah dari jalur keturunan Imam Ali al-Uraidi yang merupakan putra dari Imam Ja’far shodiq. Nasab Alwi menurut mereka kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah sebagai berikut: Alwi (w. 400 H) bin Ubaidillah (w. 383 H) bin Ahmad (w. 345 H) bin Isa an-Naqib (w. 300 H) bin Muhammad an-Naqib (w. 250 H) bin Ali al-Uraidi (w. 210 H) bin Ja’far al-Shadiq (w. 148 H) bin Muhammad al-Baqir (w. 114 H) bin Ali Zaenal Abidin (w. 97 H) bin Sayyidina Husain (w. 64 H) bin Siti Fatimah az-Zahra (w. 11 H) binti Nabi Muhammad s.a.w (w. 11 H). Tahun wafat yang penulis sebutkan tersebut penulis ambil dari sebuah artikel yang berjudul “Inilah Silsilah Habib Rizieq Shihab. Keturunan Ke-38 Nabi Muhammad?” [2]
Sayangnya nasab seperti di atas tersebut tidak terkonfirmasi dalam kitab-kitab nasab primer yang mu’tabar. Kesimpulan seperti itu bisa dijelaskan karena kitab-kitab nasab yang ditulis berdekatan dengan masa hidupnya Alwi bin Ubaidillah tidak mencatat namanya.
Sebelum membahas tentang nasab Ba’alwi secara komprehensif, penulis akan mendahulukan beberapa hal, baru setelah itu membahas mengenai nama Ubaidillah yang menjadi ayah dari Alwi yang merupakan datuk para habaib di Indonesia.
- Historiografi Etnis Arab di Indonesia, Miftahul Tawbah, Journal Multicultural of Islamic Education, volume 6, h. 132. ↩︎
- https://artikel.rumah123.com/inilah-silsilah-habib-rizieq-shihab-keturunan-ke-38-nabi-muhammad-124800 ↩︎
METODE MENETAPKAN NASAB
Para ahli nasab memiliki metode untuk menetapkan nasab seseorang atau suatu kelompok komunitas keluarga tertentu kepada yang diakuinya. Misalnya seseorang yang mengaku dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad s.a.w. yang ke-40 melalui Alwi bin Ubaidillah “bin” Ahmad bin Isa, kemudian ia menunjukan urutan 40 nama-nama mulai dari namanya sampai ke Nabi Muhammad s.a.w. melalui jalur tersebut, maka cara untuk mengkonfirmasi kesahihannya adalah adalah dengan dua cara, pertama looking up, dan kedua dengan cara looking down.
Looking up atau meneliti ke atas adalah dengan cara mengkonfirmasi nama yang disebutkan mulai dari nama orang yang diteliti sampai nama Nabi Muhammad s.a.w. Untuk nama pertama, kedua dan ketiga bisa dengan cara mengkonfirmasi keluarga terdekat dari ayahnya, misalnya pamannya, apakah seseorang ini betul anak dari ayahnya? Dan apakah benar ayahnya itu adalah benar anak dari kakeknya? Sedang untuk nama ke-4 dan selanjutnya bisa dikonfirmasi melalui catatan silsilah dari keluarga buyutnya dengan di selaraskan dengan catatan keluarga besar buyutnya melalui anaknya yang lain selain kakeknya tersebut.
Demikian untuk seterusnya.
Sedangkan yang dimaksud looking down adalah meneliti mulai dari atas yaitu dalam hal ini meneliti mulai dari Nabi Muhammad s.a.w. sampai selanjutnya ke bawah. Misalnya mencari sanad dan dalil yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. betul mempunyai anak bernama Siti Fatimah r.a., lalu mencari sanad dan dalil bahwa Siti Fatimah mempunyai anak bernama Husain, lalu mencari dalil yang menunjukan bahwa Husen mempunyai anak bernama Ali Zainal Abidin, lalu mencari dalil bahwa Ali Zainal Abidin mempunyai anak bernama Muhammad al-Baqir, lalu mencari dalil bahwa Muhammad al-Baqir mempunyai anak bernama Jafar al-Shadiq, lalu mencari dalil bahwa Jafar al Shadiq mempunyai anak bernama Ali al-Uraidi, lalu mencari dalil bahwa Ali al-Uraidi mempunyai anak bernama Muhammad an-Naqib, lalu mencari dalil bahwa Muhammad an-Naqib mempunyai anak bernama Isa al-Rumi, lalu mencari dalil bahwa Isa al-Rumi mempunyai anak bernama Ahmad al-Muhajir, lalu mencari dalil bahwa Ahmad al-Muhajir mempunyai anak bernama Ubaidillah, lalu mencari dalil bahwa Ubaidillah mempunyai anak bernama Alwi dst.
Untuk mencari dalil-dalil tersebut, untuk Nabi Muhammad s.a.w. sampai ke Ali al-Uraidi sangatlah masyhur melalui hadits, sedangkan untuk generasi putra Ali al-Uraidi yaitu Muhammad an-Naqib sudah bergeser hanya mengandalkan kitab-kitab nasab.
METODE KONFIRMASI KITAB NASAB
Kitab nasab yang membahas tentang keluarga Ba’alwi cukup banyak lalu apakah kitab-kitab tersebut sudah menjadi dasar kesahihan nasab Ba’alwi kepada Nabi Muhammad s.a.w.?
Sebuah kitab nasab hanya dapat menjadi dalil kesahihan untuk nama-nama yang sezaman dengan kitab nasab itu ditulis. Misalnya kitab nasab Nubzat Lathifah fi Silsilati Nasabil Alwi yang ditulis oleh Zainal Abidin bin Alwi Jamalul Lail, kitab Ittisalu Nasabil Alawiyyin wal Asyraf yang ditulis Umar bin Salim al-Attas juga pada abad 13 H, kitab Syamsudz Dzahirah yang ditulis oleh Abdurrahman Muhammad bin Husein al-Masyhur yang ditulis juga pada pertengahan abad 13 H. Kitab-kitab tersebut dapat menjadi dalil atau rujukan bagi nama-nama yang hidup pada abad itu, tapi tidak bisa menjadi dalil bagi yang hidup pada abad sebelumnya, misal untuk mengkonfirmasi Ahmad bin Isa kita harus mengkonfirmasinya pada kitab yang ditulis saat Ahmad bin Isa itu hidup atau kitab yang paling dekat dengan hidupnya Ahmad bin Isa.
Begitupula nama-nama setelahnya atau sebelumnya harus di konfirmasi dengan kitab-kitab yang ditulis pada zaman mereka masing-masing.
METODE MENGKONFIRMASI ALWI BIN UBAIDILLAH
Alwi bin Ubaidillah adalah datuk Ba’alwi di Indonesia, Yaman dan beberapa Negara di Asia Tenggara. Nasab lengkapnya adalah: Alwi bin Ubaidillah “bin” Ahmad al-Muhajir bin Isa al-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidi bin Jafar al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Husain bin Fatimah Azzahra bin Nabi Muhammad s.a.w. dari nasab itu Alwi adalah urutan ke-12 dari nama-nama yang ada.
Untuk menetapkan menggunakan metode looking down kita harus dapat mencari dalil bahwa nama yang di atas mempunyai anak dengan nama di bawah.
DALIL BAHWA NABI MUHAMMAD S.A.W. MEMPUNYAI ANAK FATIMAH R.A.
Dalil bahwa Nabi Muhammad s.a.w mempunyai anak bernama Fatimah adalah hadits berikut ini:
“Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, maka sungguh akan aku potong tangannya.” (H. R. Bukhari)
DALIL BAHWA SITI FATIMAH R.A. MEMPUNYAI ANAK BERNAMA HUSAIN R.A.
Hadits pertama yang menyatakan bahwa Husain adalah putra Ali.
“Diriwayatkan dari al-Hakim an-Naisaburi dengan sanad dari Abi Hazim dari Abi Hurairah r.a. ia berkata: Saya melihat Rasulullah s.a.w. sedangkan ia menggendong al-Husain bin Ali a.s. ia berkata: Ya Allah sungguh aku mencintainya maka cintailah ia.”
Hadits kedua menyatakan bahwa Ali adalah suami Fatimah.
“Ali r.a. berkata: Aku menikahi Fatimah r.a. maka aku berkata: Ya Rasulullah, nikahkan aku (dengan Fatimah), Nabi berkata: Berilah ia sesuatu (mas kawin), aku berkata : Aku tak punya sesuatu, Nabi berkata: Kemana baju besi hutomiyah itu, aku berkata: Ada padaku, Nabi berkata: Maka berikan baju besi itu kepadanya. (H.R.Nasa’i)
Dari dua hadits itu disimpulkan bahwa benarlah bahwa Husain r.a. adalah anak dari Siti Fatimah r.a.
DALIL YANG MENYATAKAN BAHWA HUSAIN R.A. MEMPUNYAI ANAK ALI ZAINAL ABIDIN DAN SETERUSNYA SAMPAI KEPADA ALI AL-URAIDI
Di bawah ini ada suatu hadits yang terdapat dalam kitab Sunan at-Turmudzi yang dikarang pada abad ke-3 Hijriah:
“(Imam Turmudzi berkata:) Telah mengajarkan hadist kepada kami Nashor bin Ali al-Jahdlami, telah mengajarkan hadits kepada kami Ali (al-Uraidi) bin Ja’far (al-Shadiq) bin Muhammad al-Baqir bin Ali (Zainal Abidin), telah mengkhabarkan kepadaku saudara laki-laki ku Musa (al-Kadzim) bin Ja’far (al-Shadiq) bin Muhammad (al-Baqir), dari ayahnya yaitu Jafar bin Muhammad, dari ayahnya yaitu Muhammad bin Ali, dari ayahnya yaitu Ali bin Husain, dari ayahnya (Husain) dari kakeknya yaitu Ali bin Abi Talib, bahwa Rasulullah s.a.w. memegang tangan Hasan dan Husain lalu berkata: Siapa yang mencintaiku dan mencintai dua orang ini dan ayah-ibunya maka ia akan bersamaku dalam tingkatan-ku di hari kiamat. Berkata Abu Musa (Imam Turmudzi) hadits ini ghorib kami tidak mengetahuinya dari hadits Ja’far bin Muhammad kecuali dari arah ini.”
Dari satu hadits ini dapat disimpulkan bahwa benar Husain mempunyai anak bernama Ali Zainal Abidin, dan benar bahwa Ali Zainal Abidin mempunyai anak bernama Muhammad al-Baqir, dan bahwa benar Muhammad al-Baqir mempunyai anak bernama Ja’far al-Shadiq, dan bahwa benar Ja’far al-Shadiq mempunyai anak bernama Ali al-Uraidi.
DALIL BAHWA ALI AL-URAIDI MEMPUNYAI ANAK BERNAMA MUHAMMAD AN-NAQIB
Untuk mencari dalil tentang anak Ali al-Uraidi kita kesulitan mencarinya dari kitab hadits, maka kita berpindah kepada kitab nasab. Kitab nasab yang dipakai haruslah kitab nasab primer, yaitu kitab nasab yang ditulis saat tokoh yang dibahas itu hidup. Jika tidak ditemukan kitab primer maka kita menggunakan kitab sekunder (yang ditulis setelah masa tokoh itu wafat) yang tertua yang paling dekat masanya dengan hidupnya tokoh tersebut.
Menurut kitab Syadzaratudzahab karya Ibnul Imad, Ali al-Uraidi wafat tahun 210 Hijriah (awal abad ke-3 Hijrah). Apakah ada kitab nasab yang ditulis pada masa itu? Penulis belum menemukan kitab nasab yang ditulis abad ke-3 Hijriah, yang penulis temukan kitab nasab yang ditulis oleh ulama yang hidup pada abad ke-5 Hijriah yaitu kitab Tahdzibul Ansab karya al-Ubaidili, dan kitab Al-Syajarah al-Mubarokah yang ditulis Imam al-Fakhrurazi ulama abad ke-6 Hijriah
“Al-Ubaidili berkata dalam kitab Tahdzibul Ansab:
Anak yang berketurunan dari Ali al-Uraidi bin Ja’far al-Shadiq r.a. ada 4, mereka adalah:
Muhammad bin Ali, al-Hasan bin Ali, Ja’far bin Ali, dan Ahmad bin Ali”. (Tahdzibul Ansab: h. 175)
“Imam al-Fakhrurazi berkata dalam kitabnya “Al-Syajarah al-Mubarokah”:
Adapun Ali al-Uraidi bin Jafar al-Shadiq maka mengenai anak-anaknya terdapat 3 pendapat:
Pendapat pertama yang seluruh orang sepakat bahwa mereka berketurunan, dan mereka itu ada 2 anak saja yaitu:
Muhammad al-Akbar (an-Naqib) dan Ahmad al-Sya’rani.” (Syajarah Al-Mubarokah h. 110)
Dari keterangan dua kitab di atas terkonfirmasi bahwa benar Ali al-Uraidi mempunyai anak bernama Muhammad.
DALIL BAHWA MUHAMMAD AN-NAQIB MEMPUNYAI ANAK BERNAMA ISA
“Al-Ubaidili berkata dalam kitab Tahdzibul Ansab:
Maka yang berketurunan dari Muhammad bin Ali al-Uraidi yaitu Abul Hasan Isa an-Naqib, dan di dalamnya ada banyak keturunan., dan Yahya bin Muhammad, al-Hasan bin Muhammad, dan Ja’far bin Muhammad”. (Tahdzibul Ansab: h. 175)
“Imam al-Fakhrurazi berkata dalam kitabnya Al-Syajarah al-Mubarokah:
Adapun Muhammad al-Akbar (an-Naqib) bin Ali al-Uraidi ia mempunyai tujuh anak yang berketurunan: Isa al-Akbar an-Naqib, al-Hasan, Yahya, Muhammad, Musa, Ja’far, al-Husain, dan yang paling banyak keturunannya adalah Isa, sedangkan yang lain keturunannya sedikit.” (Syajarah Al Mubarokah: h. 125)
Dari kitab di atas terkonfirmasi bahwa Muhammad an-Naqib mempunyai anak bernama Isa.
DALIL BAHWA ISA BIN MUHAMMAD MEMPUNYAI ANAK BERNAMA AHMAD (AL-MUHAJIR)
“Imam Al-Fakhrurazi berkata dalam kitabnya Al-Syajarah al-Mubarokah:
Adapun Isa maka ia mempunyai 11 anak yang berketurunan:
al-Azraq, Ja’far, Ishaq al-Ahnaf di Ray, Abdullah al-Ahnaf di Syam, al-Husain al-Akbar, Ali, al-Hasan, Yahya, Ahmad al-Abah, Isa dan Musa.” (Syajarah al-Mubarokah: h. 111).
Dari keterangan kitab di atas maka terkonfirmasi bahwa Isa mempunyai anak bernama Ahmad.
Dari dalil-dalil di atas disimpulkan bahwa nasab Ahmad al-Muhajir bin Isa sampai kepada Rasulullah Muhammad s.a.w. terkonfirmasi secara ilmiah. Lalu bagaimana kesahihan Ahmad bin Isa kepada “anaknya” yang bernama Ubaidillah yang merupakan ayah dari Alwi bin Ubaidillah (datuk para habaib), apakah betul Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubaidillah?
Kita lanjutkan penelitian sebagai berikut.
DALIL BAHWA AHMAD AL-MUHAJIR AL-ABAH AN-NAFFAT BIN ISA MEMPUNYAI ANAK BERNAMA UBAIDILLAH?
Kitab Abad ke-5 Hijriah
Pertama, Kitab Tahdzibul Ansab wa Nihayatul Alqab yang dikarang Al-Ubaidili (w. 437 H) abad ke-5 Hijriah, ketika menerangkan tentang keturunan Ali al-Uraidi tidak menyebutkan nama Alwi dan ayahnya, Ubaidillah. Ia hanya menyebutkan satu anak dari Ahmad al-Abah bin Isa yaitu Muhammad. Kutipan dari kitab tersebut seperti berikut ini:
“Dan Ahmad bin Isa an-Naqib bin Muhammad bin Ali al-Uraidi diberikan gelar an-Naffat, sebagian dari keturunannya adalah Abu Ja’far (al-A’ma: yang buta), Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad, ia buta di akhir hayatnya, ia pergi ke Basrah menetap dan wafat di sana. Dan ia mempunyai anak. Saudaranya di al-Jabal (gunung) juga mempunyai anak. (Tahdzibul Ansab wa Nihayatul Alqob, Markaz Komputer Ulum Islami, h. 176-177)
Al-Ubaidili, ketika menyebutkan nama keturunan Ahmad al-Abah bin Isa hanya menyebutkan satu sampel dari keturunannya, yang di dalam sampel itu ada anak Ahmad al-Abah yang bernama Muhammad. Namun ia tidak tegas apakah Ahmad al-Abah hanya mempunyai anak bernama Muhammad atau masih ada anak lainnya.
Dari sini kesempatan ada nama anak lain bisa masuk masih terbuka.
Yang menjadi catatan adalah al-Ubaidili hidup bersamaan dengan hidupnya Alwi bin Ubaidillah. Ketika Alwi wafat pada tahun 400 Hijriah, umur al-Ubaidili sudah 62 tahun, namun ia tidak mencatat nama Alwi sebagai keturunan Ahmad al-Abah.
Kedua, Kitab Al-Majdi fi Ansabittholibin karya Sayyid Syarif Najmuddin Ali bin Muhammad al-Umri an-Nassabah (w. 490 H), ketika menerangkan tentang keturunan Isa bin Muhammad an-Naqib ia menyebutkan bahwa keturunan dari Ahmad al-Abah bin Isa ada di Bagdad yaitu dari al-Hasan Abu Muhammad ad-Dallal Aladdauri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Isa. Sama seperti al-Ubaidili, al-Umri hanya menyebutkan satu anak saja dari Ahmad al-Abah.
Kutipan lengkapnya seperti di bawah ini:
“Dan Ahmad Abul Qasim al-Abah yang dikenal dengan “al-Naffat” karena ia berdagang minyak nafat (sejenis minyak tanah), ia mempunyai keturunan di Bagdad dari al-Hasan Abu Muhammad ad-Dalal Aladdauri di Bagdad, aku melihatnya wafat di akhir umurnya di Bagdad, ia anak dari Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Isa bin Muhammad (an-Naqib) bin (Ali) al-Uraidi.” (Al-Majdi Fi Ansabittholibin, al-Umri, Maktabah Ayatullah Udzma al-Mar’asyi, Tahun 1442 h. 337)
Dari kitab Al-Majdi karya al-Umri tersebut, disimpulkan bahwa salah seorang anak dari Ahmad bin Isa bernama Muhammad, yang demikian itu sesuai dengan kitab Tahdzibul Ansab karya al-Ubaidili.
Perbedaan dari keduanya adalah, al-Umri menerangkan tentang keturunan Ahmad bin Isa yang bernama Muhammad bin Ali di Basrah, sedangkan al-Ubaidili menerangkan tentang anak dari Muhammad bin Ali yaitu al-Hasan yang sudah pindah ke Bagdad.
Kedua kitab abad ke-5 Hijriah ini sepakat bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Muhammad.
Ketiga, kitab Muntaqilatut Tholibiyah karya Abu Ismail Ibrahim bin Nasir ibnu Thobatoba (w. 400an H), yaitu sebuah kitab yang menerangkan tentang daerah-daerah lokasi perpindahan para keturunan Abi Tholib menyebutkan bahwa keturunan Abi Tholib yang ada di Roy adalah Muhammad bin Ahmad an-Naffat.
Seperti diketahui bahwa keturunan Nabi juga sekaligus adalah keturunan Ali bin Abi Thalib.
Kutipan kitab Muntaqilatut Tholibiyah tersebut sebagai berikut:
“Di kota Roy, (ada keturunan Abu Thalib) bernama Muhammad bin Ahmad an-Naffat bin Isa bin Muhammad al-Akbar bin Ali al-Uraidi.
Keturunannya (Muhammad bin Ahmad) ada tiga:
Muhammad, Ali dan Husain.”
(Muntaqilatut Tolibiyah, Abu Ismail Ibrahim bin Nasir Ibnu Thobatoba, Matba’ah al-Haidariyah, Najaf, tahun 1388 H/1968 M h. 160)
Dari kutipan itu Ahmad bin Isa disebutkan mempunyai anak bernama Muhammad, sama seperti kitab Tahdzibul Ansab dan kitab Al-Majdi.
Abad ke-5 Hijriah konsisten berdasarkan 3 kitab di atas bahwa yang tercatat dari anak Ahmad hanyalah Muhammad bin Ahmad bin Isa. Tapi ketiga kitab itu tidak menegaskan bahwa Ahmad hanya mempunyai satu anak. Jadi bukan berarti tidak ada anak yang lain, karena tidak ada kalimat penegasan dari ketiga kitab itu.
Kitab abad ke-6 Hijriah
Kitab As-Syajarah al-Mubarokah karya Imam Al-Fakhrurazi (w. 604 H) menyatakan bahwa Ahmad bin Isa tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah.
Kutipan dari kitab itu sebagai berikut:
“Adapun Ahmad al-Abah maka anaknya yang berketurunan ada tiga:
Muhammad Abu Ja’far yang berada di kota Roy, Ali yang berada di Ramallah, dan Husain yang keturunanya ada di Naisaburi.” (Al-Syajarah al-Mubarokah: h. 111)
Dari kutipan di atas Imam Al-Fakhrurazi tegas menyebutkan bahwa Ahmad al-Abah bin Isa al-Muhajir hanya mempunyai 3 anak yaitu Muhammad, Ali dan Husain.
Ahmad al-Abah tidak mempunyai anak bernama Ubaidillah. Dari ketiga anaknya itu, semuanya, menurut Imam al-Fakhrurazi, tidak ada yang tinggal di Yaman.
Imam al-Fakhrurazi, penulis kitab Al-Syajarah al-Mubarokah tinggal di Kota Roy, Iran, di mana di sana banyak keturunan Ahmad Al-Abah dari jalur Muhammad Abu Ja’far, tentunya informasi tentang berapa anak yang dimiliki oleh Ahmad al-Abah ia dapatkan secara valid dari keturunan Ahmad yang tinggal di Kota Roy. Dalam kitabnya itu Imam Al-Fakhrurazi dengan tegas menyebutkan nama anak Ahmad al-Abah bin Isa hanya 3.
Dari sini kesempatan masuknya nama lain sudah tertutup secara ilmiah kecuali ada kitab semasa atau yang lebih dahulu ditulis yang berbicara lain.
Kitab abad ke-7 Hijriah
Kitab Al-Fakhri fi Ansaabithalibin karya Azizuddin Abu Tolib Ismail bin Husain al-Marwazi (w. 614 H) menyebutkan yang sama seperti kitab-kitab abad ke-5 Hijriah, yaitu hanya menyebutkan satu jalur keturunan Ahmad bin Isa yaitu dari jalur Muhammad bin Ahmad bin Isa. Adapun kutipan lengkapnya adalah:
“Sebagian dari mereka (keturunan Isa an-Naqib) adalah Abu Ja’far (al-A’ma: yang buta) Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Abah, ia punya anak di Bashrah, dan saudaranya di al-Jabal di kota Qum, ia punya anak.” (Al-Fakhri fi Ansaabithalibin, Sayid Azizuddin Abu Tholib Ismail bin Husain al-Mawarzi, Tahqiq Sayid Mahdi ar-Roja’i, h. 30)
Sampai abad ke-7 Hijriah ini tidak ada nama anak Ahmad yang bernama Ubaidillah dan pula tidak ada disebutkan Ahmad punya keturunan di Yaman.
Kitab abad ke-8 Hijriah
Kitab Al-Ashili fi Ansabittholibin karya Shofiyuddin Muhammad ibnu at-Thoqtoqi al-Hasani (w. 709 H) menyebutkan satu sampel jalur keturunan Ahmad bin Isa yaitu melalui anaknya yang bernama Muhammad bin Isa. Kutipan lengkapnya seperti berikut ini:
“Dan dari keturunan Ahmad bin Isa an-Naqib adalah al-Hasan bin Abi Sahal Ahmad bin Ali bin Abi Ja’far Muhammad bin Ahmad (Al-Ashili fi Ansabittholibin, at-Thoqtoqi, Tahqiq Sayid Mahdi ar-Roja’i, h. 212)
Demikian pula sampai abad kedelapan ini tidak ada nama anak Ahmad yang bernama Ubaidillah dan pula tidak ada disebutkan Ahmad punya keturunan di Yaman.
Kitab abad ke-9 Hijriah
Dalam kitab Umdatuttolib fi Ansabi Ali Abi Tholib karya Ibnu Anbah (w. 828 H) disebutkan bahwa di antara keturunan Muhammad an-Naqib adalah Ahmad al-Ataj bin Abi Muhammad al-Hasan ad-Dallal bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Isa. Kutipan lengkapnya seperti berikut ini:
“Sebagian dari keturunan Muhammad an-Naqib adalah Ahmad al-Ataj bin Abi Muhammad al-Hasan ad-Dallal bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Isa al-Akbar. (Umdatutholib fi Ansabi Ali Abi Tholib, Ibnu Anbah, h. 225)
Sampai awal abad ke-9 Hijriah ini tidak disebutkan nama Ubaidillah sebagai anak Ahmad bin Isa. Seperti juga tidak disebutkan bahwa ada anak Ahmad bin Isa yang tinggal di Yaman.
KEMUNCULAN NAMA ABDULLAH DI AKHIR ABAD KE-9 HIJRIAH
Nama Ubaidillah belum muncul di akhir abad ke-9 Hijriah, tetapi ada nama baru yang disebutkan oleh kitab An-Nafhah al-Anbariyah karya Muhammad Kadzim bin Abil Futuh al-Yamani al-Musawi (w. 880 H) nama itu adalah Abdullah bin Ahmad.
Dari situ kita melihat bahwa nama Abdullah telah menghilang dari radar para penulis nasab selama 543 tahun dihitung dari wafatnya Ahmad bin Isa.
Minimal dari kitab yang mulai mencatat nama Ahmad bin Isa yang penulis sebutkan di atas ada 7 kitab mulai abad ke-5 sampai ke-9 Hijriah yang tidak menyebutkan nama Abdullah sebagai nama anak dari Ahmad bin Isa.
Kutipan lengkap dari kitab An-Nafhah adalah sebagai berikut:
“Maka Muhammad an-Naqib berhijrah ke kota Ros, maka ia mempunyai anak Isa, dan sebagian dari anak Isa adalah Ahmad yang pindah ke Hadramaut.
Maka dari keturunannya di sana adalah Sayyid Abul Jadid (dengan fatah jim, kasrah dal yang tanpa titik, sukun ya yang bertitik dua di bawah, setelahnya huruf dal) yang datang di kota Aden di masa pemerintahan al-Mas’ud bin Thoqtoqi (dengan fatah huruf tho yang tanpa titik, sukun ghain yang bertitik satu, fatah ta yang bertitik dua di atas, nun setelah ya yang bertitik dua di bawah dan kaf yang di kasrah) bin Ayub bin Syadi (dengan fatah syin, kasrah dzal yang bertitik keduanya) tahun 611 H, maka al-Mas’ud kemudian melakukan tindakan kasar kepada al-Jadid karena suatu hal, maka ia menangkapnya dan menyiapkan pemindahannya ke bumi India, kemudian ia kembali ke Hadramaut setelah wafatnya al-Mas’ud.
Maka dari keturunan al-Jadid ini adalah Bani Abu Alwi, yaitu Abu Alwi bin Abul Jadid bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid bin Ali bin Muhammad bin Jadid bin Abdullah bin Ahmad bin Isa yang telah disebutkan sebelumnya.”
Dari kutipan di atas, penulis kitab An-Nafhah al-Anbariyah, Syekh Muhammad Kadzim, ia sendirian tanpa referensi dari kitab nasab yang telah disebutkan:
Pertama ia sendirian tentang kepindahan Muhamad an-Naqib ke Kota Ros, hal itu tidak disebutkan oleh para ahli nasab sebelumnya,
Kedua ia sendirian tentang pindahnya Ahmad ke Hadramaut, tidak ada ahli nasab dalam kitabnya menyebutkan seperti itu.
Ketiga ia sendirian tentang nama Abdullah sebagai anak Ahmad bin Isa, baru muncul setelah 543 tahun setelah kematian ayahnya yaitu Ahmad bin Isa.
Keempat ia sendirian tentang urutan nasab yang menyebut Bani Abi Alwi, urutan nasab itu sangat membingungkan ketika nanti dikatakan bahwa Abdullah adalah nama lain dari Ubaidillah yang mempunyai anak Alwi yang menjadi datuk Ba’alwi Indonesia yang akan penulis bahas nanti.
ABAD KE-10 HIJRIAH NAMA ABDULLAH DAN KETURUNANNYA MULAI MATANG WALAU BELUM DISEBUT UBAIDILLAH
Dalam kitab Tuhfatutholib Bima’rifati man Yantasibu Ila Abdillah wa Abi Tholib, karya Sayyid Muhammad bin al-Husain as-Samarqandi (w. 996 H) disebutkan seperti berikut:
“Adapun Ahmad bin Isa bin Muhammad bin (Ali) al-Uraidi maka Ibnu Anbah berkata: Abu Muhammad al-Hasan al-Dallal bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Isa ar-Rumi adalah dari keturunan Ahmad bin Isa, ia (Ibnu Anbah) diam tentang selain Abu Muhammad.
Aku berkata (penulis kitab Tuhafatutolib):
Aku melihat dalam sebagian ta’liq (catatan pinggir sebuah kitab ditulis oleh santri di pinggir kitab ketika mendengar keterangan guru) tulisan yang bunyinya “Telah berkata al-Muhaqqiqun dari cabang ilmu ini (nasab) dari ahli Yaman dan Hadramaut, seperti Imam Ibnu Samrah, al-Imam al-Jundi, al-Imam al-Futuhi yang mempunyai kitab At-Talkhis, al-Imam Husain bin Abdurrahman al-Ahdal, al-Imam Abil Hubbi al-Bur’i, al-Imam Fadhol bin Muhammad al-Bur’I, al-Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Ibad as-Syami, Syekh Fadlullah bin Abdullah as-Syajari, dan al-Imam Abdurrahman bin Hisan bahwa Sayid Syarif Ahmad bin Isa pergi bersama anaknya, Abdullah, dalam rombongan para anak, kerabat, teman-teman, para pembantu dari Bashrah dan Iraq menuju Hadramaut setelah berpindah dari berbagai daerah dan bersembunyi dari berbagai negara, sebagai hikmah Tuhan raja yang maha memberikan anugrah. Maka kemudian Abdullah mempunyai anak bernama Alwi, dan Alwi mempunyai anak bernama Muhammad, Muhammad mempunyai anak Alwi (lagi), Alwi mempunyai anak Ali Khali’ Qosam, Ali Kholi’ Qosam mempunyai anak bernama Muhammad Shohib Mirbath, dan Muhammad Shohib Mirbath mempunyai anak bernama Alwi dan Ali.
Maka adapun Alwi maka mempunyai 4 anak: Ahmad dan ia berketurunan, Abdullah ia tidak berketurunan, Abdul Malik keturunannya di India, dan Abdurrahman dan ia berketurunan. Dan adapun Ali maka ia mempunyai anak al-Faqih al-Muqoddam Muhammad dan ia mempunyai banyak keturunan. (Tuhfatuttolib, Sayid Muhammad bin al-Husain, h. 76-77).
Dimunculkan pertama kali oleh Syekh Muhammad Kadzim dalam kitabnya An-Nafhah al-Anbariyah di akhir abad ke-9 Hijriah, nama Abdullah muncul kembali pada abad ke-10 dalam kitab Tuhfatuttolib setelah 116 tahun kitab An-Nafhah di tulis.
Untuk menyebutkan keturunan Ahmad bin Isa, pertama penulis kitab Tuhfatuttolib mengutip pendapat Ibnu Anbah dalam kitab Umdatuttolib, dalam kitab Umdah itu ditulis bahwa Ahmad bin Isa mempunyai keturunan dari anaknya yang bernama Muhammad. Penulis Tuhfatuttolib memberi tambahan “wa sakata an gairihi” artinya “Dan Ibnu Anbah diam dari keturunan lainnya”.
Dari kalimat itu penulis Tuhfah ingin mengatakan bahwa ada nama lain yang tidak disebutkan oleh Ibnu Anbah karena Ibnu Anbah tidak tegas menyebutkan berapa jumlah anak Ahmad bin Isa.
Lalu ia berkata: “Bahwa aku menemukan sebuah ta’liq” yaitu catatan santri pada sebuah kitab ketika mengaji di hadapan guru, dalam ta’liq itu terdapat susunan garis keturunan Ba’alwi, lalu tanpa di crosscheck kitab sebelumnya ta’liq itu dimasukan dalam kitabnya.
Dari situlah mulai mashurnya marga Ba’alwi sebagai keturunan Ahmad bin Isa.
Penulis menduga bahwa penulis Tuhfah belum membaca atau tidak mempunyai kitab As-Syajarah al-Mubarakah yang ditulis ar-Razi abad ke-6 Hijriah yang menyebutkan bahwa anak Ahmad bin Isa hanya 3:
Muhammad, Ali dan Husain.
Apabila ia mempunyai kitab itu maka mungkin ia tidak akan memasukan ta’liq itu ke dalam kitabnya, karena akan terasa ganjil apabila sebuah catatan sepotong kertas kemudian berbeda dengan sebuah kitab nasab yang telah ditulis 390 tahun sebelumnya.
APAKAH ABDULLAH ABAD KE-9 SAMA DENGAN ABDULLAH ABAD KE-10 HIJRIAH?
Persamaan pertama kitab An-Nafhah al-Anbariyah (abad ke-9 Hijriah) dengan kitab Tuhfatuttolib (abad ke-10 Hijriah) adalah sama-sama menyebutkan nama Abdullah sebagai anak Ahmad bin Isa.
Persamaan kedua adalah mengenai Hadramaut.
Namun ada beberapa hal yang berbeda dari keduanya,
- Perbedaan pertama mengenai anak Abdullah bin Isa, An-Nafhah menyebut anak Abdullah adalah Abul Jadid, sedangkan kitab Tuhfattolib menyebutkan anak Abdullah adalah Alwi.
- Perbedaan kedua adalah tentang Ba’alwi. Kitab An-Nafhah menyebut bahwa keturunan Abdullah adalah Bani Abi Alwi, sedang kitab Tuhfatuttolib menyebutnya Bani Alwi tanpa abi.
Apakah keduanya sama?
Kitab An-Nafhah menyebut Bani Abi Alwi itu adalah nisbat kepada Abu Alwi yaitu Abu Alwi bin Abul Jadid, keturunan yang ke-9 dari Abdullah bin Isa, sedangkan kitab Tuhfatutolib menyebut Bani Alwi itu adalah keturunan Alwi bin Abdullah bin Ahmad, keturunan yang pertama dari Abdullah.
Lalu Ba’alwi yang sekarang ada di Indonesia keturunan dari siapa?
Apakah dari Bani Abi Alwi seperti kitab An-Nafhah atau Bani Alwi seperti kitab Tuhfatuttolib?
Atau bukan dari keduanya, karena nama yang ditulis dalam keluarga Ba’alwi sekarang bukan Abdullah tapi Ubaidillah.
Dari mana saja mengambil maka keduanya ada masalah dalam ke-marfu’-an riwayat. Yang pertama tiba-tiba muncul tanpa karena, yang kedua muncul bersyahidkan ta’liq sepotong kertas menurut pengakuan penulis kitab. Kecuali mengambil bukan dari keduanya maka mungkin ada riwayat yang lain yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, namun yang demikian itu perlu dalil.
ABDULLAH RESMI MENJADI UBAIDILLAH PADA ABAD KE-14 H
Dalam kitab Syamsudz Dzahirah karya Syekh Abdurrahman al-Mashur (w. 1320 H), disebutkan dengan tegas bahwa Abdullah bergelar Ubaidillah. Kutipan lengkapnya sebagai berikut:
“Ini adalah fasal menerangkan anak-anak Seorang sayyid yang masyhur, yaitu Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidi bin Ja’far as-Shadiq r.a. ia (Ahmad) mempunyai dua anak yaitu Muhammad dan Abdullah, dan Abdullah ini dinamai pula Ubaidillah dan kunyahnya adalah Abu Alwi. (Syamsudz Dzahirah: 51)
Dengan tegas syekh Abdurrahman al-Masyhur menyebutkan nama Abdullah adalah alias dari Ubaidillah. Ada perbedaan antara kitab Syamsudz Dzahirah dan kitab abad ke-5 yang menyebutkan anak Ahmad berjumlah 3 yaitu Muhammad, Ali dan Husain.
Kitab Syamsudzahirah menyebutkan anak Ahmad bin Isa ada dua orang yaitu Muhammad dan Abdullah. Ia menghilangkan nama Ali dan Husain dan memasukan nama Abdullah. Seperti telah disebutkan sebelumnya nama Abdullah ini mulai disebut oleh Syekh al-Kadzim dalam kitab An-Nafhah akhir abad ke-9 Hijriah setelah 543 tahun sejak wafatnya Ahmad bin Isa.
Sebelumnya tidak ada nama Abdullah disebutkan oleh para penulis kitab nasab, tidak disebutkan di kitab abad ke-5, ke-6, ke-7, ke-8 dan ke-9 awal. Disebutkan untuk kedua kali pada abad ke-10 oleh kitab Tuhfatuttalib di akhir abad ke-10.
Dalam An-Nafhah disebutkan Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Abdullah dan Abdullah mempunyai anak bernama Abul Jadid yang nanti akan menurunkan Abu Alwi pada generasi 9 yang merupakan Bani Abi Alwi.
Sedangkan kitab Tuhfatuttalib menyebutkan Abdullah langsung mempunyai anak Alwi yang kelak menjadi datuk Bani Alwi.
Kitab Syamsudz Dzahirah berusaha mengkompromikan keduanya dengan menyebutkan bahwa Abdullah mempunyai anak Alwi dan bergelar Abu Alwi dan Abul Jadid dan menambahkan nama ketiga yaitu Bashri. Jadi anaknya 3.
Dari mana tambahan itu?
Wallahu a’lam.
Dari sini kita menyimpulkan betapa rumitnya penisbatan Ba’alwi sebagai keturunan Ahmad bin Isa. Selain nama Abdullah atau Ubaidillah yang tidak tercatat sebagai anak Ahmad bin Isa selama 543 tahun, ketika tiba-tiba muncul nama itu pun dengan kelemahan yang menyertainya. Kelemahan itu disebabkan beberapa hal:
Yang pertama munculnya nama Abdullah pada akhir abad ke-9 Hijriah tanpa menyebutkan referensi, sepertinya ia muncul dari ruang hampa.
Yang kedua ketika muncul dalam kitab Tuhfatuttalib di abad ke-10 Hijriah, penulisnya mengatakan menemukannya dari sebuah ta’liq secarik kertas.
Ketiga ketika kitab Syamsudz Dzahirah menyimpulkan bahwa Abdullah adalah Ubaidillah, tidak menyebutkan Abdullah yang mana, apakah Abdullah yang mempunyai anak Abdul Jadid seperti dalam An-Nafhah, atau Abdullah yang mempunyai anak Alwi seperti dalam Tuhfatuttolib.
An-Nafhah tidak menyebut nama Alwi sebagai anak Abdullah, Tuhfatuttolib tidak menyebut nama Abul Jadid sebagai anak Abdullah. Lalu disatukan dalam Syamsudz Dzahirah bahwa keduanya anak Abdullah.
Penyatuan Alwi dan Abul Jadid sebagai anak Abdullah menyisakan masalah karena An-Nafhah menyebutkan Bani Abi Alwi itu dari jalur Abul Jadid. Sedangkan hari ini kita dikenal Ba’alwi dari jalur Alwi, yang nama Alwi bin Abdullah tidak disebutkan dalam kitab An-Nafhah sebagai anak Abdullah.
KESIMPULAN PENELITIAN ILMIYAH
Berdasarkan data-data ilmiah yang penulis sebutkan di atas, penulis menyimpulkan bahwa sangat sukar sekali menurut takaran ilmiah untuk menyebutbahwa Ba’alwi adalah anak keturunan Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidi bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Bin Fatimah bin Nabi Besar Muhammad s.a.w.
Wallahu a’lamu bi haqiqatil hal.
PENELITIAN ILMIAH BUKAN HAQIQAT
Penelitian penulis ini bukanlah hakim atas hakikat kebenaran atau kesalahan, ia berjalan dalam kajian ilmiah berdasarkan fakta ilmiah yang bisa diteliti kembali oleh siapapun yang berkehendak melakukannya.
Allah menjadikan zaman ini zaman yang lebih mudah bagi pecinta ilmu untuk mendapatkan banyak data ilmiah, kitab-kitab yang penulis sebutkan dapat di akses langsung melalui internet.
Sebagai manusia yang lemah dengan segala kekurangan tentunya penulis bersedia mendapatkan masukan dari berbagai pihak akan penelitian penulis ini.
Wallahu a’lamu bi haqiqatil hal.
Daftar Isi